
perusahaan milik Wijaya group mencaplok beberapa perusahaan kecil, sehingga membuat sekarang menjadi lebih kuat dan membutuhkan sumber daya yang lebih banyak.
saat ini Alfian sedang berada di Wijaya Bisnis Center, gedung 20 lantai yang menjadi gedung utama kegiatan bisnis perusahaan yang di pimpin oleh ayah nya.
Jujur saja Alfian masih agak kaget dan heran dengan keberadaan Rio tadi, tiba-tiba lelaki yang telah berkhianat pada calon istri nya akan sering Bertemu Dengan nya.
Alfian sedang berada di dalam kabin lift khusus menuju ke lantai atas gedung, untuk menemui Pak Damar dan beberapa petinggi perusahaan.
" Sejak kapan pegawai tadi bekerja di sini?". tanya Alfian pada pak Danu yang setia standby di belakang nya sedari tadi
"Oh pegawai yang Anda sapa tadi maksud nya pak? ". tanya pak Danu
" ya ". Sahut Alfian
"Saya sendiri kurang tahu, tapi seperti nya dia sudah bekerja di sini dalam beberapa hari belakangan ini pak, soal nya saya baru melihat nya beberapa kali saja". Jawab Pak Danu
Karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dan akurat, Alfian pun terdiam.
Dan Ternyata diam-diam pak Danu pun ingin tahu kenapa Alfian, seorang Pewaris Wijaya Group mengenal pegawai biasa di kantor nya itu
"ngomong-ngomong Pak Alfian kenal pegawai tadi di mana, Seperti nya kalian berdua cukup saling kenal dan terlihat akrab". Tanya Pak Danu penasaran
Alfian hanya terdiam, lelaki itu tak Mungkin mengatakan, kalau pegawai itu adalah mantan suami dari calon istri nya.
"Saya cuma kenal aja tidak lebih". jawab Alfian
"Oh begitu ya Pak". Jawab Pak Danu dengan mengangguk anggukan kepala nya sebagai pertanda mengerti
tidak ada obrolan berlanjut, sampai akhir nya mereka sampai di lantai 17 gedung itu.
"silahkan Pak, ruangan meeting nya ada di sebelah sini". kata pak Danu lalu mempersilahkan Alfian untuk berjalan ke sebuah lorong menuju ke ruang meeting utama berada
__ADS_1
Alfian mengikuti arahan itu dan terus berjalan ke arah tujuan untuk segera bergabung dengan orang-orang yang sudah menunggu nya di dalam sana.
...****************...
"Jadi gimana? apa uang nya sekarang sudah ada?". Tanya Bude Tatik yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumah Bu Ningsih.
Tepat sekali dan tidak terlambat, Renteiner itu datang sesuai dengan janji yang di ucapkan oleh Manda tadi saat ia menghubungi untuk menanyakan pembayaran cicilan yang sudah jatuh tempo hari ini.
Renteiner itu tidak datang sendirian, melainkan ia membawa lima orang body guard berpawakan sangar dengan badan kekar yang akan membereskan sesuatu jika terjadi nya masalah nanti.
Glekk!!
Rio menelan ludah nya dengan susah payah, saat melihat ke arah para body guard suruhan dari Bude Tatik, Sama hal nya dengan Manda dan juga Bu Ningsih, yang merasa takut melihat wajah kelima orang berbadan besar itu.
" Yo cepetan mana uang nya, cepat kasih ke renteiner itu". Ucap Manda setengah berbisik
"Iya Yo, kamu cepetan kasih uang nya, ibu ngeri ngeliat wajah body guard nya hiiihh..". Timpal Bu Ningsih bergidik ngeri
Rio sendiri juga merasa frustasi dengan kebodohan Mawar, bisa bisa nya wanita itu membelanjakan uang yang akan ia pinjam tanpa memberitahukan nya terlebih dahulu jika uang itu akan di gunakan.
Jika Rio tahu, pasti Rio akan menahan dan tak memperbolehkan Mawar menyentuh uang itu.
" Hemm.. Anu.. Bude Tatik, ja..jadi gini.. Heemm.. apa saya bisa di beri jangka waktu satu minggu lagi untuk membayar cicilan hutang nya, saya janji saya akan membayar nya tapi berikan saya waktu satu minggu saja". Ucap Rio dengan gugup
Sorot tajam dari mata Bude Tatik membuat Rio berkeringat dingin, Bude Tatik menampilkan senyum smirk nya menatap ke arah Rio yang sedang merasa ketakutan.
berbeda hal nya dengan Manda dan Bu Ningsih yang membulatkan mata nya, mereka berdua terkejut saat mendengar perkataan dari Rio.
"Rio, maksudmu apa? bukan nya uang itu sudah ada? Sudah berikan saja kepada dia, agar urusan kita cepat selesai". Ucap Manda
" Uang nya sudah di pakai Mawar untuk berbelanja Mbak, dan tidak ada sisa sama sekali". Ujar Rio tertunduk lesu
__ADS_1
"Brengsek, jadi uang itu di gunakan nya untuk belanja? memang wanita pembawa sial!!! Mawar.. Mawar... ". Teriak Bu Ningsih memanggil menantu nya, namun yang di panggil sama sekali tak menampakkan batang hidung nya.
karena Mawar sendiri kini tengah bersembunyi di dalam kamar, karena wanita itu merasa takut akan amukan dari ibu mertua nya.
" Sudah, sudah!! Di dalam surat Perjanjian sudah tertulis, jika kalian tidak sanggup membayar cicilan pertama, rumah ini beserta tanah nya akan saya sita, Jadi kalian semua bisa kosong kan rumah ini sekarang juga, rumah ini sudah menjadi milik saya sesuai dengan isi surat perjanjian hutang yang bermaterai". ujar Bude Tatik dengan Tegas
bu Ningsih, Manda, dan Rio tercengang mendengar perkataan dari mulut renteiner itu, hal inilah yang mereka takutkan, dan akhir nya terjadi juga.
"tapi Bude.. Saya mohon, beri saya waktu satu minggu saja, saya janji, saya akan membayar nya". Ucap Rio mengiba
"tidak! saya sudah hafal dengan watak orang sepertimu, jadi saya harap, jika kalian tidak bisa membayar pinjaman itu sekaligus dengan bunga nya, maka kalian semua harus angkat kaki dari rumah ini! ". tegas Bude Tatik
" Sialan!!! wanita pembawa sia!! semua ini terjadi gara gara kamu menikah dengan Mawar, keluarga kita menjadi sial". teriak bu Ningsih
"Ibu, sudah Iklaskan saja rumah ini di ambil oleh Bude Tatik, karena kita semua juga tidak ada yang bisa membayar hutang pada nya". ujar Rio dengan pasrah
"kurang ajar kamu ya, Mawar sudah menjebak kamu dan sekarang ibu juga harus pergi dari rumah ibu sendiri!!!". Ucap bu Ningsih semakin meninggikan suara nya
" ya bagaimana lagi Bu, itu sudah tertera dari isi surat perjanjian nya". sahut Rio lagi dengan tertunduk lesu
"Saya tidak akan mau pergi dari rumah saya sendiri, sampai kapan pun saya tidak mau!!". ucap Bu Ningsih pada Bude Tatik
" jika kalian tidak mau pergi dari rumah ini, bayar uang pinjaman itu beserta dengan bunga nya!". Ujar Bude Tatik dengan nada penekanan
bu Ningsih memegangi dada kiri nya yang terasa nyeri, tiba tiba pandangan nya mulai kabur
"Brukk!!!".
Bu Ningsih ambruk ke lantai, karena tadi wanita paruh baya itu berdiri seraya berteriak mengumpati menanantu nya
" Ibu.. Bu...".
__ADS_1