
"Kamu gk di apa apain kan sama bajingan itu?". Tanya Bintang memastikan dengan wajah khawatir
Tiara hanya menggelengkan kepala nya sebagai pertanda bahwa diri nya baik baik saja, meski pergelangan tangan nya masih membekas kemerahan.
"Ya sudah, ayo kakak bantu". Ujar Bintang merangkul adik perempuan nya itu
"Heemm". Sahut Tiara seraya menganggukan kepala nya
Mereka berdua akhir nya melangkahkan kaki nya masuk ke dalam lift itu, lift tertutup dan naik ke lantai paling atas di mana ruangan CEO berada.
Sedangkan saat ini Rio pun sudah selesai berkemas kemas, dia sudah berada di depan ruangan HRD, karena ia tadi di panggil untuk segera pergi ke ruangan dimana HRD perusahaan itu berada.
Tookk..
Tokk..
"Masuk". Jawaban dari dalam.
Rio pun membuka pintu Ruangan HRD, dia memasuki ruangan itu dengan langkah yang gontai. Rio nampak lesu dan murung saat ini, bagaimana tidak? Dia sudah di pecat dari perusahaan Mahesa padahal jabatan nya sendiri adalah seorang manager dengan gaji yang cukup fantastik.
"Pak Rio, ini gaji dan juga tunjangan yang bapak terima. Terimakasih sudah bekerja keras selama di perusahaan ini, semoga kehidupan anda lebih baik setelah keluar daribkantor sini". Ujar sang HRD seraya menyodorkan amplop tebal yang berisikan uang itu
"Terimakasih Pak, saya pamit undur diri. Permisi". Sahut Rio dengan nada lemah
Rio keluar dari Ruangan itu dan berjalan lesu menuju ruangan nya untuk mengambil barang barang nya, fikiran nya semakin mumet.
Bagaimana tidak? Dia sendiri harus mencari uang untuk menikah dengan Mawar, dan sekarang diri nya di pecat dari perusahaan.
Dia sendiri sudah mencoba menahan nahan Mawar untuk tidak mempercepat pernikahan mereka berdua, karena Rio akan mencari modal untuk menikahi nya. Tapi sekarang dia harus di pecat dari kantor, bagaimana Rio akan mendapatkan uang? Jangankan untuk menikah dengan Mawar, bahkan untuk kehidupan nya sehari hari ia sendiri masih bingung.
__ADS_1
Uang pesangon yang ia terima hanya ada 30 juta saja, tentu itu tidak akan cukup untuk memenuhi syarat dari orang tua Mawar.
Sedangkan gaji nya selama ini sudah habis untuk keperluan Keluarga nya dan juga Mawar, terkadang Mawar meminta hal hal yang tidak wajar jadi mau tak mau Rio harus menguras lebih dalam uang nya, sehingga kini habis tak tersisa. Hanya ada sisa gaji dan pesangon yang kini ia punya.
Rio berjalan dengan gontai, ia tertunduk lesu seraya membawa barang barang nya menuju mobil yang ia parkirkan di parkiran Gedung Kantor itu.
Rio memasukkan seluruh barang barang nya begitu saja ke dalam mobil, setelah selesai diri nya langsung masuk dan langsung melajukan mobil nya menyusuri jalanan yang tidak terlalu padat karena suasana masih siang hari.
Dia mengemudikan mobil nya dengan perasaan yang kacau, kenapa hidup nya jadi seperti ini sekarang. Bahkan dulu saat masih bersama dengan Tiara, diri nya sama sekali tidak pernah kesulitan tentang masalah keuangan.
Memikirkan Tiara, dia jadi mengingat kilas balik masa lalu saat berumah tangga dengan Tiara. Rio teringat tentang wanita itu yang selalu penurut, ceria, dan selalu ada untuk nya. Betapa indah nya dulu saat masih bersama dengan Tiara, namun sekarang Rio jadi menyesali perbuatan nya di belakang Tiara. Rio membayangkan, andai saja jika diri nya tidak bermain api di belakang wanita itu, sudah pasti ia saat ini akan menjadi seorang pimpinan perusahaan besar, bahkan kehidupan nya akan berubah menjadi lebih baik.
Namun itu semua hanya hayalan, Kini Rio sedang mulai menerima karma yang akan ia tuai.
Tak terasa mobil yang di kendarai Rio sudah memasuki pekarangan Rumah nya, Rumah nya saat ini nampak sepi. mungkin Ibu dan Kakak nya sedang tidur siang seperti biasa nya, kalau suami dari kakak nya itu, ia sendiri juga tidak tahu apa aktifitas nya selama ini, yang ia tahu jika suami dari Mbak Manda juga bekerja di perusahaan kecil.
Rio segera turun dari mobil nya, dan berjalan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah.
Pintu Rumah terbuka bersamaan dengan terbuka nya pintu kamar dari Bu Ningsih.
"Lohh.. Yo, kok siang gini kamu udah pulang?". Tanya Bu Ningsih yang heran melihat Rio siang siang gini udah berada di rumah
Rio terus berjalan dan menghempaskan bobot tubuh nya ke kursi sofa ruang tamu, dia tidak menjawab pertanyaan dari Ibu nya itu.
Huuuuhhh..
Rio menghela nafas dengan berat menghempaskan beban yang seakan berada di pundak nya, seolah olah diri nya kini sedang mempunyai masalah yang sangat berat yang tidak pernah di alami oleh orang lain.
"Yo, Ibu nanya kok malah gk di jawab. Kamu tumben udah pulang jam segini?". Tanya ulang Bu Ningsih
__ADS_1
Huuhh..
Lagi lagi suara hempasan nafas Rio terdengar jelas
"Rio di pecat Bu, dari kantor". Ujar Rio lemas
"Apaa? Apaa Yo, kamu gk bercanda kan. Beneran kamu di pecat Yo?". Tanya Bu Ningsih syok mendengar pernyataan dari anak lelaki nya itu
"Iya Bu, Rio di pecat sama Tiara". Ucap Rio masih tertunduk lesu dengan nada yang lemah
"Emang kamu ngelakuin kesalahan apa sampek sampek di pecat sama Tiara?". Nada suara Bu Ningsih sedikit meninggi mendengar jika anak lelaki nya di pecat oleh Tiara
Rio sendiri gelagapan mendengar pertanyaan dari Ibu nya itu, Gk mungkin kan kalau Rio bilang jika diri nya di pecat karena Rio sendiri yang mengganggu Tiara bahkan sampai mencengkal kuat lengan Tiara dan ketahuan oleh Bintang.
"Hemm Rio sendiri juga gk tahu Bu, kenapa Tiara tiba tiba memecat Rio seperti ini". Ucap Rio berbohong
"Wah emang dasar ****** sialan ciihh, ayo kita sekarang temui wanita sialan itu Yo. Ibu bakal ngasih perhitungan sama wanita sialan itu, bisa bisa nya dia memecat kamu sembarangan". Ucap Bu Ningsih emosi ketika mendengar nama Tiara
wanita paruh baya itu tidak terima jika anak nya di pecat begitu saja, mentang mentang perusahaan itu milik nya jadi bisa se enak udel nya memecat Rio. Fikir Bu Ningsih
"Ayoo, Ayo sekarang kita pergi Yo". Teriak Bu Ningsih mengajak Rio untuk segera bertemu dengan Tiara
Manda yang berada di dalam kamar dengan posisi tertidur, sontak bangun saat mendengar teriakan Bu Ningsih yang keras. Manda bingung kenapa Ibu nya teriak teriak seperti itu, dia gegas menuruni tempat tidur nya dan berjalan mendekati suara daribteriakan Bu Ningsih.
"Ayoo, kita gk bisa biarin wanita ****** itu semena mena. Ciihh, sok paling berkuasa ****** sialan!". Teriakan Bu Ningsih sangat keras di karenakan emosi yang tengah memengaruhi diri nya saat ini
"Bu, kenapa Ibu teriak teriak siang gini sihh, Ibu juga kenapa marah, apa ada masalah?". Ucap Manda bingung saat menatap wajah Ibu nya yang tengah marah marah
"Rio adik mu ini di pecat dari kantor oleh Tiara, padahal Rio sendiri tidak tahu apa apa. wanita sialan itu memecat nya tiba tiba". Ucap Bu Ningsih masih dalam keadaan Marah
__ADS_1
"Apaa? Memang dasar wanita murahan, bisa bisa nya dia memecat Rio tiba tiba. Ini gk bisa di biarin Bu! Ayo kita labrak wanita sialan itu!". Ucap Manda terpancing emosi