Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Masalah Amplop


__ADS_3

pesta pernikahan Rio dan juga Mawar kini sudah selesai, mereka berdua sedang bersiap-siap untuk beristirahat.


di dalam kamar yang sudah di hias sedemikian rupa itu, mawar sedang melepas gaun nya dan juga membersihkan make up nya yang di bantu oleh Eva.


saudara nya itu mengerjakan pekerjaan nya dalam diam, karena dia merasa jika mood mawar saat ini sedang dalam keadaan buruk.


setelah memastikan kalau wajah mawar bersih dari make up dan melihat peralatan nya sudah di bereskan, Eva pun langsung bergegas keluar dari kamar setelah berpamitan dengan mawar meninggalkan sepasang pengantin baru itu di dalam kamar.


"Mas, hari ini capek sekali ya Mas". Ujar Mawar memecah keheningan karena sedari tadi Rio hanya terdiam


" Eee.. ehh Iya sayang capek, Mas Bahagia, Akhir nya kita sudah Sah menjadi Suami dan istri ". Jawab Rio Tersenyum dengan memaksa, karena saat ini ia sedikit tidak fokus


pikiran Rio Masih memikirkan Mantan istri nya yang kini sudah berubah menjadi lebih Glow up, dan juga memikirkan kedekatan Mantan istri nya itu dengan Alfian Wijaya, karena Rio masih tak percaya dan tak Terima jika Tiara saat ini memiliki hubungan dengan Alfian.


Tok... Tokk... Tok...


Terdengar suara ketukan pintu berulang ulang kali, bahkan suara ketukan itu sangat mengganggu.


"siapa sih ganggu aja deh". Ucap mawar lalu langsung menuju ke arah pintu untuk melihat Siapa yang datang, sedangkan Rio sendiri langsung bergegas untuk masuk ke dalam kamar mandi


Ceklek.. Pintu kamar pun terbuka, dan terlihat Bu Ningsih tengah berdiri di sana


"ibu? ada apa Bu? ". tanya mawar karena dia merasa terganggu dengan kehadiran bu Ningsih


"Oh gini lo mawar, kotak amplop nya tadi di taruh di mana ya? " ujar bu Ningsih dengan senyum-senyum yang nggak jelas


"sudah di amankan oleh ibu, Memang nya kenapa ya Bu? " sahut mawar

__ADS_1


"loh Kok di ambil sama Bu lastri sih, seharus nya di bagi dua dong, kan di sana juga ada uang Rio. Kenapa buat ibu mu semua?". ujar bu Ningsih yang langsung naik pitam, dia merasa telah di dahului oleh besan nya itu.


padahal kan jika pernikahan di adakan di rumah perempuan, otomatis uang amplop itu akan menjadi milik tuan rumah yaitu Pak Ahmad dan juga Bu Lastri.


jika bu Ningsih memang ingin sekali menerima amplop, maka sebaik nya dia melakukan acara ngunduh Mantu sendiri di rumah nya dan membuat pesta besar-besaran. jadi dia bisa bebas untuk mengundang siapapun dan bisa menerima Amplop yang sedari tadi dia bicarakan


"bukan di ambil sama ibu, bu. Tapi dinamankan, besok baru kita hitung bersama-sama dan uang nya juga untuk membayar kekurangan bila ada kekurangan pada pesta ini dan sisa nya bisa untuk aku pergi berbulan madu bersama mas Rio". ujar mawar membuat bu Ningsih berdecak kesal


"Oh ya udah deh kalau gitu". ujar Bu Ningsih yang langsung pergi sambil menggerutu


Mawar pun langsung Menutup pintu kamar nya dengan perasaan yang benar-benar kesal terhadap Mertua nya itu, harus nya di hari pernikahan nya ini, wanita itu merasa Bahagian tapi kali ini ia sangat merasa kesal.


...****************...


kini Rio telah selesai melakukan ritual mandi nya, Begitu juga dengan mawar yang keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit di tubuh nya, sehingga membuat jiwa kelaki lakian Rio merasa tertantang untuk segera menunaikan hasrat nya yang sudah beberapa lama dia pendam.


hati Rio memang tak bisa di bohongi, Entah mengapa pada saat seperti ini dia malah memikirkan Tiara. Rio malah melihat mawar kini berubah menjadi Tiara, tiba tiba Rio juga teringat dengan malam pertama nya dengan Tiara pada waktu itu.


sebenar nya Rio sangat mencintai Tiara, Namun karena hasutan Bu Ningsih dan juga Mbak Manda, yang membuat Rio menjadi Elfeel pada Tiara


Padahal di Mata Rio, Tiara adalah seorang istri yang sangat baik dan juga pengertian, yang tak pernah menuntut apapun itu kepada Rio.


"Mas mau sekarang? ". ujar mawar menyadarkan Rio dari lamunan nya


"Eh kamu, Kamu cantik sekali sayang". ujar Rio yang langsung membuat mawar tersenyum senang


mereka berdua kini telah duduk di sisi ranjang dan Rio juga hanya mengenakan celana pendek nya sedangkan mawar hanya memakai handuk saja untuk menutupi tubuh polos nya

__ADS_1


"Makasih mas". ujar Mawar tersenyum dengan malu malu


Dan adegan itu pun terjadi jeng jeng jeng...


...*...


...****************...


sementara di luar kamar pengantin, terjadi perdebatan antara Bu Ningsih dan juga Bu lastri karena perihal uang amplop, Bu Ningsih selalu bertanya kapan dan dimana akan membuka uang amplop itu.


"Begini ya Bu, sedari tadi rasa nya tidak elok jika Ibu terus terusan membicarakan mengenai amplop, amplop, dan amplop. Jujur saja saya mulai Jengah mendengar nya". kata Bu lastri dengan penuh penekanan


bu Ningsih pun langsung terdiam, dia sama sekali tidak menyangka jika Bu lastri akan menyahuti kata-kata nya barusan dengan kalimat-kalimat pedas yang sangat menyakitkan di telinga nya, apa salah jika bu Ningsih meminta untuk ikut dalam acara membuka amplop nanti, kenapa Bu lastri harus begini sensi nya kepada diri nya. Fikiran Bu Ningsih menerka nerka


"masalah nya apa sih? emang nya nggak boleh ya kalau saya ikut buka amplop, Emang ada larangan mengenai hal itu. Saya juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini loh, Terus kenapa saya harus di beda-bedakan begini?". tanya bu Ningsih dengan nada yang tidak suka


"Maaf ya bu, tidak ada yang membeda-bedakan antara keluarga kami dan juga keluarga Ibu. karena sejati nya ini memang bukan ajang perlombaan, Saya hanya berbicara menurut logika saja. Karena tidak pernah saya temui ada seseorang yang ingin ikut dalam acara pembukaan amplop, Jika dia bukan termasuk dalam orang yang bersangkutan". Ucap Bu Lastri dengan nada yang lebih tegas


"nggak bersangkutan gimana? mohon maaf ya Bu lastri, Ibu saya ini adalah ibu kandung dari Rio, pengantin pria, laki laki yang baru saja menikahi anak anda. lalu Apakah ibu saya tidak punya hak? Kalian juga melakukan resepsi pernikahan ini dengan menggunakan uang yang kami berikan kan, jadi Sudah sepantas nya jika kami juga mempunyai hak untuk ikut menyaksikan kegiatan buka amplop itu!". Ujar Manda kali ini


"bu Ningsih.. Sebenar nya saya tidak enak ngomong begini, Dari tadi kalian berdua hanya membicarakan amplop, amplop, dan amplop. Jujur saja, saya juga Memang merasa sangat terganggu akan hal ini, karena seolah-olah bu Ningsih ini hanya menunggu momen di mana Ibu mendapatkan amplop dari para tamu undangan ataupun, di mana Ibu bisa melihat kami membuka amplop. Bu ini adalah hari pernikahan anak kita, dan kami yang menyelenggarakan pesta nya. setiap tamu undangan yang datang ke sini apapun yang mereka bawa itu sudah sah menjadi milik kami, tidak ada keharusan untuk kami membagikan kepada pihak kalian". ujar Bu Lastri dengan penuh penekanan terhadap besan nya itu


"dari tadi saya sudah cukup Bersabar ya untuk tidak membicarakan hal ini, tetapi kesabaran saya sudah habis. saya tidak mau lagi mendengar ada kata-kata mengenai amplop ataupun sejenis nya, Ibu mengertikan?". tanya Bu lastri lagi


Bu lastri dan Manda merasa sangat marah dan juga merasa terhina akan ucapan yang di ucapkan oleh Bu lastri itu, meski dengan kata-kata yang lembut dan juga sopan, mereka berdua merasa jika Bu Lastri saat ini sedang mengolok-olok dan juga sedang menjatuhkan harga diri mereka


padahal bu Ningsih berniat setelah mengetahui seluruh jumlah isi amplop yang Bu lastri dan juga Pak Ahmad terima, Bu Ningsih ingin meminta sebagian. karena dia juga merasa mempunyai hak di situ, tetapi Bu lastri menunjukkan penolakan yang cukup keras. dan hal itu tentu saja membuat Bu Ningsih menjadi sangat amat kesal

__ADS_1


__ADS_2