Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

kini mawar sedang duduk di ruang tamu milik bu Ningsih, setelah pulang dari tempat fotocopy milik Bang Jojon tadi.


jam di dinding sudah menunjukkan pukul 04.00 sore yang menandakkan jika wanita itu tadi berada di tempat milik Bang Jojon hampir menghabiskan waktu sekitar satu jam setengah saja, dalam waktu yang sangat singkat seperti itu entah kenapa mawar merasa tubuh nya sangat lelah.


Apalagi setelah kepulangan mereka dari tempat tadi, mawar bisa melihat wajah dari bu Ningsih dan juga Manda yang menyambut mereka dengan Tatapan yang tidak bersahabat. Entah perasaan mawar saja atau memang tidak, akan tetapi sesekali dia bisa menemukan tatapan tajam dan juga Bengis dari raut wajah yang di tunjukan oleh mereka berdua saat ini.


Memang mereka masih tertawa dan berbicara dengan nya tampak biasa saja, akan Tetapi entah kenapa tetap saja seperti ada yang berbeda.


namun setelah dia memikirkan apa salah nya sehingga membuat kedua wanita itu marah, Mawar sendiri masih belum bisa juga untuk mengetahui Sebenar nya apa yang terjadi di antara mereka, hingga bu Ningsih dan juga Manda menunjukkan wajah yang seperti itu.


"jadi Gimana? sudah selesai sesi foto saat di tempat nya Bang Jojon tadi?". tanya Mbak Manda tiba-tiba


"Udah Mbak, kami juga sudah request kalau foto itu akan di edit seolah kami berdua sedang melakukan sesi photoshoot di pantai". sahut Rio dengan cepat


"Oh ya udah Bagus kalau begitu". sahut Manda dengan nada yang sedikit Ketus


"Oh ya, kalau perkara undangan udah siap War? Soal nya kan waktu nya mepet sekali hanya 2 hari dan lusa kalian sudah menikah, jadi undangan itu harus sudah di sebar, dan satu lagi, gimana dengan saudara-saudara kamu, sudah dikasih tahu semua kan tentang acara pernikahan kamu? ". tanya bu Ningsih yang ingin tahu

__ADS_1


Tentu saja bu Ningsih berbicara seperti itu, karena dia sudah sepakat dengan Manda ingin menyuruh Rio meminta uang amplop di pesta pernikahan mawar. dan juga saat Rio pulang setidak nya dia pulang ke rumah ini dengan membawa sesuatu yaitu uang amplop pesta pernikahan nya.


jadi semakin banyak orang yang datang maka semakin banyak orang yang akan menyumbang, bukan nya seperti itu kan? tadi bu Ningsih sempat ragu dengan ide itu karena biasa nya amplop hasil sumbangan tamu undangan itu untuk kedua orang tua yang sedang melaksanakan pesta tersebut.


tapi Manda sendiri langsung meyakinkan ibu nya itu, kalau nanti mereka bisa menyuruh Rio agar berbicara dengan mawar. biar mawar saja yang meminta hasil seluruh sumbangan dari tamu undangan itu untuk nya saja, lagian kedua orang tua nya pasti akan memberi apa yang mawar minta bukan? apalagi Mawar merupakan anak perempuan tunggal.


jika uang nya sudah di tangan mawar, maka arti nya uang itu juga milik Rio bukan? dan uang yang Rio miliki maka otomatis juga akan menjadi milik Manda dan juga bu Ningsih, Bukankah seperti itu? Bukankah anak harus berbakti kepada orang tua nya? salah satu nya dengan memberi apa yang di inginkan orang tua, begitulah pemikiran Bu Ningsih.


"Udah kok Bu, tadi pagi Bapak sudah mengurus semua nya. dia sudah minta ke percetakan untuk menyediakan undangan sebanyak Seribu dan langsung di sebar oleh orang-orang, Jadi kalau perkara undangan seperti nya sudah di selesaikan dengan baik". ujar mawar menjelaskan kepada bu Ningsih


"Iya emang lumayan banyak sih mbak, soal nya kan bapak punya banyak kenalan dan kami juga keluarga besar. ya lumayan banyak juga, Dan memang Bapak berniat untuk mengundang semua kolega nya karena ini kan pernikahan aku sebagai anak tunggal Bapak, jadi Bapak menginginkan pernikahan ku ini menjadi pernikahan yang akan di hadiri oleh banyak orang". kata mawar dengan nada yang bangga


"Wah kalau begitu bagus, memang begitu sih seharus nya. karena kamu kan anak tunggal dan anak perempuan satu-satu nya, jadi sudah pasti pernikahan kamu ini akan menjadi pernikahan yang sangat mewah tahun ini. apalagi keluarga kamu Itu kan keluarga terpandang, Kamu adalah Putri Seorang kepala desa jadi memang harus terlihat seperti itu kan, jadi pernikahan kalian bisa di ingat oleh semua orang". ujar Manda menjelaskan dengan panjang lebar


"Iya dong mbak, maka nya aku minta tambahan mahar sama mas Rio. Ya wlaupun bukan sebuah Berlian setidaknya 74 gram emas itu cukup banyak ya daripada mahar perempuan-perempuan lain nya". ujar mawar


ucapan dari mawar itu langsung membuat bu Ningsih dan juga Manda kemudian diam dan saling berpandangan satu sama lain, Mereka menatap Rio yang saat ini sedang memainkan ponsel nya. karena mawar berbicara seperti itu mereka kembali teringat dengan pembicaraan bu Ningsih dan juga Rio di telepon tadi

__ADS_1


laki-laki itu mengatakan kalau mereka tadi dari toko Emas saat pulang tadi, Apakah itu arti nya mereka sudah membeli emas tambahan untuk mahar mawar? Hal itu membuat bu Ningsih dan juga Manda terasa lemas mendengar nya


tetapi bu Ningsih juga tersadar untuk saat ini dia tidak bisa membiarkan Rio dan juga Manda bersih tegang, karena uang yang tersisa di gunakan oleh Rio untuk membeli perhiasan tersebut, maka dari itu wanita paruh baya itu langsung saja mengambil alih pembicaraan agar tidak terjadinya baku hantam antara Rio dan juga Manda saat ini, Bu Ningsih langsung bertanya kepada mawar mengenai Seberapa jauh persiapan keluarga mawar untuk pesta yang akan di adakan lusa nanti, tapi tiba tiba diri nya teringat akan sesuatu.


"Oh ya Yo, ngomong-ngomong kamu udah ngundang Tiara belum? Soal nya Ibu mau dia melihat kalau kamu dan juga Mawar itu sudah bahagia bahkan kalian sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai seorang anak". ujar bu Ningsih dengan tiba-tiba


"emang perlu ya Bu ngundang Tiara". ujar Rio yang bertanya


"perlu lah Yo Biar dia tahu kalau kamu itu sudah bahagia, jadi kita undang saja Dia. biar dia menyaksikan Bagaimana mewah nya pesta pernikahan kalian, Ibu yakin pasti nanti dia nangis di pojokan". Ujar Bu Ningsih sambil tertawa


"Wah bener tuh Bu, kita undangan si Tiara itu. Biar tahu rasa dia, emang dia siapa? baru punya perusahaan gitu aja gaya nya udah sok-sokan". ujar Manda menimpali


"Bener mas kita undang aja mantan istri mu itu, biar dia menyaksikan kebahagian kita?! ". Ujar Mawar sambil tersenyum ke arah Rio


(Benar juga apa yang di katakan, aku juga bisa membuktikan jika aku bisa hidup tanpa Tiara, pasti Tiara akan merasa menyesal karena telah menolak rujuk dengan ku. dan dia akhir nya akan memohon mohon padaku untuk kembali lagi bersama nya). Ujar Rio dalam hati nya


" Ya sudah, Nanti kita Undang Tiara". Ujar Rio seraya tersenyum senyum sendiri memikirkan jika Tiara merengek meminta kembali lagi bersama nya

__ADS_1


__ADS_2