
Setelah mendapat ancaman dari Mawar tadi, Rio benar benar merasa kalut. Pasal nya ia sendiri kini tengah kebingungan sebab diri nya baru saja di pecat dari pekerjaan satu satu nya, jangan kan untuk menikahi Mawar, untuk biaya kehidupan nya beberapa bulam kedepan saja dia bingung.
Setelah Mawar pulang dari Rumah nya, Rio langsung masuk ke dalam kamar nya. Lelaki itu merebahkan tubuh nya pada ranjang tempat tidur, manik mata nya menatap ke arah langit langit kamar.
Dia nampak berfikir bagaimana dalam dua hari dia bisa mendapatkan uang Hantaran dan juga Mahar untuk pernikahan nya, Tak sengaja Rio tertidur pulas setelah lelah memikirkan cara untuk mendapatkan uang.
Ke esokan hari nya, dari pagi sampai siang Manda berada di dalam kamar nya. Dia tidak masak karena Alex suami nya dan juga Risa anak nya tengah memginap di rumah Ibu mertua nya.
Jadi Manda bisa bersantai santai, karena dalam satu hari ini dia tidak akan di recoki oleh anak nya yang nakal dan cerewet itu.
Sebenar nya Manda tidak ingin mengatai anak nya itu dengan julukan nakal, namun kenyataan nya memang benar seperti itu. Hari ini dia merasa beruntung karena Risa dan juga suami nya berkunjung ke rumah mertua nya.
Saat ini diri nya juga tengah kebingungan tentang masalah uang untuk pernikahan adik nya itu, pasal nya setelah mendengar cerita Rio tadi tentang ia menyanggupi dalam dua hari akan memberikan uang hantaran itu.
Kepala Bu Ningsih dan Manda kompak berdenyut hebat memikirkan masalah ini.
Manda pun hendak keluar dari kamar nya untuk mencari angin segar, saat ia membuka pintu kamar nya sudah terlihat Rio dan juga Bu Ningsih di ruang tamu sedang berbicara.
__ADS_1
"Gimana dong Bu, dalam 2 hari aku harus bisa mendapatkan uang itu. Jika tidak keluarga kita akan malu Bu, apalagi Ibu tahu sendiri Pak Ahmad seorang kepala desa, pastinya dia memiliki kekuasaan untuk menjebloskan Rio ke penjara, Rio gk mau di penjara Bu". Ucap Rio frustasi
"Ya mau gimana lagi Yo, lagian keluarga Mawar itu kebanyakan Minta. Udah anak nya hamil di luar nikah, ehh.. Bukan nya langsung di nikahkan secepat nya, tapi malah minta sesuatu yang sangat sulit untuk keluarga kita!". Timpal Manda mencibir dan ikut bergabung
Rio kembali menghela nafas panjang, apa yang di katakan oleh kakak nya itu adalah suatu kenyataan. Memang keluarga Mawar benar benar sangat keterlaluan, mereka bahkan tidak memikirkan kondisi Rio sedikit pun.
Keluarga Mawar itu seakan tidak mau tahu dari mana Rio akan mendapatkan uang Hantaran dan Juga Emas yang mereka pinta, bukan nya membantu, mereka malah melakukan hal yang sebalik nya. Mereka terus terusan menekan Rio , agar segera menuruti permintaan mereka dan secepat nya untuk menikahi Mawar.
Sebenar nya jika keluarga Mawar sedikit saja mau membantu Rio, maka semua nya akan berjalan dengan sangat mudah. Jelas, keluarga Mawar mempunyai harta yang cukup. Bahkan jika hanya untuk melakukan resepsi pernikahan yang mewah, tentu saja keluarga Mawar sangat mampu.
Tetapi sayang nya seperti yang Manda katakan tadi, keluarga Mawar malah mempersulit Rio. Padahal jelas jelas Mawar sudah hamil di luar nikah, dan usia kandungan nya saja sudah hampir memasuki usia enam bulan.
Namun dengan secepat kilat Rio langsung menggeleng geleng kan kepala nya, dia merasa tersadar akan sesuatu.
"Udah lah Mbak, gk perlu di bahas yang itu. Mbak tahu sendiri meskipun Mawar hamil di luar nikah, Mawar adalah anak orang kaya. Ya tentu saja keluarga mereka mempunyai harga diri yang tinggi, dan sudah sepatut nya memang aku memenuhi permintaan mereka". Ucap Rio pada akhir nya.
Manda yang mendengar perkataan Rio itu langsung terdiam, niat nya hanya ingin memberi tahu panjang lebar langsung terhenti seketika. Mata nya langsung melirik ke arah Rio berada, dan dapat di lihat jika adi kandung nya itu sedang memasang wajah yang murung.
__ADS_1
Setelah meningmbang nimbang ucapan nya, ia bertekad tidak akan mempengaruhi adik nya itu dengan ucapan nya. Dia juga merasa kasihan terhadap adik nya itu, karena seperti nya dia sedang mengalami masa masi berat akhir akhir ini.
"Iya sih, bener apa yang kamu bilang Yo. Andai saja keluarga kita tidak kekurangan, maka tidak ada salah nya kita memberi yang lebih untuk Mawar". Ujar Manda akhir nya memutuskan untuk mendukung adik nya itu.
"Iya mbak, tapi darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu Mbak? Kekurangan uang yang kita butuhkan masih sangat banyak, bahkan ketika tadi malam aku hitumg hitung kekurangan uang yang kita butuhkan masih sekitar ratusan juta. Uang yang aku miliki hanya ada emput puluh juta saja, itu uang pesangon ku kemarin". Ujar Rio sambil mendesal lelah
"Emang nya belum ada kabar dari pihak bank ya Bu?". Tanya Manda dengan cepat ke arah Bu Ningsih yang sedari tadi terdiam, Manda yakin jika wanita paruh baya itu juga sedang memikirkan masalah ini
"Gini aja Bu, ayo kita coba datangi ke bank lagi, untuk bertanya mengenai pinjaman Ibu itu. Kalau kuta berdiam diri seperti ini saja juga tidak ada guna nya, setidak nya kita harus berusaha dan memastikan nya". Kata Manda dengan bijak
"Hemm itu juga yang sudah aku bilang sama Ibu, Mbak. Kalau pinjaman itu keluar, ya syukur. Tapi kalau pinjaman itu gk keluar, kita harus cari di mana lagi uang itu Mbak? Uang ratusan juta itu gk sedikit loh mbak, dari siapa kita akan mendapat uang sebanyak itu?". Ujar Rio bertanya dengan nada lirih.
Sebelum nya Manda dan Bu Ningsih sudah mengusulkan untuk menjual Mobil Rio, tapi dengan tegas lelaki itu menolak nya, dengan alasan ia gengsi jika kemana mana tak memakai mobil, apalagi diri nya di komplek ini terkenal sebagai pemuda sukses dengan jabatan manager.
Manda, Rio, dan juga Bu Ningsih kembali terdiam dengan fikiran mereka masing masing. Bahkan hanya tersengar suara jarum jam berputar putar secara konstan.
Mereka bertiga merenungi dan nampak terdiam memikirkan yang ada pada fikiran nya masing masing.
__ADS_1
Sekarang mereka bertiga sedang harap harap cemas menunggu tanggapan pinjaman dari Bank apakah di setujui atau tidak.
Tetapi jauh dari lubuk hati yang paling dalam, secara bersamaan. Mereka bertiga mendoakan hal yang sama, yaitu pinjaman mereka di setujui oleh pihak bank.