
Hari berganti hari, tak terasa sudah satu bulan lama nya aku hidup tanpa Mas Rio. Aku kira selama ini, aku tak akan bisa hidup tanpa lelaki itu.
Namun secara perlahan aku juga bisa tanpa Mas Rio, Rasa cintaku sudah terkikis sedikit demi sedikit untuk nya, final nya ketika diriku mengetahui jika Mawar telah mengandung anak dari Mas Rio.
Memang benar saat aku mendengar kabar itu duniaku seperti Runtuh tak menyisakan puing puing cinta, hanya ada rasa sakit, sesak, nyeri di hati ini.
Tapi saat ini I'm Fine and I'm Happy, entah kenapa setelah berpisah dari Mas Rio, langkah ku seperti terasa sangat ringan, tidak ada lagi beban yang sangat berat yang berada di pundak ku.
Hari hari ku lewati dengan menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan di kantor, aku harus mempertahankan perusahaan warisan dari Papa dan Mama. Aku tak akan membiarkan kerja keras Papa ku ini sia sia begitu saja, maka dari itu aku selalu semangat dalam belajar tentang perusahaan.
Karena bisa di bilang aku baru pertama kali nya mencoba untuk memimpin Perusahaan, jadi aku pun harus banyak belajar dari Kakak ku.
Sebenarnya Kak Bintang sendiri malas mengurusi Perusahaan bahkan menolak nya dengan keras di depan Mama dan Papa. Oleh karena itu Perusahaan Mahesa di wariskan kepadaku.
Kak Bintang sendiri sangat menggemari lukisan dan ingin menjadi seorang pelukis hebat.
Namun impian nya itu harus ia kubur dalam dalam, karena waktu itu aku jatuh cinta dan menikah dengan lelaki brengsek, yang tak lain adalah Mas Rio.
Hari ini aku bekerja seperti biasa nya, ada beberapa jadwal meeting penting dengan klien.
Bahkan pertemuan itu di lakukan di salah satu cafe ternama, jadi aku beserta Kak Bintang bergegas menuju cafe tersebut, guna untuk menghadiri pertemuan di luar kantor itu.
Setelah selesai meeting dan klien pun telah pergi, ku lihat Alvian sedang berada juga di sini, mungkin dirinya ada pertemuan juga di cafe ini.
"Al". Sapaku dengan nada nyaring seraya melambaikan tangan pada nya
"Eh kamu Ra, hallo bro". Ujar Alvian saat melihatku bersama Kak Bintang
"Ngapain Lo disini, meeting juga lo". Tanya Bintang
"Biasa Bro hehe". Ujar Alvian dengan terkekeh
Kak Bintang dan Alvian memang sudah sedari dulu saling mengenal, tepat nya saat Alvian menjadi sahabatku dan sering mampir ke rumah ku untuk mengerjakan tugas kuliah.
__ADS_1
Karena dulu Alvian sama sekali tidak mempunyai teman, sebab dulu ia sangat culun hingga banyak mahasiswa menganggap dia aneh.
Mereka berdua pun semakin dekat layaknya sahabat, karena circle bisnis yang mempertemukan mereka, bahkan mereka berdua di kenal sebagai rekan kerja yang solid satu sama lain.
Alvian pun ikut bergabung duduk bersama kami, namun Kak Bintang harus pergi sebab ada urusan kantor yang lain nya.
Hingga tinggal aku dan Alvian di sini, kami berdua pun mengobrol menceritakan hal dulu, saat kami berdua masih menjadi salah satu mahasiswa di kampus.
"Ciye.. Janda Kaya". Ujar Alvian meledek menggoda ku dengan suara nyaring
Banyak sorot mata melirik ke arah kami berdua, sontak langsung ku pukul lengan nya pelan.
Bisa bisa nya Alvian berbicara seperti itu dengan nada keras di tempat keramaian.
Alvian tersadar di mana mereka berada, Lelaki itu pun kembali terlihat santai dengan wajah datar dan dingin nya.
Lama Aku dan Alvian saling mengobrol dan aku pun memutuskan untuk kembali saja ke kantor. Ternyata Alvian ikut bersama ku, dia bilang ada suatu pekerjaan yang ingin ia bahas dengan Kak Bintang. Aku pun mengangguk dan bergegas pergi dari Cafe ini.
Kami berdua pun menuju kantor dengan membawa mobil Alvian, sebab saat kemari aku datang bersama Kak Bintang, dan dengan seenak nya Kak Bintang meninggalkan ku berdua dengan Alvian, emang dasar Abang lucknut.
Terlihat beberapa karyawan pergi meninggalkan perusahaan untuk sekedar beristirahat dan makan siang, karena saat aku ke.bali ke kantor, saat ini jam sudah menunjukan waktunya jam istirahat.
Kami berdua berjalan menyusuri lorong kantor dan akan menuju lift.
Banyak sorot mata yang mengarah padaku dan Alvian, mungkin mereka mengira kami ada "something" karena kedekatan ku dan Alvian. Mereka memandangi kami berdua dengan tatapan pensaran.
Saat aku dan Alvian berjalan menuju ke arah Lift berada, dapat ku lihat dari kejauhan pintu lift karyawan terbuka. Ku dapati seseorang yang membuat hari hari ku serasa sangat menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Mas Rio, ku lirik ke arah Alvian.
Ternyata lelaki itu pun menyadari akan ada nya Mas Rio, tapi kami berdua bersikap cuek seolah olah tak melihat kehadiran nya.
Aku dan Alvian pun mengobrol santai sambil berjalan ke arah Lift berada, Mas Rio masih tetap menatap ke arahku tanpa berkedip.
Entahlah Dia kenapa, apa mungkin dia Terpesona sekarang denganku? Hehe terlalu Percaya diri nya aku, jika mas Rio terpesona dengan ku, mana mungkin dia berselingkuh di belakang ku dan mengkhianati janji suci pernikahan kami.
__ADS_1
Aku dan Alvian pun berjalan melewati Mas Rio yang masih menatapku, tetapi aku tidak peduli lagi dengan lelaki itu, terus ku langkahkan kaki ku memasuki pintu lift yang terbuka bersama Alvian.
Saat sudah berada di dalam lift, sayup sayup ku dengar teriakan dari Mas Rio. Namun pintu lift sudah tertutup, bisa ku lihat dari celah kecil sebelum pintu lift tertutup rapat. Mas Rio berada di depan ku saat ini, dengan nafas yang tersengal sengan
"Wih mantan suami mu gamon tuh, ngejar sampai segitu nya Ra". Ujar Alvian
"Ah bodo lah, gk usah bahas dia". Sahutku kepada Alvian karena aku malas jika harus membahas tentang Mas Rio
Bukan karena aku Tidak bisa Move on atau melupakan nya, melainkan masih ada sedikit rasa nyeri di hati sebab perlakuan nya dan kebodohan ku yang mempercayai nya.
Lift pun mengantar kami menuju ke lantai atas, di mana semua ruangan disana tempat para petinggi petinggi kantor.
"Ra nanti lo pulang kantor sibuk gk?". Alvian bertanya padaku
"Kenapa?". Jawab ku dengan mengerutkan dahi heran mendengar perkataan Alvian, tumben sekali lelaki itu bertanya pada ku
"Bantuin aku ya Ra". Pinta Alvian
"Apaan Al?". Tanyaku penasaran
"Cariin kado". Ujar Alvian
"Buat siapa? Buat cewek lu yaa". jawabku menebak nya
"Bukan, enak aja. Buat Bunda". Jawab Alvian menatapku
"Bunda? Oh ya besok kan hari Ulang Tahun Bunda. Udah lama juga gue gk pernah ketemu sama Bunda".
"Iya maka dari itu bantuin gue".
"Siap, bisa di atur. Gue juga mau ketemu Bunda, udah kangen banget, semenjak gue menikah sama cecunguk satu itu gue gk pernah kemana mana". Jawab ku menampilkan ekspresi tertekan
Alvian hanya tersenyum menanggapi perkataan ku, kami berdua melangkahkan kaki hingga menuju ke satu ruangan.
__ADS_1
Kami berdua pun memasuki Ruangan, dan terlihat Kak Bintang sedang serius memgamati beberapa berkas yang ada di atas meja kerja nya.
Sama hal nya dengan ku, aku berpamitan kepada Kak Bintang dan Alvian untuk menyelesaikan beberapa berkas yang masih belum selesai. Ya aku masih menjabat sebagai Sekretaris Kak Bintang, sebab aku ingin belajar banyak hal terlebih dahulu baru setelah aku siap, akan ku gantikan posisi Kak Bintang.