Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Apapun Konsekuensi nya


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi oleh Keluarga Rio telah sampai di rumah, mereka semua turun dan lansung masuk ke dalam rumah dan ke empat orang itu mendudukkan diri nya di kursi sofa ruang tamu.


"Gila! Bunga nya besar banget, bisa mati kalau hanya membayar bunga nya saja". Ujar Alex membuka pembicaraan


"Iya, bener kamu Lex. Ibu aja syok mendengar bunga yang di jabarkan oleh Renteiner itu, masak bunga yang di patok 10%". Ujar Bu Ningsih seraya menghela nafas nya dengan panjang


"Ya Ampun Bu, bunga 10% itu termasuk rendah loh. Bahkan ada yang memberi bunga 20% sampai 30% Loh". Sahut Manda seraya menyenderkan tubuh nya pada punggung sofa


"Jadi sekarang kita berembuk dulu, jadi meminjam atau tidak? Karena kita semua sudah tahu konsekuensi nya apa, jadi harus kita fikirkan matang matang". Ucap Manda lagi


"Ya jadi lah, apa sih yang harus di fikirkan lagi? Kita itu memang harus mengambil pinjaman itu, apapun konsekuensi nya, aku harus segera mendapatkan uang itu untuk menikahi Mawar". Sahut Rio sengan tatapan tajam dan raut wajah yang tidak bersahabat


"Ya gk bisa gitu dong Yo, kita diskusikan dulu sama Ibu. Ini juga kan rumah Ibu, masih atas nama Ibu. Jadi pinjaman ini harus atas persetujuan dari Ibu, Kamu jangan seperti ini dong. Fikirkan juga bagaimana ke depan nya!". Ujar Manda dengan ketus


"Kamu itu gk ngerti mbak! Kalau pinjaman ini gk di ambil, maka aku yang akan gagal menikah dengan Mawar!". ujar Rio bersungut sungut


Manda sontak menatap wajah Rio dengan tatapan tajam, wanita itu merasa sangat geram dengan adik kandung nya itu saat ini. Padahal diri nya lah yang selalu pontang panting ikut mengurusi urusan Rio, bahkan ia sampai rela merendahkan harga diri nya untuk meminjam kepada seorang remteiner.


Bu Ningsih yang memang peka langsung menatap Manda dengan tatapan mengingatkan, jangan sampai ada perselisihan di dalam keluarga nya. Karena mereka harus berfikir dengan tenang dan juga kepala yang dingin, untuk menemukan jalan keluar pada masalah kali ini.

__ADS_1


Manda pun yang melihat tatapan tajam dari Ibu nya langsung terdiam, padahal wanita itu sudah ingin memaki maki Rio saat ini.


"Begini Yo, ininadalah perkara yang besar, andai kata sesuatu terjadi pada rumah ini. Maka yang rugi adalah kita semua, mau tinggal dimana kita? Hanya rumah ini lah harta peninggalan Bapak mu. Apa kamu siap untuk membayar cicilan nya nanti?". Tanya Bu Ningsih dengan nada tegas


Rio mendengar penuturan dari Ibu nya itu langsung tengah berfikir, namun tak lama kemudia lelaki itu mengangguk dengan mantap sambil menatap wajah Bu Ningsih dan juga Manda secara bergantian.


"Aku siap Bu, untuk mendapatkan Mawar seperti nya aku harus berkorban. Lagi pula aku yakin, dia pasti akan memberikan aku akses untuk memiliki harta keluarga nya juga, Jadi aku akan siap menerima semua konsekuensi nya, jadi Ibu dan juga Mbak Manda tenang saja!". Ujar Rio dengan mantap


Bu Ningsih dan juga Manda sontak saling berpandangan, namun tak lama kemudia mereka akhir nya menghela nafas secara bersamaan seraya menganggukan kepala nya.


"Ya sudah kalau begitu ini keputusan kamu, dan biar mbak mu yang menghubungi Renteiner itu suapaya besok siang kita bisa mendapatkan uang itu". Kata Bu Ningsih akhir nya


...****************...


Siang ini Pak Ahmad tidak mempunyai kegiatan di kantor kepala desa, jadi ia memutuskan untuk di rumah saja. Mendadak kepala nya berdenyut pusing saat memikirkan nasib putri nya yang masih tergantung saat ini, Ia mengurut kening nya dengan lembut, berharap pusing yang ia rasakan akan menghilang. Alih aling menghilang, rasa pusing itu semakin berdenyut hingga membuat Pak Ahmad mengerang kesal.


"Bapak kenapa? Dari tadi Ibu perhatikan uring uringan seperti ini? Ada masalah apa yang sedang Bapak fikirkan? Apa ada Masalah di kantor?". Tanya Bu Lastri yang ingin tahu


Bagaimana tidak penasaran? Semenjak pagi suami nya itu sudah terlihat tidak bersemangat. Bahkan suami nya itu tidak menyentuh makanan apapun semenjak sarapan tadi, laki laki itu hanya meminum kopi yang sudah di sediakan oleh Bu Lastri dengan wajah gusar.

__ADS_1


Sedari tadi Pak Ahmad masih tetap uring uringan dan nampak sangat gusar, bahkan ketika matahari sudah meninggi pun.


Menurut Bu Lastri suami nya itu sangat jarang bersikap seperti ini, biasa nya laki laki paruh baya yang sudah menikah berpuluh puluh tahun dengan nya itu akan selalu ceria mengajak mengobrol Bu Lastri.


Namun sekarang Pak Ahmad justru hanya terdiam seperti patung, seraya menatap ke arah langit dengan tatapan tak bisa di artikan. Sebagai seorang istri tentu saja Bu Lastri merasa khawatir dengan keanehan suami nya itu, maka nya dia bertanya dengan sedikit memaksa.


"Pak, kalau ada apa apa itu mbok ya cerita sama Ibu. Jangan Bapak diam aja seperti ini, lagian bapak itu punya keluarga, punya istri". Ujar Bu Lastri


"Bu, bagaimana kalau kita menikahkan anak kita dengan orang lain saja? Dan menyuruh Mawar untuk pergi ikut bersama suami nya nanti". Ujar Pak Ahmad tiba tiba


"Ha? Gimana maksud bapak? Kok Bapak tiba tiba ngomong begini". Sahut Bu Lastri sedikit terkejut mendengar perkataan suami nya itu


Wanita paruh baya itu menatap wajah suami nya dengan tatapan lekat, namun sama sekali tidak menemukan rambut bimbang pada wajah nya malahan cenderung menunjukan wajah keseriusan.


"Ya gk tiba tiba juga Bu, sebenar nya Bapak sedari tadi dian itu berfikir. Rasa rasa nya kenapa kita seperti mengemis, bahkan keluarga Rio sama sekali tidak memberikan kepastian sampai sekarang. Mereka selalu mengundur untuk menikahi Mawar, Bapak takut Bu, Perut Mawar sudah mulai membesar". Ujar Pak Ahmad dengan nada Lelah dan Pasrah


Bu Lastri langsung terdiam seribu Bahasa, dia setuju dengan perkataan suami nya itu, memang sampai sekarang keluarga Rio belum memberikan kepastian nya. Malah mereka seperti sengaja mengulur ulur waktu, sampai sampai perut Mawar sudah terlihat


Saat Bu Lastri ingin menjawab perkataan suami nya tadi, suara wanita paruh baya itu tertahan di tenggorokan. Sebab kedatangan Mawar dengan kaki menghentak hentak, putri semata wayang nya menatap kedua orang tua nya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Bapak kok kayak gitu sih? Bukan nya bapak udah janji akan menikahkan aku dengan Mas Rio? Kenapa sekarang malah Bapak mau menikahkan aku dengan orang lain!".


__ADS_2