
Sore hari nya di rumah kontrakan yang di tempati oleh bu Ningsih dan juga keluarga nya, kini terlihat semua nya tengah bersantai sambil berbincang bincang hangat.
tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah kontrakan itu, dua orang polisi lalu turun dan mengetuk pintu rumah kontrakan Bu Ningsih.
kebetulan yang membuka pintu adalah bu Ningsih, wanita paruh baya itu begitu terkejut dan merasa ketakutan kala melihat kedua polisi yang datang ke rumah kontrakan nya.
"ini ada apa ya Pak?". tanya Bu Ningsih dengan tubuh gemetaran
Rio pun yang tahu kedatangan dari para polisi itu langsung berjalan mendekat ke arah mereka, Ia juga nampak bingung melihat Kedatangan para Polisi ke rumah nya, sedangkan Manda hanya bisa terdiam di tempat duduk nya.
namun ia tak bisa menutupi rasa takut nya, karena dia berpikir jika para polisi itu akan menjemput salah satu dari keluarga nya.
"Maaf pak, ini ada apa ya?". Tanya Rio
" Selamat sore Pak, Apa benar ini dengan saudara Rio? ".
"Iya dengan saya Rio, Pak. Memang nya ada apa ya?". Tanya Rio penasaran dengan kedatangan mereka
"Begini, saudara bisa ikut kami ke kantor polisi terlebih dahulu".
Manda yang mendengar itu pun langsung ternganga, ia tak percaya dengan apa yang di dengar nya barusan
"bentar-bentar Pak, Kenapa harus mencari Rio? apa yang sudah dia perbuat?". Tanya Bu Ningsih kepada para polisi itu, yang hampir jantungan di buat nya
"karena anak Ibu ikut serta dalam kejahatan membuang buah hati nya".
"apa??".
Karena sangking terkejut nya bu Ningsih pun langsung pingsan di tempat, Hal itu membuat Rio dan juga Manda merasa panik, begitu pula dengan para polisi yang meminta Rio untuk menolong ibu nya terlebih dahulu.
__ADS_1
hingga beberapa menit kemudian bu Ningsih pun tersadar dan kembali bertanya kepada Para polisi tentang apa yang terjadi sebenar nya dan mereka pun bercerita tentang apa yang terjadi hingga mereka memiliki surat tugas untuk menangkap Rio hari ini.
"apa yang di katakan Mawar itu tidak benar Pak !". ucap Bu Ningsih dengan wajah yang penuh emosi
"baik, kalau begitu lebih baik Pak Rio ikut kami terlebih dahulu , jadi dia bisa menjelaskan di kantor. dan kalau memang Pak Rio tak bersalah, Pak Rio bisa bebas secepat mungkin".
dengan sangat terpaksa Rio pun mengikuti langkah para polisi yang menggelandang nya masuk ke dalam mobil itu, para tetangga kontrakan yang melihat kejadian sore itu langsung menjadikan mereka sasaran empuk untuk berghibah, mereka Tak habis pikir kenapa keluarga bu Ningsih selalu bermasalah dan seolah tak punya malu, padahal sebenar nya mereka sangat-sangat malu, apalagi mereka yang baru pindah di kontrakan yang tak jauh dari rumah sebelum nya.
para tetangga yang mendengar teriakan bu Ningsih berbondong-bondong masuk ke dalam rumah, mereka hanya ingin melihat apa yang terjadi, tanpa berusaha untuk menenangkan nya.
Sesampai nya di kantor polisi, seperti yang sudah Mawar lewatkan, Rio pun di minta untuk menjawab beberapa pertanyaan dan Rio menjawab semua pertanyaan itu dengan jujur, namun mawar seakan mengecoh semua nya.
Wanita itu tetap bersikukuh untuk menyalahkan Rio juga dengan semua yang sudah terjadi saat ini, namun Rio sendiri juga tak terima di fitnah seperti itu.
"baik, Kamu boleh saja menyalahkanku jika memang benar jika itu adalah anak kandungku. tapi sudah terbukti bukan kalau dia bukan anakku, jadi aku enggan di anggap sebagai tersangka, Kamu sendiri Sudah menghianatiku, Jadi wajar saja jika aku tak menerima dia dan Kalaupun kamu membuang anakmu itu salahmu sendiri yang bisa-bisa nya berbuat bodoh seperti itu!". Umpat Rio kepada mawar
" Ya sudah begini saja Pak, dari awal dia lahiran saya sudah membayarkan semua biaya perawatan nya, tapi bapak tahu sendiri jika anak yang di kandung nya itu bukan anak saya, coba saja Bapak tanyakan pada perempuan yang tidak benar ini!". Ucap Rio kepada para petugas yang kini menatap ke arah mawar yang terlihat tegang
mawar lalu menggelengkan kepala nya karena merasa ketakutan, sembari menutup telinga nya
"Nggak! aku nggak mau!! kenapa harus melakukan tes DNA, orang itu jelas-jelas anak dia, enggak mau! Aku nggak mau!!!". pekik nya kini terlihat seperti orang yang sedang depresi
...****************...
karena begitu terkejut nya saat mendengar penangkapan Rio, Bu Ningsih kembali pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit, bahkan wanita paruh baya itu harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU, karena mendadak terkena serangan jantung.
Manda pun jadi takut jika nanti nya apa yang terjadi pada almarhum bapak nya dulu hingga membuat nyawa nya melayang akan terjadi juga kepada ibu nya, apalagi saat ini Rio masih belum juga pulang dari kantor polisi.
...****************...
__ADS_1
keesokan hari nya Rio pun di persilahkan untuk pulang, selagi proses masih berjalan, Rio yang mendapat panggilan dari kakak perempuan nya itu langsung mengangkat nya dan betapa terkejut nya dia saat mendengarkan penjelasan dari Manda, jika ibu nya di rawat di rumah sakit..
Rio pun bergegas langsung meluncur ke sana, di rumah sakit betapa hancur nya Rio kala melihat tubuh bu Ningsih yang penuh dengan alat yang menempel di dada nya, hal itu mengingatkan Rio pada saat bapak nya juga sakit seperti itu.
sungguh Penyesalan memang datang nya selalu terlambat dan benar saja dua hari di rawat di rumah sakit, keadaan bu Ningsih semakin parah hingga membuat nya terbaring koma, tentu saja hal itu membuat mereka berdua menjadi sedih dan saling menyalahkan diri sendiri.
"Kenapa cobaan keluarga kita harus seperti ini Yo? di saat kita berusaha menjadi baik, tapi kenapa Tuhan malah memberikan cobaan seberat ini?". Ucap Manda seraya menitikkan air mata nya, untung saja Risa mau di titipkan di rumah tetangga kontrakan, yang juga memiliki anak seusia Risa
sudah 4 hari ini mereka berdua terpaksa bergantian menjaga bu Ningsih, saat pagi sampai sore jatah dari Manda dan selanjut nya akan di ganti oleh Rio.
karena Rio sendiri Tak Tega menyuruh Mbak Manda untuk menunggu di waktu malam, apalagi Ia mempunyai Risa yang harus juga di perhatikan, jadi mana mungkin ada waktu untuk menjaga ibu nya yang hingga sampai saat ini masih dalam keadaan koma, meskipun bu Ningsih memiliki BPJS tapi tak sepenuh nya hal itu di tanggung, jadi ada sebagian obat yang memang harus mereka beli sendiri.
dan dengan sedikit terpaksa pula mereka berdua patungan untuk membeli nya, meski harga yang harus di bayar juga bukanlah hal yang murah Namun demi kesehatan bu Ningsih, mereka berdua menanggung semua nya secara bersama-sama, untung saja Rio masih mempunyai uang sisa walau hanya sedikit.
Setelah hampir seminggu di rawat di ICU, akhir nya Bu Ningsih sudah mulai membaik, namun ada hal aneh yang terjadi pada tubuh nya, yaitu sebagian tubuh nya sebelah kiri Tak bisa di gerakkan, bisa dikatakan seperti lumpuh separuh.
entah apa yang menyebabkan diri nya seperti itu, Namun yang pasti tubuh nya benar-benar tak bisa bergerak dan saat jam besuk tiba, bu Ningsih pun menangis dan mengadu pada Rio.
sebenarnya niat nya bu Ningsih ingin bertanya bagaimana kelanjutan proses hukum Rio, Namun karena rasa khawatir nya terhadap kesehatan nya, yang tak bisa menggerakkan beberapa anggota tubuh nya membuat bu Ningsih lebih memperdulikan kesehatan nya.
"Rio,Kenapa tubuh ibu yang sebelah kiri nggak bisa di gerakkan ya? ".
"Masa sih Bu".
"Iya".
Bu Ningsih pun mencoba menggerakkan kaki dan tangan nya sebelah kiri, namun tetap saja tak bisa.
akhir nya Rio pun mengadu pada dokter yang kebetulan sedang berjaga dan karena hal itu pula dokter melakukan serangkaian pemeriksaan hingga di katakan jika Bu Ningsih di diagnosa mengidap penyakit hemiplegia, yang artinya kondisi kelumpuhan atau kehilangan kemampuan otot untuk bergerak pada bagian salah satu sisi tubuh, hal ini terjadi pada penyakit jantung yang menyerang nya kemarin.
__ADS_1
perasaan hancur pun tak bisa di elakkan lagi, kini bu Ningsih harus menggantikan suami nya dulu yang hanya bisa duduk di kursi roda, membayangkan saja sungguh begitu ngeri, Bu Ningsih tak mau jika hidup nya hanya duduk di kursi roda saja hingga ajal menjemput nanti.
" Tuhan, apakah ini karma untukku".