Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Di tagih Bank keliling


__ADS_3

"Ya Bukti nya aja sampai sekarang Mas Rio kesayangan mu itu gk datang ke rumah kita, tidak ada kepastian sedikit pun mengenai hubungan kalian ini". Ujar Pak Ahmad kepada putri semata wayang nya itu


"Ya tapi kan kita bisa menunggu sampai besok pagi pak, aku yakin Mas Rio pasti sedang berusaha mencari uang itu saat ini. Bapak juga kan gk tahu kalau sekarang Mas Rio sedang pontang panting cari uang sesuai dengan keinginan Bapak, jadi jangan persulit Mas Rio!". Ujar Mawar membela Rio


Wanita itu tahu kalau memang anak yang tengah di kandung nya ini bukanlah anak darah daging Rio Tapi Mawar sudah terlanjur sangat mencintai Rio saat ini, jadi mau bagaimana pun ia harus menikah dengan Rio.


Bu Lastri yang mendengar perkataan Mawar itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepala nya, wanita paruh baya itu merasa jika putri nya sudah kepalang cinta dengan Rio.


"Baiklah jika sampai besok pagi Rio tidak datang ke sini bersama keluarga nya, maka keputusan bapak sudah bulat, Bapak akan menikahkan kamu dengan anak teman Bapak!". Ujar Pak Ahmad dengan nada tegas


"Pak!". Mawar memekik kuat


Mata nya melotot dengan Bibir yang sedikit menganga karena tak percaya dengan ucapan Bapak nya itu, keputusan itu sudah bulat dan tidak dapat di ganggu gugat.


Setelah mengatakan itu Pak Ahmad langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan di ikuti oleh Bu Lastri di belakang nya, sedangkan Mawar masih terdiam memikirkan ucapan dari bapak nya itu.


...****************...


Siang ini Bu Ningsih, Rio, dan juga Manda tengah duduk santai di teras rumah, mereka bertiga sedang menunggu kedatangan Doni untuk membawakan uang dan juga surat resmi hutang piutang perjanjian itu.


Semalam Manda sudah menghubungi kembali Bude Tatik, bahwa keluarga nya sudah berembuk dan menyetujui pinjaman itu.


Mereka bertiga tengah mengobrol dengan wajah yang tegang, dan merasa tidak sabar dengan kedatangan Doni.


Sedangkan Alex sendiri sudah kembali ke rumah orang tua nya, karena akan menjemput Risa atas perintah dari Bu Ningsih.


"Kok Lama banget ya? Aku jadi deg degan gini Loh Bu!". Ujar Rio tiba tiba


"Ya Sabar, kamu kira yang memghutang sama dia cuma kita? Dia pasti juga sedang menagih uang ke rumah orang lain". Sahut Manda dengan santai seraya memainkan ponsel nya


"Ya, tetap aja mbak. Aku ngerasa waktu ini kok berjalan dengan sangat lambat, mbak tahu sendiri lah, aku sudah tidak sabar memegang uang itu dan segera datang ke rumah Mawar". Ujar Rio sumringah


"Sabar Yo! Semua juga mau nya begitu, tapi kan kita memang harus menunggu". Ujar Manda yang masih fokus dengan ponsel nya


Setelah menunggu dengan bosan di teras, namun Doni yang di nanti nanti tak kunjung datang, akhir nya mereka bertiga masuk ke dalam kamar mereka masing masing untuk sekedar merebahkan diri.


Rio terbangun dari tidur nya saat mendengar suara dering ponsel nya berbunyi, lelaki itu segera mengambil benda pipih itu di atas nakas, dan langsung menghela nafas nya dengan panjang kala melihat sebuah pesan yang di kirimkan oleh Mawar


{Kamu dimana sih Mas! Dari tadi di chatt kok gk di balas!} Tulis pesan dari Mawar

__ADS_1


Lelaki itu memang sengaja tidak membalas pesan dari Mawar, dia malas di tanya tanya dan juga di cecar dengan berbagai pertanyaan yang kadang membuat nya cukup nyelekit. Bagaimana tidak? Mawar tidak hamil saja sudah menakutkan, apalagi Mawar yang tengah hamil saat ini.


Calon istri nya itu semakin parah mood swing nya, suka marah marah tidak jelas, dan mengomel tanpa tahu waktu. Jika tidak memikirkan jika Mawar tengah hamil, Rio sudah tentu akan membentak nya.


Saat masih berdiam diri di dalam kamar, Rio bisa mendengar suara gaduh dari arah depan. Dengan tergesa gesa, dia bangkit dari tidur nya dan langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar.


Setelah keluar dari kamar, hal yang pertama dia temui adalah Ibu nya yang sedang marah marah. Wanita paruh baya itu sedang menunjuk nunjuk seorang laki laki yang memakai jaket kulit berwarna hitam dan juga helm berwarna senada tak lupa motor Revo yang terparkir di depan rumah.


"Di sini tidak ada yang menghutang sama kamu! Saya ini tidak tahu, kamu jangan macam macam ya!". Teriak Bu Ningsih dengan tidak terima


"Ya bukti nya ada nama Ibu yang tertera di sini, dan Foto copy KTP serta KK Ibu juga kami pegang sebagai bukti. Jadi tentu saja kami menagih sama Ibu Ningsih!". Ujar laki laki itu dengan nada tegas


"Sudah saya bilang, saya gk ada minjam minjam seperti itu sama situ!". Sahut Bu Ningsih


"Ada apa sih Bu? Kenapa Ibu teriak marah marah gini?". Tanya Rio yang penasaran


"Ini loh Yo, laki laki ini tiba tiba datang ke runah, dan dia meminta uang setoran pinjaman pada Ibu. Kata nya Ibu pinjam ke Bank keliling, tapi Ibu gk pernah ada minjam sama Bank Keliling". Ujar Bu Ningsih menjelaskan dengan kesal karena di tuduh meminjam


Rio langsung menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, karena dia sendiri tahu bagaimana Ibu nya itu. Tapi tidak mungkin jika laki laki ini tiba tiba datang ke rumah nya tanpa alasan yang jelas, memang benar sudah terbukti dengan jelas jika data data Ibu nya berada di sana dan mereka berani menagih.


"Mas yakin Ibu saya yang meminjam? Sebenar nya siapa yang sudah meminjam ke kalian menggunakan atas nama Ibu saya?". Tanya Rio


"Yang meminjam itu laki laki Mas, kebetulan saya waktu itu lagi menawarkan pinjaman di kedai kopi ujung sana. Nah laki laki itu bilang dia mau minjem, dan pamit untuk mengambil apa saya persaratan nya, lalu dia memberi saya foto copy KK dan juva KTP atas nama Bu Ningsih, ya saya ke sini untuk menagih nya dong Mas". Ujar Laki laki itu menjelaskan


Rio dan juga Bu Ningsih saling berpandangan, mereka benar benar bingung siapa yang sudah meminjam ke bank keliling itu mengatas namakan Bu Ningsih.


"Mas tahu orang nya bagaimana?". Kata Rio bertanya karena tiba tiba dia mendapatkan gambaran siapa yang telah meminjam uang itu


"Saya tahu Mas orang nya, saya masih ingat".


"Tunggu sebentar ya Mas". Ujar Rio berlalu ke dalam rumah untuk mengambil ponsel nya, dan memberikan sebuah foto kepada orang itu


"Yang ini bukan Mas orang nya?". Ujar Rio


"Iya mas, benar ini orang nya. Dia yang sudah meminjam uang kepada saya satu minggu yang lalu".


Rio langung masuk kembali ke dalam rumah nya, namun kali ini ia berjalan ke arah kamar kakak perempuan nya itu


Toookk... Toookkk... Toookkk

__ADS_1


"Mbakk, Mbak Manda, Mbak...". Teriak Rio seraya menggedor gedor pintu kamar kakak perempua nya itu dengan keras


"Ada apa sih Yo, kamu ini gedor gedor pintu Mbak kayak yang gk punya sopan santun aja!". Gerutus Manda kesal


Manda keluar dari kamar dengan rambut yang acak acakan, dengan wajah yang sembab, dan terlihat jelas wanita itu baru terbangun dari tidur nyenyak nya.


"Mbak, Mas Alex mana?".


"Mas mu belum pulang dari menjemput Risa, emang nya kenapa? Tumben kamu nyariin Mas Alex". Kata Manda seraya menguap dengan lebar


"Ini loh Mbak ada yang nyariin Mas Alex". Ujar Rio seraya menarik Manda ke depan rumah, dsn menemui laki laki itu


"Siapa ini Yo? Teman mas mu? Kok mbak gk kenal ya". Ujar Manda


"Dia ini petugas bank keliling mbak, Mas Alex sudah melakukan pinjaman kepada Bank keliling ini taoi menggunakan atas nama Ibu. Jadi dia kesini menagih dan marah marah ke Ibu karena tidak mau membayar nya!". Ujar Rio menjelaskan


"Apa? Gk mungkin Mas Alex meminjam uang dan juga meminjas mengatas namakan Ibu, ini semua bohong, pasti orang ini niat nya mau menipu kita!". Ujar Manda tak terima


"Apaan sih enak aja kamu, orang ini semua data data nya sudsh lengkap dan di sini juga tertera nama Bu Ningsih sebagai penjamin. Jadi saya datang kesini untuk menagih".


"Mbak, Mas ini juga sudah mengenal siapa orang yang meminjam itu, lalu tadi saat aku tunjukkan foto Mas Alex, Mas ini langsung mengatakan memang benar jika Mas Alex orang yang ada di foto itu yang sudah meminjam".


Manda langsung berubah menjadi pucat saat mengetahui kenyataan jika suami nya memiliki pinjaman kepada Bank keliling ini dengan jaminan identitas Ibu nya. Rasa geram, dan malu bercampur menjadi satu.


"Aduh Mas, suami saya belum pulang loh. Dan saya juga tidak ada uang untuk membayar nya saat ini". Ujar Manda dengan kesal


"Saya gk mau tahu ya Mbak, hari ini pokok nya harus bayar. Mbak kan istri nya, jadi sekarang mbak yang harus bertanggung jawab!". Kata laki laki itu dengan garang


Bu Ningsih yang merasa kasihan kepada putri nya itu langsung mengambil alih pembicaraan, dan langsung menatap laki laki berjaket hitam itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Memang nya berapa yang di pinjam nya?". Tanya Bu Ningsih


"Pinjaman nya empat juta dengan cicilan seratus ribu per minggu nya, murah kan gk banyak?". Ujar laki laki itu tersenyum kecil


Bu Ningsih kemudian merogoh saku daster nya dan mengeluarkan uang seratus ribuan, dia memberikan uang itu dan langsung di terima oleh petugas bank keliling.


Petugas bank keliling itu langsung memberikan sebuah kertas dan memberikan kan kepada Bu Ningsih, laki laki itu pun pamit dan berlalu pergi dari sana.


"Setelah Alex pulang, suruh dia langsung bertemu dengan Ibu!". Ujar Bu Ningsih dengan tegas

__ADS_1


__ADS_2