Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Rio Curiga


__ADS_3

semuanya terasa begitu cepat kabar yang di terima nya membuat Rio tak bisa berpikir dengan jernih, apalagi ketika ia melihat mawar terbaring dengan lemah, bahkan tatapan nya saja tampak begitu sendu.


"Mass.. Mas Rio..". lirih Mawar ketika melihat lelaki yang di cintai nya Baru saja datang


"bertahan ya sayang, Jangan putus asa yang semangat ya.. Ini semua demi anak kita". sahut Rio ketika melihat mawar yang tak berdaya


"Mas, tapi ini sakit banget Mas.. Aaregghhh...".


"Sayang, fokus. fokus dengan proses lahiranmu, ini memang sakit tapi kamu sabar ya". Ujar Rio menenangkan


"Mas, kamu gk tahu rasa sakit nyaa.. Aaarrgghhh.... Sakitt!!!".


Rio nampak menghela nafas nya dengan panjang, mawar memang sangat susah sekali untuk di beritahu.


"Siapa yang bertanggung jawab atas Bu mawar?". tanya seorang dokter muda dengan ramah


semua nya terdiam termasuk dengan Rio, namun detik kemudian Bu Ningsih menyikut lengan Rio.


"saya suami nya". ujar Rio dengan cepat


" Baik silahkan tanda tangan di sini ini untuk mengisi formulir agar istri bapak segera di operasi" perintah dokter itu


"apa tak bisa di usahakan lagi untuk lahiran secara normal?". ucap Rio


wanita itu menggeleng samar, namun ketika Rio menandatangani lembaran kertas itu mawar berteriak histeris


" Formulir sudah di tanda tangani, Mari saya akan melakukan prosedur untuk melakukan operasi".


"Mas, kamu di sini saja tׁׅemani aku". Pintar mawar setengah memohon


"maaf, Mas tak bisa melihat darah sayang kan kamu tahu sendiri, sebaik nya kamu di temani saja sana Ibu atau sama Mbak Manda, biar aku menunggu di luar". Ucap Rio berbisik


jika sudah begitu mawar hanya pasrah ia tak mungkin memaksakan Rio yang memang tak bisa melihat darah, karena trauma.


"ah Ibu juga nggak nggak mau ya, Ibu takut.. Ibu trauma nungguin orang yang melahirkan, kemarin aja Ibu nungguin mbakmu kayak gitu". Ujar bu Ningsih menolak ketika Rio meminta nya untuk menemani mawar di dalam


"terus si Mawar gimana Bu?". Timpal Manda


"Ya udah biar aja dia sendiri di dalam, di dalam juga banyak dokter dan banyak perawat juga kok, biar saja". Sahut bu Ningsih pada Manda


"ya sudahlah kita berdoa saja semoga mawar dan anakku selamat". kata Rio


...****************...


setengah jam berlalu Tangis Bayi terdengar dari dalam sana, bu Ningsih, Rio dan Manda tersenyum dengan senang.


"Rio bayi nya sudah lahir". seru bu Ningsih

__ADS_1


" Iya mbak juga dengar Yo, selamat ya Yo". sahut Manda


sementara Rio hanya terdiam setelah mengucapkan rasa syukur, meski begitu Rio masih sedikit bimbang dengan semua yang terjadi di depan mata nya.


{Mawar melahirkan saat usia kandungan nya belum genap 9 bulan, tapi kenapa ibu dan Mbak Manda tak curiga sama sekali?}. tanya Rio di dalam hati


"Yo, Kok kamu diam aja sih". Ujar bu Ningsih menepuk pundak putra nya


" Ehh Iya Bu".


"kamu pasti masih nggak percaya ya, kalau kamu sudah menjadi seorang bapak sekarang". seru bu Ningsih dengan senyum lebar


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan yang semula tertutup rapat kini terbuka lebar, dokter muda itu memanggil pihak keluarga untuk melihat mawar dan juga bayi nya


" Selamat ya Pak, Bu mawar berhasil melahirkan anak perempuan dengan sehat dan lengkap, panjang badan nya 50 cm dan berat badannya 3,1 kg". Dokter Itu menjelaskan dengan detail


"Alhamdulillah". mereka bertiga hampir serempak mengucapkan kalimat syukur tersebut


" ah Ibu jadi nggak sabar mau lihat cucu Ibu, ayo Man kita lihat ke dalam". Ucap Bu Ningsih bersemangat


"ayo bu". sahut Manda


setelah memberitahukan informasi itu, sang dokter berjalan meninggalkan Rio, namun dengan cepat Rio membalikkan badan nya dan segera menyusul nya".


"Bu..". Panggil Rio


dokter muda itu menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Rio yang sudah berada di belakang nya.


" Hemm.. saya, Saya hanya mau bertanya, takut nya pendengaran saya yang sedang bermasalah". Ujar Rio


"Ya ada yang bisa di bantu pak?". Ucap dokter itu semakin penasaran


"begini, tadi Saya dengar berat badan anak saya 3,1 kg, Apa itu benar?". tanya Rio


" Iya benar Pak".


"Apa itu berat badan nya normal?". Tanya Rio penuh selidik


"tentu saja normal Pak".jawab dokter itu dengan yakin


"bisa kita bicara sebentar bu?". tanya Rio


" Bicara tentang apa ya Pak?".


"Saya butuh penjelasan tentang usia kandungan istri saya, tapi saya mohon jangan di sini". ucap Rio yang sengaja menelankan suara nya


" Baik Pak, setengah jam lagi bapak bisa temui saya di ruangan saya dan saya akan menjelaskan tentang itu semua". Perintah dokter itu dengan ramah

__ADS_1


"baik terima kasih".


mungkin bagi sebagian orang diri nya terlalu picik dan licik di saat mawar selesai mempertaruhkan nyawa nya untuk melahirkan sang buah hati nya, justru ia malah sibuk ingin membuktikan praduga yang tiba-tiba terlintas di dalam pikiran nya.


" Yo, Kamu ini ngapain masih di sini sih, Cepat masuk sana, bayi mu belum di adzani itu". Ucap Bu Ningsih membuyarkan Lamunan putra nya


"Iya Bu".


tak ingin Rio beralasan lagi, Bu Ningsih menyeret lengan putra nya agar segera masuk ke dalam ruangan


" Ini pak bayi nya". sang perawat memberikan bayi mungil itu pada Rio


Sementara Rio yang baru pertama kali menggendong bayi selama hidup nya, tangan nya mendadak terasa gemetaran


" santai saja gendong nya Pak". ucap perawat itu lagi


"Iya Sus".


Rii tak langsung mengadzani, tapi dia malah memperhatikan raut wajah polos itu untuk beberapa saat, Namun sayang sekali Rio tak merasakan sedikitpun haru di dalam hati nya, dan tak ada kemiripan diri nya pada bayi itu


{Apa benar kamu anakku? atau...} batin nya tak berhenti menduga-duga


"Ayo Adzani anakmu itu sebelum setan berbisik di telinga bayimu itu loh". tegur bu Ningsih


"Iya Buu".


mawar nampak tersenyum begitu melihat Rio mengadzani putri nya, namun Iya cukup tercekat ketika Rio langsung mengembalikan bayi nya dan keluar dari ruangan itu tanpa basa-basi sekalipun.


"Mass... ". Teriak Mawar namun Rio tak menghiraukan nya


Netra mawar tampak mengembun, tapi wanita itu segera mendongakkan wajah nya ke atas karena pantang bagi nya menjatuhkan Air Mata Di depan putri nya.


"apa kamu baik-baik saja ?". Tanya bu Ningsih ketika melihat Mawar tersenyum seorang diri


"aku? Tentu saja aku baik bu".


"Syukurlah kalau gitu".


" War, ini makanan untukmu". Ucap Bu Ningsih seraya memberikan semangkuk bubur pada mawar


"Makasih Bu".


" Ini loh maka nya kalau Ibu bilang kalau perempuan hamil besar itu harus sering-sering bergerak biar nggak seperti ini, kamu melahirkan di usia kandunganmu yang baru 7 bulan tapi karena bayimu sehat ya Nggak masalah, kamu makan yang banyak biar Lekas sembuh ya". ujar bu Ningsih yang mendadak menjadi perhatian dan Baik kepada Mawar


"Uuhuuukk!" Mawar terbatuk


"kamu ini pelan-pelan dong makan nya, Kok bisa tersedak gitu". Ucap Bu Ningsih memberikan segelas air kepada mawar

__ADS_1


sebenar nya Bu Ningsih sudah berbicara empat mata dengan Manda sebelum wanita itu pulang ke rumah karena Risa yang di titipkan di rumah tetangga tadi.


Mereka berdua berbicara tentang kandungan mawar yang mencurigakan, tapi ia berhasil menepis nya ketika Mawar beralasan bayi nya lahir prematur.


__ADS_2