
Di Kantor, tepat nya di ruangan CEO tempat Bintang berada. Lelaki itu nampak sibuk menghubungi anak buah nya, dia benar benar mewujudkan apa yang lelaki itu ucapkan, memberi perhitungan kepada Rio.
Tuutt..Tuutt..Tuut
Suara panggilan terdengar dari ponsel Bintang sedang memanggil seseorang
"Hallo Bos, apa ada yang bisa di kerjakan". Ucap Lelaki dari arah sebrang
"Saya ada tugas, tolong beri pelajaran untuk Rio mantan suami dari adik saya. Langsung saja kalian datang ke rumah nya dan berikan dia hadiah dari saya". Ucap Bintang menjelaskan
"Siap Boss laksanakan perintah". Sahut lelaki dalam telepon
Klikk..
panggilan pun langsung di putuskan secara sepihak oleh Bintang, lelaki itu tinggal menunggu hasil dari pekerjaan anak buah nya nanti.
Bintang pun melanjutkan pekerjaan nya yang sudah menumpuk di atas meja nya itu.
Berbeda hal nya dengan Rio yang saat ini tengah menikmati hari libur nya dengan merebahkan diri di atas ranjang nya, Lelaki itu memang meminta izin cuti dari kantor khusus hanya untuk datang ke sidang keputusan tentang rumah tangga nya bersama Tiara.
Saat masih enak enak nya sedang tertidur, Rio di kejutkan oleh kedatangan Bu Ningsih yang tiba tiba membangunkan nya.
"Yo bangun, ada yang nyariin kamu tuh di depan. Ibu gk tahu siapa mereka". Ujar Bu Ningsih dengan nada sedikit keras untuk membangunkan putra nya yang tengah terlelap dalam mimpi nya, bahkan wanita paruh baya itu mengguncang guncangkan tubuh Rio dengan sangat keras agar Rio terbangun.
Rio yang merasakan guncangan keras pada tubuh nya langsung saja membuka mata nya perlahan, lelaki itu terlihat kesal atas tindakan Bu Ningsih yang membangunkan nya secara kasar.
"Iiisshh Ibu ini apa apaan sih, Sakit semua badan Rio". Ucap Rio kesal dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Itu loh di depan sana ada yang nyari kamu". Kata Bu Ningsih lagi
"Siapa Bu? Rio hari ini gk ada tuh janjian mau bertemu dengan seseorang". Ucap Rio dengan wajah yang jelas jelas menunjukan rasa penasaran yang amat sangat tinggi
"Ya kan ibu bilang gk tahu siapa, kalau ibu tahu, sudah pasti ibu akan memberitahu nama mereka". Ucap Bu Ningsih mengangkat bahu nya karena memang benar jika wanita paruh baya itu tidak mengenal orang yang sedang mencari Rio saat ini.
__ADS_1
Rio sendiri langsung bangkit dari tidur nya, langsung keluar dari kamar nya dan berjalan ke arah depan rumah nya.
Walaupun kini hati nya bertanya tanya, namun dia juga tidak ingin membuang buang waktu memikirkan hal yang menurut nya tidak penting. Toh nanti saat dia keluar, Rio juga akan tahu sendiri siapa orang orang yang sedang mencari nya.
Namun jujur di dalam hati nya Rio tidak sabar bertemu dengan orang yang datang menemui nya, sebab Rio sendiri tidak mempunyai janji dengan siapa pun sekarang ini.
Saat keluar dari pintu rumah nya, Rio langsung mengerutkan kening nya. Lelaki itu bingung karena tidak merasa mengenal salah satu dari mereka yang sedang menatap tajam ke arah nya dari arah gerbang.
Rio tiba tiba merasakan perasaan yang tidak enak, bulu kuduk nya tiba tiba merinding dan dia merasa jika diri nya harus segera pergi dari rumah nya saat ini.
Namun sebagai seorang laki laki, dia tidak bisa melakukan hal itu, maka nya dia memaksakan kaki nya berjalan mendekati orang orang itu.
"Ada apa ya bang, kenapa abang semua ini mau ketemu saya?". Tanya Rio dengan senyuman kecil yang terlihat jelas sangat di paksakan untuk menutupi rasa ketakutan yang ada pada diri nya saat ini.
Ketiga lelaki itupun tidak ada yang menyahut, mereka hanya menatap Rio dengan pandangan tajam. Namun tak lama kemudian, ketiga orang itu langsung saja menghajar Rio.
Rio yang tidak siap karena mendapat serangan dadakan tentu saja tidak bisa menghadapi ketiga orang dengan badan yang kekar dan juga besar tersebut.
Sial nya tidak ada satu orang pun yang bisa menolong Rio, karena saat ini masih jam bekerja. Maka orang orang di komplek nya terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yangbtidak sengaja melintas di komplek itu terlihat berhenti, namun mereka tidak berani menghentikan pengroyokan yang terjadi pada Rio.
Beberapa orang Ibu Ibu terlihat berteriak menyuruh seseorang agar menghentikan aksi pengroyokan itu, hingga Bu Ningsih yang sedang tertidur langsung bangun terkejut mendengar suara teriakan yang heboh dari suara ibu ibu.
Bu Ningsih lalu bangkit dari tempat tidur nya dan bergegas menuju ke arah sumber suara di mana teriakan teriakan terdengar.
Seketika Bu Ningsih melotot ketika melihat putra nya sedang di kroyok oleh ketiga lelaki yang tadi.
Sontak Bu Ningsih akan berlari ke arah Rio namun pergelangan tangan nya di cekal oleh satu laki laki diantara mereka yang menghadang Aksi Bu Ningsih untuk memnghentikan pengroyokan pada Rio.
"Lepas, Rio.. Rio, Saya mohon jangan pukuli anak saya". Teriak Bu Ningsih seraya mencoba melepaskan tangan nya dari lelaki itu.
Namun karena usia nya sudah renta jelas tenaga nya kalah, wanitabparuh baya itu hanya bisa menangis menyaksikan putra nya yang sedang di hajar oleh 2 orang itu.
Sayang sekali di rumah saat ini tidak ada orang sama sekali, hanya ada Bu Ningsih dan Rio. Bahkan Manda tengah pergi keluar rumah, entah kemana perempuan satu itu.
__ADS_1
Terlihat Rio terkapar lemas tak berdaya dengan bersimbah darah di wajah nya, salah satu dari mereka yang sedang memegangi Bu Ningsih menyuruh kepada dua orang yang tengah menghajar Rio untuk berhenti memukuli lelaki yang sudah terkapar itu.
Lelaki yang memegangi Bu Ningsih menyuruh salah satu nya bergantian memegangi Bu Ningsih, dia mendekati Rio dan menekan kaki nya di paha Rio.
"Aarrggghhh...". Teriak Rio meringis kesakitan
Rio Menjerit kesakitan, karena beberapa kali lelaki yang tadi memukul nya mengenai paha dan sekarang paha yang sudah terasa remuk itu di injak dengan sangat keras menggunakan sepatu yang di kenakan nya.
Lelaki itu terkekeh, suara kekehan nya terkesan sangat menakutkan. dia langsung berjongkok dan menggenggam rambut Rio hingga Rio pun mendongakkan kepala nya.
"Sakit?". Tanya lelaki itu dengan mata melotot tajam
"Ampun bang, tolong ampuni saya. Saya tidak mengenal abang semua, apa salahku hingga abang semua menghajarku seperti ini?". Tanya Rio dengan nada terputus putus karena nafas nya yang sudah tersengal sengal
"Kesalahan mu adalah karena kamu telah berani berani nya menyentuh adik dari Bos ku!".
Rio mengerutkan dahi nya tak mengerti dengan ucapan lelaki itu
"Kau mau tahu siapa bos ku? Ckckck Bos ku adalah Bintang Mahesa". Ucap lelaki itu dengan nada keras.
Rio langsung membatu saat mendengar perkataan yang di ucapkan oleh lelaki itu, jadi Bintang kakak dari Tiara lah yang memberi nya hadiah seperti ini.
Tapi kenapa? Apakah dia sudah tahu jika Rio akan berbuat hal tak senonoh kepada adik nya, maka nya Rio diberi hadiah ini. Banyak pertanyaan yang memenuhi fikiran Rio.
Tentu Rio tidak bisa mengatakan sepatah kata pun, dia hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit yang mengambil alih tubuh nya. Pandangan nya tiba tiba buram dan tak lama kegelapan memyambut dirinya.
Rio pingsan tanpa bisa di cegah, dan hal itu membuat ketua dari kelompok itu berdecih. Dia melepaskan rambut Rio tadi yang di cekal nya dengan keras, sehingga membuat kepala laki laki yang sedang pingsan itu langsung terbentur ke tanah.
Mereka bertiga langsung bergegas pergi dari rumah Rio, dan salah satu yang sedari tadi menghalangi Bu Ningsih langsung melepaskan nya.
Bu Ningsih berlari menuju Rio yang sudah jatuh pingsan dengan menangis tersedu sedu, dia tak pernah membayangkan jika putra nya akan di hajar habis habisan oleh orang yang tak di kenal nya.
Bu Ningsih langsung meminta pertolongan kepada orang orang yang sedari tadi menonton aksi pengroyokan terhadap putra nya, Rio pun akhir nya di larikan ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1