
POV RIO
Hari ini Aku dan Mbak Manda pergi ke Kantor polisi untuk memberikan keterangan lanjut atas kejahatan yang sudah di lakukan oleh Mas Alex.
Setelah memberikan keterangan, kami berdua pun meminta izin untuk bertemu dengan Mas Alex.
aku duduk di ruang tunggu bersama Mbak Manda, menunggu kedatangan tahanan yang akan kami jenguk saat ini, terlihat jika Mbak Manda sedang gelisah menunggu kedatangan Mantan suami nya itu, mungkin di dalam hati nya masih tersimpan sebuah perasaan.
kurang lebih 5 menit kami menunggu, kini Mas Alex berjalan dari lorong menuju ke arah kami, di belakang nya pak polisi berusia sekitar 40 tahunan mengikuti langkah nya, ku tatap wajah lusuh nya dengan tatapan tajam.
Dan lihat apa yang terjadi Mas Alex nampak tak suka melihat kedatangan kami berdua, bahkan lelaki itu sampai menyumpahi ku akan mendapatkan karma karena sudah meninggalkan Tiara.
bahkan sedari tadi aku sudah berusaha menahan emosi ku, Namun saat Mendengar ucapan nya itu, kesabaranku seakan habis, dan langsung tersulut emosi.
Tanpa babibu aku langsung memberikan bogeman mentah di wajah nya, para polisi yang menjaga langsung mendekat dan melerai kami.
Aku sangat muak melihat Wajah Lelaki brengsek itu, bahkan di wajah nya sama sekali tak ku lihat raut wajah penyesalan akan semua kesalahan yang sudah ia lakukan.
akhir nya aku dan Mbak Manda melangkahkan kaki untuk keluar dari kantor polisi dengan perasaan kesal.
Namun saat aku berjalan dan hendak mengambil motor di parkiran, tiba tiba saku celana ku bergetar dan terdengar bunyi dering ponselku.
Drrtt...
Drrtt...
Drrtt....
"Siapa Yo yang menelponmu? ". Tanya Mbak Manda
" Gk tahu Mbak, nomor tidak di kenal". jawabku
"Ya sudah coba angkat siapa tahu penting".
Nampak sebuah nomor telpon yang tak ku kenalin menelpon ku, sontak aku mengerutkan dahi, dan tanpa berfikir panjang ku tekan tombol untuk menerima panggilan.
"Hallo..". Sapaku
__ADS_1
" Hallo selamat sore, apa benar ini dengan Saudara Rio Mahesa?". Ucap nya dari sebrang telepon
"Iya benar, ini dari siapa ya? ". Tanya ku
" Saya Leni dari perusahaan Wijaya II, ingin memberitahukan kepada Bapak jika besok Bapak bisa datang ke kantor untuk melakukan sesi Interview, Apa Bapak bisa? ".
" Hah? Bisa bisa". Ucap ku dengan senyuman yang tercetak lebar
"Baik Bapak, jangan lupa besok harap hadir di kantor jam 09.00 pagi dan mohon jangan terlambat".
" Baik, Terimakasih atas informasi nya". Jawabku
"Baik, Bapak".
Klikk..
Sambungan ponsel pun terputus, Mbak Manda sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan bertanya.
" Dari siapa Yo? kok kelihatan nya kamu senang banget". Tanya Mbak Manda penasaran
"Itu mbak, aku baru saja di telpon dari perusahaan Wijaya II, menyuruhku datang besok pagi untuk melakukan sesi Interview". Jawabku dengan senyum sumringah
"Tenang saja Mbak, besok kalau aku sudah bekerja pastinya perekonomian kita akan membaik lagi seperti sedia kala". Ujarku dengan antusias
" Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang, Mbak udah capek, rasa nya tenaga Mbak sudah terkuras habis meladeni lelaki brengsek tadi".
Aku mengangguk dan langsung menaiki Motor, dan di ikuti oleh Mbak Manda.
Di sepanjang perjalanan tak henti henti nya aku tersenyum lebar, bayangan menjadi orang kaya dan memiliki banyak uang seperti dulu seakan hadir dan menari nari di dalam otak ku.
Sesampai nya di rumah, terlihat rumah sangat sepi seperti tak ada kehidupan di dalam nya.
Ya, semenjak Ibu dan Mbak Manda tahu jika Mawar bukan anak kandung pasangan kepala desa yang kaya itu, mereka seperti menjauh dan tak suka dengan kehadiran Mawar di sini.
Namun, untung saja Mawar tak ambil pusing dengan semua itu, bukti nya dia baik baik saja sampai sekarang meski selalu di sindir oleh Ibu dan juga Mbak Manda.
"Eh Rio, kamu sudah pulang? lah mana Mbakmu? ". Tanya ibu saat melihatku hendak masuk ke dalam kamar
__ADS_1
" Oh Mbak Manda sudah masuk terlebih dahulu Buk ke dalam kamar nya". Jawabku
"Oh ya sudah, gimana tadi di penjara? Si lelaki Mokondo itu gimana?". Tanya Ibu
" Ya gimana lagi Bu, ya seperti itulah. Rio berharap dia bisa mendapatkan hikmah dari semua perbuatan nya itu".
"Oh ya Bu, Rio ada kabar penting buat Ibu". Ujarku Lagi dengan raut wajah gembira
" Apa Yo? ". Tanya Ibu Penasaran
" Aku besok akan melakukan Sesi Interview di Perusahaan Wijaya II, Ya Meskipun ini cuma kantor cabang nya saja tapi yang ku dengar gaji para karyawan nya melebihi gaji UMR Bu". Ucapku menjelaskan
"Wahh Ibu seneng banget, semoga kamu lolos seleksi dan bisa bekerja di sana Yo". Ujar Ibu dengan berharap
" Semoga Ya Bu, doakan Rio, Supaya Rio bisa ke Terima di perusahaan itu".
"Pasti nya, Duhh.. Ibu jadi gk sabar pengen beli emas lagi Yo". Ujar Ibu tak kalah bahagia nya
" Ya sudah Bu, Rio ke kamar dulu ya mau mandi dulu".
"Ya sudah sana Mandi dulu, bangunin tuh istrimu itu biar gk tidur mulu aja kerjaan nya, orang hamil besar itu harus banyak banyakin gerak bukan nya rebahan mulu, gimana mau lancar nanti lahiran nya kalau males kayak gitu". Ujar Ibu sedikit berteriak, aku tahu Ibu berteriak Agar Mawar yang berada di dalam kamar mendengar ucapan Ibu itu
" Sudah sudah Bu, Biar nanti Rio yang ngomong sama Mawar". Sahut ku karena tak ingin melihat perdebatan antara Ibu dan Mawar nanti
...****************...
"Bu, doakan Rio ya". Ucapku mencium tangan Ibu dengan Takzim
" Iya pasti nya, hati hati bawa motor nya, gara gara lelaki Mokondo itu mobilmu jadi hilang dan sekarang kamu hanya menaiki motor untuk pergi kemana mana".
"Ya sudahlah Bu, ini sudah terjadi. Ya sudah Rio pamit dulu, nanti tolong sampaikan pada istriku ya kalau Rio sedang ada keperluan di luar". Pesanku pada Ibu, karena Mawar saat ini belum bangun dari tidur nya, wanita itu selalu bangun tidur saat matahari sudah berada di atas kepala.
...****************...
Sesampai nya di Perusahaan Mahesa II, aku langsung bisa melihat beberapa orang yang akan melakukan sesi Interview juga, namun hal itu tak mematahkan semangatku, aku harus bisa mengalahkan semua kandidat yang ada.
Tak terasa namaku di panggil dan aku melakukan sesi Interview di ruangan HRD perusahaan.
__ADS_1
" Selamat, Bapak Saya Terima di perusahaan ini". Ucap Sang HRD seorang lelaki yang tak terlalu Tua, mungkin masih berkisaran antara 30 sampai 35 tahun.
"Terimakasih Pak, terimakasih sudah mempercayakan saya untuk bergabung di perusahaan Ini". Ucapku tersenyum senang