
Pak Ahmad dan Bu Lastri yang tadi nya sedang terdiam, merenungkan fikiran nya masing masing langsung menoleh secara spontan saat mendengar suara yang tak asing di telinga mereka.
Ya benar sekali, suara itu adalah suara dari Mawar, putri semata wayang mereka yang kini tengah mengandung di luar nikah.
"War, Ibu sama Bapak sudah sepakat. Kamu dan juga Rio harus menikah secepat nya, Bapak kasih waktu selama satu minggu untuk kalian berdua mempersiapkan semua nya!". Ujar Pak Ahmad langsung to the point, mengingat usia kandungan Mawar yang sudah memasuki usia tiga bulan. Dimana perut wanita itu sudah sedikit membuncit jika di pandang dengan teliti.
"Apa pak? Mana bisa nikah persiapan nya cuma selama satu minggu saja pak, Mas Rio juga perlu mencari uang Hantaran dan Mahar buat Mawar dong. Kan Baoak sendiri yang meminta persyaratan itu". Ujar Mawar yang tidak setuju atas permintaan Bapak nya itu, sejujur nya dia sangat senang akan menikah secepat nya dengan Rio. Namun yang menjadi permasalahan nya, dia tidak mau jika menikah dengan buru buru bahkan persiapan nya hanya selama 1 minggu. keluarga Rio tidak akan mampu mencari uang yang sudah di tentukan oleh Pak Ahmad.
Padahal bapak nya sendiri yang memberi syarat itu, tapi sekarang ia di suruh menikah dengan buru buru. Mana ada uang Mas Rio secepat itu, bahkan orang nya saja masih di rawat di rumah sakit karena di kroyok preman yang tak di kenal.
Tiba tiba Mawar merasakan pusing di kepala nya, dia terlalu lelah memikirkan Rio saat ini. Entah kenapa Rio seakan tidak peduli dengan pernikahan nya, semenjak Pak Ahmad meminta uang hantaran dan mahar sejumlah yang sudah di tentukan. Fikiran dan firasat Mawar lah yang mengatakan seperti itu, wanita itu sendiri tidak tahu bagaimana mumet nya Rio memikirkan dan mencari uang sebanyak itu.
Sebenar nya Rio sendiri ingin menjual mobil nya sebagai uang hantaran dan mahar untuk pernikahan nya dengan Mawar, namun Rio sempat berfikir jika dia jual mobil nya lalu saat ia bekerja nanti naik apa? Rio sendiri enggan menaiki motor, lelaki itu selalu berfikir 'masak iya seorang manager perusahaan besar hanya menaiki sebuah motor, malu dong sama bawahan nya yang ada beberapa di antara nya menaiki mobil tuk pergi ke kantor'
"Hemm iya Pak, nanti bakal Mawar bicarakan sama Mas Rio dulu ya! Kalau gitu Mawar ke kamar dulu, kayak nya Mawar kurang enak badan". Ujar Mawar pamit untuk merebahkan diri nya di dalam kamar guna mengusir rasa pusing yang ada di kepala nya sampai sampai wanita itu tertidur.
Keesokan hari nya, Mawar sudah berniat untuk pergi ke rumah sakit untuk membicarakan perihal keluarga nya yang meminta cepat cepat dalam pernikahan nya.
Dia sudah dandan rapi walau sedikit menor, dengan pakaian yang sedikit longgar tidak seperti biasa nya yang selalu ia gunakan, karena Mawar sendiri sudah merasa jika perut nya sudah sedikit terlihat membuncit.
Mawar pun telah sampai di depan pintu ruangan Rio di rawat, saat membuka pintu sudah terlihat jika Rio di temani oleh Bu Ningsih dan juga Manda. Mereka bertiga pun sontak memalingkan muka nya ke arah pintu yang terbuka, dan menampilkan sosok Mawar di hadapan mereka semua.
__ADS_1
"Eh kamu sayang". Sapa Rio saat melihat Mawar berjalan menuju ke arah nya
"Mas, gimana keadaan kamu. Masih sakit sakit semua?". Ucap Mawar basa basi sebelum membicarakan inti nya
"Sudah lumayan sayang". Jawab Rio
"Oh ya, Bu, Mbak. Ini aku bawain sarapan, pasti kalian belum pada sarapan kan". Ujar Mawar sembari memberikan tote bag yang berisikan makanan
"Wah, makasih loh Mawar. Emang kamu paling ngertiin Ibu, tahu aja kalau Ibu dan Mbak mu ini belum makan". Ujar Bu Ningsih tersenyum kesenangan karena mendapatkan makanan gratis dari Mawar, sebab dia tak perlu mengeluarkan uang untuk biaya makan nya dan Manda nanti
"Iya nih, emang kamu calon adik ipar yang sangat pengertian". Ujar Manda menimpali
Akhir nya Bu Ningsih dan Manda menyantap makanan yang di bawakan oleh Mawar di ruangan itu, sebab mereka berdua malas jika harus berjalan ke arah kantin. Mumpung tidak ada dokter atau suster yang berjaga, maka nya mereka berdua mengambil kesempatan itu.
Rio yang mendengar perkataan Mawar itu, mendadak perasaan nya menjadi tidak enak. Pasti yang akan di bahas oleh Mawar tidak jauh dari pernikahan nya, berulang kali Rio menelan saliva nya.
"Aa..Aapaa sayang?". Tanya Rio
"Gini loh mas, Bapak sama Ibu meminta kita menikah cepat karena semakin lama perutku akan terlihat. Bapak memberikan waktu kita selama satu minggu untuk mempersiapkan semua nya". Ucap Mawar menjelaskan
"APA?". Tanya Rio terkejut
__ADS_1
Rio nampak syok mendengar ucapan dari Mawar yang mengatakan jika calon mertua nya memberikan waktu selama satu minggu lama nya untuk mempersiapkan pernikahan antara Rio dan Mawar.
Tubuh Rio seakan terasa lemas kembali setelah mendengar kalimat itu, seakan akan tulang di dalam tubuh nya melunak semua.
Lelaki itu tampak gelisah, bagaimana bisa dia mempersiapkan pernikahan nya hanya dalam waktu satu minggu saja. Apalagi saat ini diri nya masih di rawat di rumah sakit, dan belum bisa kembali tuk bekerja lagi.
Sama hal nya dengan Rio, Bu Ningsih dan Manda pun tak kalah terkejut nya mendengar pembicaraan Mawar dan Rio. Sampai sampai nasi yang masih di kunyah mereka ikut tersembur sangking kaget nya.
"Gimana maksud nya Mawar, Gila Bapak mu itu! Bagaimana bisa kita mempersiapkan pernikahan kalian dalam waktu satu minggu, bahkan bapak mu itu meminta persyaratan yang tak masuk di akal!". Ujar Bu Ningsih tak terima dengan keputusan Pak Ahmad yang meminta pernikahan mereka harus di adakan secepat nya
"Ya bagaimana lagi Bu, Ibu tahu sendiri lama kelamaan perutku ini akan terlihat dan warga desa pasti akan menggunjing keluarga ku. Apa Ibu lupa jika Bapak ku adalah seorang kepala desa, jika seluruh warga desa tahu bukan hanya Keluarga ku saja yang malu melainkan keluarga Ibu juga kan. Apa Ibu mau menjadi bahan gunjingan warga?". Ujar Mawar panjang lebar
"Ya tapi kan gk haru satu minggu, apa gk bisa lebih lama lagi. Ini pernikahan bukan main main loh".
"Iya Mawar, coba nanti kamu tanyakan dulu kepada Bapak mu. Siapa tahu nanti dia berubah fikiran, jujur saja jika selama satu minggu kita masih belum bisa, kamu tahu sendiri kondisi Rio sekarang bagaimana". Sahut Manda menimpali
"Hemmm baiklah Mbak, nanti akan aku bicarakan lagi sama Bapak dan Ibu".
"Nah gitu kan jadi enak". Ujar Manda
Selesai makan, Manda pun tak sengaja menyalakan sebuah TV yang berada di ruang inap Rio.
__ADS_1
Saat Tv menyala dan menampilkan sebuah acara Pesta yang terlihat sangat Mewah, bahkan acara itu di liput secara Live oleh seluruh stasiun TV. Namun fokus ke empat orang yang berada di ruang inap itu bukan pada acara nya, tetapi kepada satu orang yang tengah berada di sana.