
Yuli kini sudah tiba di rumah tepat pada pukul 7 malam. Ia baru saja di antar oleh Reyhan. Yuli melangkah dengan santai masuk ke dalam rumah.
Ceklek
Baru saja Yuli membuka pintu rumah, suara Dinda kembali terdengar.
"Hhmm yang abis ngedate," goda Dinda yang sedari tadi memperhatikan mereka dibalik kaca.
"Gak ngedate kok cuman ke pantai doang tadi," jawab Yuli santai.
"Tumben gak marah?" selidik Dinda. Biasanya adik iparnya itu sering marah-marah tidak jelas apalagi jika dikait-kaitkan dengan Reyhan.
"Kenapa sih Kak? aku marah salah, gak marah juga salah. Terus aku harus apaan dong? kayang gitu?" jengah Yuli langsung berlalu menaiki tangga untuk mengakhiri pembicaraan yang pastinya tak berbobot itu.
Dinda hanya tersenyum sambil memperhatikan punggung Yuli yang perlahan hilang dari pandangannya.
"Hhuufftt...."
Yuli menghempaskan tubuhnya di atas kasur sambil melihat langit-langit kamarnya. Hari yang melelahkan sekaligus menggembirakan menurutnya.
"Makin dilupain ada aja hal yang bikin aku terus ingat kamu" batin Yuli dengan pandangan mata yang masih pada langit-langit kamar.
Ting
Sebuah notif muncul pada ponselnya dan mengangetkan Yuli dengan getaran notif tersebut. Ia kemudian membuka pesan tersebut.
"Night"
Pesan dari Reyhan rupanya. Ia tersenyum membaca pesan singkat tersebut. Yuli tidak membalas pesan itu dan memilih mematikan ponselnya.
Yuli kembali diam dengan pikiran yang masih kemana-mana.
"Aaarrhhh!" Yuli mengacak-acak rambutnya frustasi dengan perasaannya sendiri.
Karena lelah, perlahan matanya menutup tidak bisa menahan ngantuk lagi dan ia pun tertidur.
Beberapa jam ia tertidur, cacing dalam perutnya menunjukkan eksistensi. Mereka men dj begitu hebohnya sampai-sampai Yuli tidak membendung laparnya lagi.
"Aahhh sial!" decak Yuli sebal.
Yuli kemudian beranjak dari tidurnya dan langsung berjalan menuju dapur.
"Eh maling, ngapain disini?" tanya Yuli asal.
Kesadarannya belum sepenuhnya kembali karena masih mengantuk, maka dari itu omongan yang dilontarkannya pun keluar gitu saja tanpa terkontrol.
Dinda yang disebut maling oleh Yuli, langsung menoleh. Ia mengerinyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sembarangan kalo ngomong," Dinda memutar bola matanya dengan tangan yang masih disibukkan dengan pembuatan kopi.
Yuli mengucek-ucek matanya, " Oh Kak Dinda"
"Hhmm" Dinda meresponnya dengan deheman.
"Gak tidur?" tanya Dinda.
"Laper," jawab Yuli sambil mencari-cari mie instan dalam lemari.
"Nah ketemu juga," senang Yuli menemukan penyelamatan perutnya.
Yuli segera menuju kompor dan memasak mie instan tersebut.
"Kakak sendiri kenapa belum tidur?" tanya Yuli.
"Ya emang gak ngantuk aja, ini juga aku bikinin kopi buat Daniel,masih banyak kerjaan kantornya" jelas Dinda.
Yuli pun mengangguk mengerti.
"Mau aku irisin bawang gak mienya?" tanya Dinda menawarkan.
"Bawang? enggak deh mana enak." Tolak Yuli.
"Oh ya udah,"
"Dih kenapa kamu senyam senyum gak jelas," heran Dinda memperhatikan Yuli. "Mikirin Reyhan ya?" duga Dinda membuat Yuli membuyarkan lamunannya.
"Eh enggak kok," elak Yuli.
Dinda terkekeh dibuatnya. "Udah balikan aja gih, entar kalau Reyhan kepincut janda baru tau rasa loh"
"Janda mana yang berani gatel Reyhan? awas aja aku tendang sampai pluto." Ucap Yuli cepat.
"Nah kan bener, kamu masih sayang kan sama Reyhan" makin gencar Dinda menggoda adik iparnya itu.
"Ciee pipinya merah dong hahaha" ucap Dinda baru menyadari ekspresi salting yang ditunjukkan oleh Yuli.
"Udah ah Kak Dinda ngawur aja, mending anterin sana kopi Kak Daniel" usir Yuli.
"Iya deh iya adik ku sayangg" Dinda mencubit kedua pipi Yuli karena gemas.
"Iihh sakit tau!" kesal Yuli.
"Yul, pulang tadi kamu gak mandi ya?"tanya Dinda yang mencium aroma tak sedap berasal dari tubuh Yuli.
"Heheh iya nih baru inget kalo belum mandi" Yuli menyengir malu.
__ADS_1
"Pantesan bau kambing," ucap Dinda.
"Sebelum makan kamu mandi dulu sana," pinta Dinda.
"Iya-iya" angguk Yuli.
Dinda pun meninggalkan dapur dan pergi menuju ruangan Daniel dengan membawa nampan berisi secangkir kopi.
Ceklek
"Ini kopinya sayang," Dinda meletakkan kopi buatannya tepat di atas meja kerja Daniel.
"Makasih ya sayang," Daniel meminum kopi yang dibuat oleh sang istri.
"Kamu merhatiin aku kok gitu sih?" tanya Daniel menangkap basah tatapan intens dari sang istri.
"Kenapa? kan kamu ganteng," puji Dinda membuat Daniel terkekeh.
"Ya gak segitunya juga kali," jawab Daniel tertawa.
"Aku takut nanti kamu diambil orang," ucap Dinda seketika membuat Daniel mengerutkan dahinya.
Daniel beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk pada sofa tepat di samping sang istri.
"Gak usah takut, aku itu milik kamu." Daniel meyakinkan sang istri diikuti membelai rambut istrinya.
Dinda tersenyum kecut. Sepertinya hatinya masih mengganjal.Dinda terus menatap lekat sang suami, begitu juga dengan Daniel.
"Udah satu tahun lebih loh kita nikah, tapi momongan gak kunjung dateng juga." Ucap Dinda menahan tangis.
"Kamu pasti pengen kan punya anak tapi aku belum bisa ngasi itu," lanjut Dinda.
Seketika Daniel mendekap kepala Dinda pada dada bidangnya. Entah kenapa tiba-tiba Dinda membahas hal ini.
"Apaan sih ini kayak anak kecil aja," senyum Daniel getir sambil mengusap kepala Dinda.
"Aku nikah bukan mau bikin anak, tapi ingin mencari pendamping hidup sampai tua nanti. Kalau masalah anak itu bonus sama yang di atas." Daniel menjelaskan perlahan dengan tangan yang masih mengusap lembut kepala sang istri.
"Tapi...."
Daniel melepas dekapannya dan kembali menatap lekat sang istri.
"Tapi apa lagi?"potong Daniel. "Kita cuman belum dikasih kepercayaan aja, lagian kita punya Gio kan?"
Dinda mengangguk mengerti atas penjelasan yang diberikan oleh Daniel.
"Aku gak mau lagi denger kamu bahas kayak gini ya," ucap Daniel mencium pucuk kepala Dinda.
__ADS_1
Dibalik keceriaan yang ditunjukkan Dinda setiap harinya, ternyata ada kesedihan yang mendalam.