Suami Pengganti

Suami Pengganti
Bagian 117


__ADS_3

Flashback On part 3


Daniel mengepalkan tangannya sudah bersiap untuk menjurus lawan bicara yang sedari tadi terus meremehkan dirinya.


"Eeyy santai dulu gak sih, serius amat mukanya." Di situasi seperti ini, Ikhsan masih bisa tertawa menganggap enteng pria yang sedang diajak bicara tersebut.


"Hemm" senyum miring nampaknya tergambar pada wajah Daniel.


"Dipikir-pikir kamu itu banyak gagalnya yah, ingin menghancurkan ku tapi sepertinya yang hancur itu kamu. Seorang rival yang tidak selevel dengan ku" Daniel melepaskan kepalan tangan tadi.


Kalimat yang terlontar dari Daniel berbanding membuat Ikhsan melototinya dengan begitu murka.


"Oh ya, kapan aku hancur?! hingga detik ini hidupku masih baik-baik saja." Tidak terima dengan statement yang diberikan oleh Daniel, Ikhsan lantas membantahnya.


Daniel berhasil menyulut emosi sang napi sekaligus buron tersebut.


"Baik gimana maksudnya?" muka remeh terpampang jelas pada struktur wajah Daniel.


"KURANG AJA! BERANINYA KAU!" teriak Ikhsan meninggikan kalimatnya.


BRAK


Satu tinjuan dari Ikhsan berhasil terelakan oleh Daniel. Hingga kepalan tangan Ikhsan meleset mengenai cermin berukuran besar.


Pecahlah cermin tersebut membuat kepingan kaca itu berhamburan ke lantai.


"Aaaaa" ringis Daniel tidak sengaja menginjak pecahannya hingga tembus pada sepatunya. Ia memejamkan matanya menikmati kaca yang melukai daging kakinya.


BRAK


BRUK


Disaat ayah satu anak itu lengah, Ikhsan mencuri kesempatan. Tinjuan dilayangkan pada pipi kiri dan kanannya.


Daniel merasakan panas yang amat pada pipinya akibat serang tak terduga oleh Ikhsan. Ia menatap tajam pada pria yang kini terkekeh.


BRUK


Meskipun sakit, Daniel mempergunakan kakinya untuk menjurus lawan tersebut.


Darah pun lantas bercucuran baik itu Daniel dan Ikhsan.Mereka saling beradu tiada henti sampai salah satu dari mereka menyerah.


Dilain sisi komplotan Daniel juga sibuk membereskan kurcaci peliharaan Ikhsan. Tangkis menangkis dan tinjuan mereka layangkan. Mengingat jumlah anak buah Daniel yang terbilang banyak dibandingkan komplotan Ikhsan, membuat semuanya terasa mudah dilakukan.

__ADS_1


Reyhan dan Amang juga turut ikut serta dalam perlawanan tersebut.


BRAK


BRUK


TRENG


PLAK


"Loh, Brigadir Guntur? sedang apa anda disini?" Amang kaget dengan keberadaan salah satu anggota polisi tersebut.


"Oh berarti anda si pengkhianat itu? anda yang membebaskan Ikhsan?" Amang mencecar brigadir tersebut dengan pertanyaan.


"Aahhh banyak tanya!" jawab Brigadir Guntur.


BRUK


"Aaaaa!" pekik Amang merasakan sakit pada perutnya akibat serangan dari anggota polisi tersebut.


Tuuuttttt


Tidak lama, bau-bau yang begitu familiar keluar dari salah satu lubang Amang.


"Kamu kentut?!" marah Brigadir Guntur.


"Heheh iya, dari tadi emang masuk angin. Ada gunanya juga kena tinju di sini" Amang tertawa malu sambil mengelus perut saking leganya.


"Sialan!" umpat Brigadir Guntur.


"Amang ngapain malah ngobrol!" tegur Reyhan.


Reyhan langsung mengunci leher Brigadir tersebut.


"Eh, eh apa-apaan nih?! berani-beraninya kamu!" kaget Brigadir Guntur berusaha melepaskan diri dari cengkraman Reyhan.


"Tali Mang, Tali!" titah Reyhan berusaha mempertahankan agar polisi hampir turun kasta tersebut tidak lepas dari cengkramannya.


"Dimana ada tali? hanya ada jerami disini?"ucap Amang tidak menemukan benda panjang itu.


"Itu bego!" umpat Reyhan kesal sambil menunjuk tali belati yang menjuntai pada tangga.


Amang langsung mengambilkan dan begitu cepat mengikat tangan dan kaki brigadir itu untuk diamankan.

__ADS_1


"Bisa-bisanya anda berkhianat! penjara menantimu!" ucap Reyhan menendang brigadir tersebut saking kesalnya.


"Aaaa!" ringisan brigadir Guntur mendapat hantaman dzolim dari Reyhan.


Kembali pada perseteruan Daniel dan Ikhsan. Mereka terus bergulat.


BRAK


Daniel menendang aset berharga milik Ikhsan. Tendangan tersebut membuat Ikhsan terpental sekitar 2 meter dari tempat.


Ikhsan sudah tak berdaya lagi. Daniel menginjak dada bidang Ikhsan, menatap penuh kemurkaan.


Nafas mereka tersengkal-sengkal tak beraturan. Ikhsan yang tampak begitu memprihatinkan.


"Kalau belum cukup mental dan fisik, gak usah jadi orang jahat!" ucap Daniel mengeluarkan pistol yang bersemayam di dalam saku jasnya.


Daniel meletakkan ujung pistol tersebut tepat di pada dahi Ikhsan. Tidak berdaya dan berbuat apa-apa lagi, Ikhsan pasrah, ia memejamkan matanya.


Daniel menghembuskan nafasnya kasar, memasukkan kembali pistol yang menempel pada dahi Ikhsan.


"Kenapa? bunuh sekarang! mangsamu sudah ada didepan mata!" ucap Ikhsan serak.


Daniel langsung berdiri menyingkirkan kakinya sendiri dari dada bidang Ikhsan.


"Aku masih waras, memanusiakan manusia" jawab Daniel. "Ya meskipun manusia yang ku manusia kan ini kayak dajjal!" lanjut Daniel.


"Ini terakhir kalinya aku melihat wajah bejat mu ini, jangan pernah muncul dari hidup kami. Oh iya satu lagi, jangan ganggu Sonya lagi, berani kamu melakukannya, perhitungannya tidak main-main untuk mu!" ancam Daniel.


Ikhsan diam. Entah dia merenungkannya atau malah memikirkan aset yang tertendang itu? hanya Tuhan lah yang tahu.


Daniel melambaikan tangannya memanggil Reyhan. Anak buah itu pun segera menemui Daniel.


"Ikat dia!" perintah Daniel.


Reyhan langsung mengikat Ikhsan dengan kuat. Tidak ada penolakan dari Ikhsan.


Tidak lama, polisi pun datang usai tersasar di pedesaan. Mereka langsung mengamankan pelaku buron tersebut.


"Brigadir Guntur?" kaget salah seorang polisi mendapatinya.


Wajah Brigadir itu nampak malu dipergok oleh polisi lain.


"Jadi anda?" polisi tersebut sudah berasumsi, yang asumsi tersebut pastinya benar.

__ADS_1


__ADS_2