Suami Pengganti

Suami Pengganti
SUAMI PENGGANTI - 84


__ADS_3

Alea dan Alex pergi keluar, Alea mengirim pesan pada Ben. Alea mengatakan pada Ben, jika ia akan pergi minum kopi bersama Alex.


***


Ben baru saja menyelesaikan rapat pentingnya. Ben kembali ke ruang kerjanya, Ben duduk dan meletakan ponselnya di meja kerja.


Ben kembali mengambil ponselnya, membuka pesan dari Alea. Ben membaca ulang dan memikirkan sesuatu. Ben merasa curiga, karena Alex begitu mendadak datang. Selama ini Ben memang tidak begitu dekat dengan Alex. Karena Ben menganggap Alex terlalu serakah dan gila harta.


Pernah beberapa kali Ben di mintai uang, pada awalnya Ben membantu karena melihat Alea. Namun karena merasa di manfaatkan Ben akhirnya melaporkan Alex ke polisi dengan tuduhan pemerasan.


Alea meminta Ben mengampuni Alex. Semenjak itu Alex tidak pernah lagi datang dan mengganggu Ben juga Alea. Alea menjamin Alex tidak akan berani mengusik kehidupan Ben lagi. Ben dengan berat hati mau mengampuni Alex. Ben juga tidak ingin membuat Alea kecewa.


Ben mengirim pesan pada Alea,


"Dimana kau sekarang?"


Tidak lama Alea membalas pesan Ben,


"Aku ada di kedai kopi dekat restorant Jepanng."


Ben mengirim pesan pada Alea,


"Baiklah, hati-hati."


Alea membalas pesan Ben,


"Kau tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mencemaskan ku, sayang. Aku mencintaimu."


Membaca pesan Alea, Ben tersenyum. Ben berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangannya.


Di luar gedung kantor, Agnes baru saja sampai di antar Kenneth. Mobil Kenneth berhenti di lobby utama. Saat ingin turun dari mobil, Agnes melihat Ben keluar dan langsung masuk ke dalam mobil.


Agnes melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam menunjukan pukul 10.00 pagi waktu setempat.


Agnes mengingat tidak ada jadwal Papanya yang mengharuskan untuk keluar. Semua sudah di tangani Agnes, oleh karena itu Agnes baru saja datang ke kantor. Agnes merasa curiga, Agnes memerintah Ken mengikuti Ben.


"Ikuti Papa, sayang. Mobil Papa sudah bergerak," pinta Agnes.


Agnes yang sudah melepas sabuk pengaman pun kembali memasangnya. Kenneth memgemudi mobilnya mengikuti mobil Ben. Kenneth mengikuti permintaan istrinya.


"Kenapa mengikuti Papa?" Tanya Kenneth ingin tahu.


"Entahlah, perasaanku ingin mengikuti Papa. Kau ingat kan? Papa seperti menutupi sesuatu, aku takut terjadi sesuatu pada Papa."


"Oke, kau tenang dulu. Jangan cemas dan panik. Papa mungkin ingin pergi bertemu klien atau seseorang lain. Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu," jelas Kenneth.


Kenneth menggapai tangan Agnes, membawa tangan Agnes kepangkuannya. Kenneth mengusap lembut punggung tangan Agnes.


Agnes memalingkan wajah menatap Kenneth. Kenneth juga memalingkan wajahnya. Mereka saling menatap dan tersenyum.


"Fokuslah mengemudi, sayangku. Jangan cemas, baik-baik saja."


Kenneth mencium punggung tangan Agnes, "aku menyayangimu."


Agnes meraba wajag Kenneth dan mengusap rambut Kenneth. Agnes mendekat dan mengecup pipi Kenneth.


"Terima kasih. Untuk segalanya," ungkap Agnes.


Kenneth mengusap kepala Agnes, "sama-sama. Terima kasih juga untuk segalanya."


"Kenzo beruntung memuliki Papa sepertimu, Ken."


"Pastinya Kenzo lebih beruntung karena kau Mamanya. Bicara soal kenzo, aku jadi rindu. Semoga dia tidak merengek di asuh oleh Bibi Hana."


"Putra kita pandai, dia tidak akan merengek. Pasti akan lebih banyak makan dan minum susu."


Agnes dan Kenneth bergurau dan tertawa bersama saat dalam perjalanan. Mereka masih mengikuti Ben dari belakang.


***


Alea dan Alex minum kopi di sebuah kedai kopi. Mereka duduk berhadapan, dengan secangkir kopi di hadapan mereka masing-masing.


Alex masih diam, dalam benaknya sudah terancang rencana-rencana yang akan menguntungkannya. Sedangkan Alea tidak menyadari jika dirinya dalam bahaya saat itu.


"Kau tau, Charlie tak mengiriminku uang akhir-akhir ini. Aku butuh uang," ungkap Alex.


"Kau butuh untuk apa? Kau tidak kekurangan uang, Alex. Aku juga sudah mengirimimu kan?" Komentar Alea.

__ADS_1


"Itu tidak cukup Alea. Kau tahu kan aku suka bersenang-senang. Uang darimu hanya untuk minum saja."


"Kau jangan hamburkan uang Alex. Tidak mudah mencari uang, jika kau ingin uang lebih, maka kau harus bekerja. Jangan hanya meminta dan mengandalkan orang lain," kritik Alea.


Alex merasa kesal pada Alea. Ucapan Alea membuatnya sakit hati. Ponsel Alea berdering, Alea mengmbil ponsel di tasnya dan melihat panggilan masuk dari Charlie.


Alea berdiri dari duduknya, "aku terima panggilan dulu. Kau pesan saja makanan jika lapar," ucap Alea, membawa tasnya pergi menjauh dari Alex.


Alea berdiri bersandar dinding dan menerima panggilan dari Charlie. Alea menatap ke arah Alex yang duduk bermain ponsel.


(Percakapan di telepon)


"Hallo," jawab Alea.


"Alea, kau baik-baik saja?" Tanya Charlie khawatir.


Alea bingung, "ya, aku baik. Kau kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Tanya balik Alea.


"Apa Alex menghubungimu? Dia mengatakan apa?" Cecar Charlie.


"Alex? Dia bersamaku saat ini. Kami sedang minum kopi diluar rumah."


"Di luar mana? Kau harus jaga jarak dengan Alex."


Alea mengernyitkan dahi, "kau bicara apa? Apa maksudmu, huh? Baiklah jika kau ingin tahu. Aku kan kirim lokasiku," jawab Alea memberi tahu Charlie.


"Oke, cepatlah."


Charlie langsung memutus panggilannya. Alea bingung, sikap Charlie begitu aneh. Alea langsung mengirim lokasinya pada Charlie saat itu juga. Alea berpikir mungkin karena Charlie ingin bertemu dengannya dan membahas soal Clarya, membuat Charlie seperti mendesaknya.


Alea kembali ke mejanya. Dia duduk di tempat duduknya semula. Alea melihat Alex asik bermain ponsel. Alea mengangkat cangkir kopinya dan menikmati kopinya.


"Ada keperluan apa kau datang, Lex?" Tanya Alea, meletakan kembali cangkir kopinya di atas meja.


"Aku butuh uang, Alea. Aku datang ingin minta uang," jawab Alex terang-terangan.


"Berapa yang kau butuhkan?" Tanya Alea.


"Tidak banyak, hanya sejumlah 3 kali lipat dari uang yang biasa kau berikan padaku."


Alex menatap Alea, "kau banyak bicara sekali Alea. Urusanku bukan urusanmu!" Bentak Alex.


"Kau membentakku? Itu urusanku jika kau ingin meminta uangku. Paham?" Bentak Alea balik.


Alex mengepalkan tangan di atas meja, Alex sangat kesal dengan Alea. Terlintas pikiran jahat dalam benak Alex, Alex ingin menyakiti Alea.


"Si*l, aku kesal sekali. Jika tidak mau beri ya sudah, tidak perlu banyak bicara. Jangan salahkan aku berbuat jahat padamu Alea. Aku akan mengambil paksa uangmu," batin Alex


15 menit berlalu, Alex dan Alea masih saling diam. Alea hanya ingin penjelasan dari Alex. Jika ada masalah, Alea akan membantu. Namun Alex salah paham dengan maksud Alea, mengira Alea terlalu banyak bicara dan mencampuri urusannya.


"Kau tau kan, aku bisa lakukan apa saja pada Clarya. Aku...,"


"Aku apa?" Potong Charlie yang sudah berdiri di samping Alex.


"Kau..., kenapa kau disini? Aku bahkan belum datang menemuimu."


"Apa ini? Charlie, jelaskan maksud Alex. Jangan membuatku bingung," ucap Alea menatap Charlie.


"Dia menghubungiku semalam. Mengancamku jika aku tidak memberinya uang, dia akan menyakiti Clarya dan kau. Itulah mengapa aku memintamu mengirim lokasimu."


Alea kaget, "Alex, benarkah seperti itu?" Tanya Alea menatap Alex.


"Brengs*k ini, tiba-tiba datang. Membuat rencanaku gagal saja. Aku akan singkirkan dia dulu, baru singkirkan Alea. Kedua orang ini tak boleh lepas," batin Alex.


Alex tertawa, tangannya meraba saku mantelnya. Alex ternyata menyembunyikan pisau lipat di sakunya. Alex mengeluarkan dan mendekati Charlie secara tiba-tiba. Alex langsung Charlie.


"Tidak!" Seru Alea terkejut tiba-tiba saja Alex menyerang Charlie.


"Rasakan ini," kata Alex puas mengejek Charlie.


"Ahhh...," desah Charlie merasa sakit, "kau Bedebah Alex. Kau, sshhhh...," desis Charlie.


Alea mendekati Charlie, "Charlie, kau oke?" Tanya Alea, "kau, apa yang kau lakukan, Alex?" Bentak Alea.


Alea panik, darah segar terus kluar menembus kemeja dan jas Charlie.


"Tolong..., tolong...," teriak Alea meminta pertolongan.

__ADS_1


Mendenagr Alea berteriak, Alex bergegas pergi. Berniat melarikan diri. Alex berlari menuju pintu kedai kopi untuk melarikan diri. Namun niatannya harus terhenti karen Ben menghadang jalannya.


Alex menatap jalan di depannya. Terkejut melihat Ben. Mata Alex melebar, Alex hanya diam berdiri.


"Kau mau apa? Minggir," perintah Alex.


"Setelah melukai orang kau ingin lari? Kau sungguh tidak punya perasaan. Jangan harap kau bisa lari!" Seru Ben.


Alex menyerang Ben, Alex ingin memukul Ben. Ben bisa membaca pergerakan Alex yang asal, membuat Ben dengan mudah menghindar dari serangan Alex. Ben mengembalikan pukulan Alex, Ben menghajar Alex sampai Alex tersungkur di lantai. Ben menyatukan kedua tangan Alex di belakang dan memegangnya kuat-kuat dengan tangan kiri. Tangan kanan Ben menahan kepala Alex yang sudah mencium lantai kedai. Ben meminta bantuan kepada pelayan kedai untuk mengambilkan tali dan memanggil polisi juga tim medis datang.


----- ----- ----- ----- -----


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Oh My Husband


•Menjadi Istri Simpanan


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..


Salam hangat,


"Dea Anggie"

__ADS_1


__ADS_2