Suami Pengganti

Suami Pengganti
Bagian 106


__ADS_3

"Aku setuju sih kalau kamu sama ini, dari pada yang kemarin bikin kamu sakit hati aja." Ucap Rika disela-sela makannya. Ia sangat mendukung sahabatnya dengan pria yang duduk satu meja dengan mereka.


Perkataan yang dilontarkan Rika sama sekali tidak membuat Yuli tersenyum. Dia malah kaget dan melotot kan matanya kearah wanita itu.


"Sakit hati? siapa yang berani bikin kamu sakit hati?" tanya Reyhan menanggapi penuturan dari Rika.


Rika menghela nafas dan memasang wajah teduhnya kala mengingat kejadian yang menimpa sang sahabat.


"Aku ingat banget deh gimana kamu nangis dihadapan aku gara-gara tuh cowok sialan yang mau nikah itu." Lanjut Rika.


Reyhan memandangi Yuli dengan seksama sudah terjawab dengan sendirinya. Seketika clue yang diberikan oleh Rika berhasil terjawab.


"Sialan!yang kemarin kan emang Reyhan orangnya." Yuli membatin kesal dan masih dengan tatapan tajamnya.


"Oh iya cowok yang kemarin namanya..."Rika mengetuk dagunya dengan jari telunjuk mencoba untuk berpikir.


"Hhmm siapa Yul yang kemarin?" tidak bisa mengingat," Rika sekilas menatap Yuli mengisyaratkan untuk membantunya mengingat.


Tidak menggubris isyarat yang diberikan Rika, Yuli balik dengan lototan agar Rika berhenti membahas itu karena orang yang sedang dibicarakannya ada dihadapan mereka.


"Ah sudahlah Rik, mending kamu lanjutin deh makannya." Geram Yuli sambil merapatkan giginya.


"Tapi....."


Belum terselesaikan kalimatnya,Yuli langsung membungkam mulut Rika dengan dua bakwan sekaligus hingga sahabatnya itu tidak bisa bicara.


Kini Rika hanya terfokus pada makanannya. Ia berusaha untuk menelan saking penuhnya mulutnya.


"Gila kamu Yul!" kesal Rika namun tak begitu jelas didengar oleh Yuli.


"Apa? lagi?" tanya Yuli sambil menaikkan satu alisnya.


Rika menggeleng tidak mau. Yuli tersenyum puas kala bisa mengerjai sahabatnya itu.


Rika kemudian minum kala semua makanan yang berada di dalam mulutnya tertelan dengan susah payahnya.


Reyhan yang sedari tadi menyaksikannya hanya terkekeh.


"Ahhh lega," ucap Rika usai melepas dahaganya.


"Tega amat sih Yul!" kesal Rika memarahi Yuli.


Yuli hanya tertawa bukannya takut kala mendapatkan amarah dari Rika.

__ADS_1


"Oh iya tadi kita sampai mana ya?" tanya Rika kembali berulah.


Yuli yang awalnya sedikit tenang kembali naik pitam.


"Oh nama pacar kamu yang dulu itu...."


"Reyhan." Balas Reyhan sendiri.


"Nah iya Reyhan namanya!" seru Rika baru mengingatnya tanpa tahu bahwa orang yang dibicarakannya tepat berada disana.


Karena geram Yuli langsung menginjak spontan kaki Rika.


"Awww! sakit Yul!" ringis Rika kaget mendapati hantaman Yuli secara tiba-tiba.


"Lagian kamu ngomong gak ke filter!" kesal Yuli.


"Gak pake filter apaan sih Yul? orang yang aku bilang apa adanya kok. Reyhan kan nama mantan kamu yang mau nikah itu?" masih tidak mengerti, Rika berucap dengan polosnya.


Yuli hanya bisa menggaruk leher belakangnya karena malu. Inikah yang dinamakan menghibah terang-terangan?


Rika diam sejenak entah apalagi yang sedang dipikirkannya. "Oh iya ternyata nama kami sama kayak mantannya si Yuli," celetuk Rika.


Reyhan sontak saja terkekeh melihat kepolosan dari Rika.


Tidak bisa diajak kerjasama, mungkin harus to the point adalah cara satu-satunya untuk membuat Rika berhenti mengoceh.


"Oh jadi ini orangnya Yul?" Rika yang tadinya mendukung kini menatap tidak suka pada Reyhan.


"Mau ngapain ngedeketin Yuli lagi? kan udah ada istri katanya!" sindir Rika tanpa tahu kebenarannya.


Reyhan dan Yuli langsung mengeriyitkan dahinya.


"Tolong digaris bawahi dulu, aku itu belum nikah apalagi sampai punya istri." Reyhan pun mengoreksi kalimat Rika.


"Yul, apakah kamu tidak curhat kembali bagaimana kemudian perjuangan untuk mendapatkan mu?" Reyhan mengalihkan pandangan pada pujaan hatinya yang bagaikan bintang, sulit untuk digapai.


Yuli mengerutkan dahinya, "Kamu ingin diakui perjuangannya?"


Reyhan meneguk air minum, "tidak juga, tapi ku pastikan aku akan mendapatkan mu."


Reyhan menatap tulus pada Yuli.


"Heh jangan mimpi! udah nyakitin juga, datang-datang mau ngedapetin lagi. Sehat anda?" geram Rika sudah mengerti.

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan Rika, buku yang sama dibaca untuk kedua kalinya endingnya tetap saja akan sama." Tutur Yuli memberikan sebuah perumpamaan.


Kali ini kedua sahabat itu kembali kompak.


"Bagiamana kalau ku tambah cerita di dalamnya? apakah endingnya masih akan sama?" Reyhan menaikkan alisnya membuat Yuli terdiam.


"Itu berarti bukan buku yang sama lagi, namun buku yang baru." Balas Yuli.


"Udah ah, ayo Rik kita pergi!" Yuli langsung beranjak dari duduknya dan menarik tangan Rika untuk pergi menjauh.


"Jangan deketin Yuli lagi!" peringat Rika memainkan dua jari pada matanya.


Suasana dimalam hari.


Kini Daniel sudah pulang dari kantor. Hari yang cukup melelahkan menguras pikiran.


"Dinda mana?" gumannya tidak mendapati istrinya di lantai dasar.


"Papa!" seru Gio berlari menghampiri Daniel yang masih berada diambang pintu.


"Gio!" seru Daniel balik dan diikuti dengan pelukan pada putranya itu.


"Jangan cepat-cepat larinya sayang, entar terjungkal kenyataan sakit loh," gurau Daniel.


"Heheh pengen juga ngerasain dijungkal kenyataan. Rasanya gimana ya Pa?" polos Gio.


"Takut tambah dewasaaaa" Daniel malah menanggapi pertanyaan Gio dengan sepenggal lagu.


"Mama mana?" tanga Daniel.


"Mama ada dikamar, lagi tidur." Jawab Gio.


"Tumben, biasanya gak cepat tidurnya. Mama lagi sakit?" tanya Daniel kembali.


"Kata mama sih tadi cuman pusing," terang Gio.


"Oh gitu," Daniel mungut-mungut mengerti.


"Emm bau asem, papa belum mandi?" celetuk Gio.


"Eh iya nih Papa belum mandi hehe,"ucap Daniel sambil menyengir.


"Ya udah Papa mandi dulu ya, Gio ke kamar dan tidur ya." Lanjut Daniel sambil mengelus kepala Gio.

__ADS_1


"Siap bos!" jawab Gio memberi hormat bak seorang pemimpin upacara.


__ADS_2