
"Kacau semuanya!"omel Deniel sambil melontarkan lototan pada ketiga manusia pengacau itu.
Dinda pun juga begitu, ia menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapannya terus tertuju pada ketiga orang itu sambil geleng-geleng kepala.
Yuli, Reyhan, dan Amang hanya menundukkan kepala. Padahal dalam batin mereka, mereka sudah tertawa brutal saking ngakaknya.
"Lanjutin aja Bos, anggap aja kami gak ada." Amang memicingkan senyuman.
Deniel langsung menjitak kepada asisten yang satu ini, Amang.
"Berhenti berbicara, dari tadi ingin sekali aku mempelitir mulutmu itu!" gertak Deniel.
Deniel sudah jengah mendengar omongan Amang.
Amang langsung menutup mulutnya setelah mendapatkan ancaman keras dari sang bosnya.
"Gimana,Sayang? kita apakan ketiga orang ini?" tanya Deniel meminta saran dari Dinda.
"Ah sudahlah aku malas sekali hari ini!" jawab Dinda membuat ketiga pengacau itu bisa bernafas lega.
"Tapi kan..."
"Sekarang aku cuman pengen pulang aja! sekarang!" potong Dinda berjalan lebih dulu menuju mobil.
"Sayang, tunggu!" tanpa pikir panjang Deniel langsung berlari mengejar istrinya.
Dinda lebih dulu masuk ke dalam mobil dan tidak lama Deniel pun juga ikut masuk.
Dinda memalingakan wajahnya ke arah kaca mobil. Hari ini sepertinya moodnya sangat berantakan sekali.
__ADS_1
"Masih ma..."
"Nyalakan mobilnya dan tancap gas untuk cepat sampai di rumah!" ketus Dinda yang sekali lagi memotong kalimat sang suami.
Deniel geleng-geleng kepala melihat sikap sang istrinya. Ia pun menyalakan mesin mobil dan perlahan menjalankannya. Perlahan meninggalkan sumber emosi tadi.
Yuli yang melihat kepergian sang pasutri tersebut langsung memecahkan tawanya yang sedari tadi terus ditahan diikuti kedua pria itu.
"Bhahahahaha"tawa begitu nyaring ditengah tengah pantai. Mereka layaknya hantu penunggu pantai!
"Nona, hati-hati nanti dimusuhin satu rumah." Ucap Reyhan berusaha menghentikan tawanya.
"Enggak bakal, lagi palang mereka kali mereka makanya sensian kayak gitu." Ucap Yuli sambil memegangi perut karena sakit usai tertawa.
"Yang saya takutkan hanya satu, apakah gaji kita besok akan di potong?" Amang menatap Reyhan.
"Oh iya, aku melupakan hal ini. Tapi semoga aja tidak."Jawab Reyhan masih positif thinking.
Disisi lain pasutri yang sedang sensian itu pun telah tiba di rumah. Dinda pembuka pintu mobil dengan kasar dan langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah yang cukup cepat.
Deniel yang melihat langsung tertekun."Dia itu kesambet atau gimana sih?!"
Deniel menggaruk-garuk kepala frustasi menghadapi seorang wanita.
Perlahan Deniel membuka pintu kamar, terlihat sang istri yang sudah berbaring mengenakan piama tidur.
"Apakah dia sudah tidur?"batin Deniel membaringkan tubuh menatap sang istri.
"Wanita ini!" guman Deniel tersenyum.
__ADS_1
Deniel beranjak dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya menjadi baju tidur. Ia kemudian membaringkan tubuhnya kembali disamping sang istri. Ia memain-mainkan rambut sang istri yang begitu panjang.
Cup
Satu ciuman mendapat sempurna di bibir ranum milik sang istri. Tidak disangka ciumannya direspon oleh sang istri.
"Oh ternyata si ngambek ini sedang berpura-pura tidur rupanya,"batin Deniel memperdalam ciuman itu.
Dan akhirnya tangannya mulai nakal bermain-main pada lekuk tubuh sang istri. Tidak ada perlawan dari sang pemilik tubuh.
Sepertinya marahnya Dinda sudah pudar usai mendapatkan sentuhan Deniel. Ditemani sang bulan dan bintang, malam ini mereka berdua menghabiskan sisa-sisa waktu yang tersisa.
•••
Keesokan harinya...
"Kamu sudah siap,Nak?"tanya Mama Ratih pada sang anak.
Reyhan menghabiskan roti yang berada di mulutnya dan menoleh pada sang mama, "Iya,Ma"
Reyhan beranjak dari kursi dan memperbaiki jas yang dikenakannya. Hari ini Mama Ratih mengajak dirinya untuk datang ke rumah Mawar. Tapi kali ini diluar pasal tentang hubungan dirinya dan Mawar.
Mama Ratih sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengutamakan kehendaknya sendiri. Ia harus memikirkan perasaan sang anak, Reyhan.
Kali ini Mama Ratih hanya ingin menyambung tali silaturahmi yang beberapa tempo lalu sempat putus.
"Kamu tidak apa-apa kan Nak, kalau kita kesana?"tanya Mama Ratih.Ia khawatir dengan keadaan putranya saat berada disana nantinya.
"Aku tidak apa-apa,Ma." Reyhan tersenyum meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu."
Ibu dan anak pun pergi menggunakan mobil. Bagiamana pun juga keluarga Mawar cukup berjasa dalam keluarga mereka.