
Mereka pergi tidak berdua saja. Salma, istri kakaknya itu pun juga ikut bergabung.
"Si kembar beneran gak ikut nih Kak?" tanya Dinda sesaat sudah masuk ke dalam taksi.
Dinda membalikkan badannya menatap ke arah Salma yang saat itu baru saja duduk disampingnya. Ia menunggu jawaban pasti yang diberikan oleh istri kakaknya itu.
"Enggak Din, capek tau bawa dua anak ke mall." Salma sambil memutar bola matanya malas.
Ibu dari dua anak kembar itu cukup jengah mendapat sodoran pertanyaan itu-itu saja dari Dinda.
"Riweh tau bawa anak yang gak bisa diem. Biarin aja si kembar sama kakek neneknya." Jelas Salma membuat Dinda mengangguk mengerti.
Taksi pun berjalan menuju arah yang telah ditentukan oleh Dinda, yaitu mall. Diperjalanan mereka asik bercerita, mungkin lebih tepatnya berghibah.
"Anjing banget tau tetangga didepan rumah yang baru pindahan itu, orang nyapa malah marah-marah!" toxic Salma bercerita pengalamannya saat menyapa tetangga baru yang tidak jauh dari rumah mereka.
Yuli dan Dinda bukannya prihatin malah tertawa mendengar ceritanya.
"Kak Salma nyapanya kayak mau baku hantam kali hahahha" jawab Yuli.
"Mana ada Yul, ramah banget malah aku nyapanya." Salma membantah asumsi dari Yuli.
"Rasain tuh, ngapain juga nyapa orang yang gak dikenal?" ucap Dinda.
__ADS_1
Salma kemudian menghembuskan nafasnya perlahan, "ya kan kita sebagai tetangga yang baik harus menyapa dong. Hidup rukun bertangga"
Salma seakan ibu RT yang sedang menjelaskan pada warga kampungnya. Yuli dan Dinda saling bertatapan, sepertinya otak mereka memikirkan hal yang sama.
"Anjayyy" spontan Yuli tidak habis pikir dengan jalan pikirin Salma.
"Iya deh terserah Kakak," ucap Dinda menahan tawa. Ia tidak ingin melanjutkan perdebatannya tersebut.
Tidak lama dari itu, akhirnya mereka telah tiba di mall. Mereka bertiga pun segera turun dan membayar ongkos taksi yang tadi dinaiki.
"Kita nyari baju dulu gak sih?" tanya Yuli dibalas anggukan secara bersamaan.
Dasar perempuan. Pikiran pertama mereka saat berada dipusat perbelanjaan adalah pakaian. Entah seberapa banyak pakaian di lemari, mereka akan tetap membelinya mengikuti perkembangan zaman.
"Kayaknya aku mau beli minum dulu deh, kering nih tenggorokan." Ucap Dinda baru menyadari akan dahaganya.
"Mau aku temenin gak?" tanya Yuli menawarkan.
Dinda menggeleng, "gak usah, aku bisa sendiri"
Salma dan Yuli pun mengangguk dan berjalan menuju tempat pakaian.
"Ada yang mau dititip gak nih?" tanya Dinda membalikkan badannya.
__ADS_1
"Pengennya sih helikopter," sahut Yuli asal.
Mendengar jawaban asal itu, Dinda pun berjalan berlalu. Ia menuju tempat makanan.
Membeli secangkir minuman dingin berasa. Ia juga memesan cemilan kecil untuk dimakannya.
Menunggu pesanan, Dinda duduk terlebih dahulu sambil memainkan ponselnya.
"Kamu lembur hari ini?"
Tanya Dinda mengirim pesan pada suaminya. Namun tidak ada balasan sama sekali dari Daniel, bahkan hanya pesan tersebut hanya menampilkan centang satu.
"Sibuk banget nih kayaknya dia," guman Dinda pelan.
"Dinda,"
Panggilan yang sudah lama tidak Dinda dengar. Matanya mencari-cari sumber suara yang pelan nan samar itu, namun tidak menemukannya.
"Ah kayaknya cuman perasaan ku aja kali" tidak ingin ambil pusing, Dinda kembali memainkan ponselnya.
"Dinda"
Suara tersebut sangat jelas tepat dihadapannya. Dinda kaget atas kehadirannya setelah terakhir kali bertemu di rumah sakit tempo lalu.
__ADS_1
"...."