
Agnes membuka pintu kamar mandi perlahan, dia hendak keluar, dia mendengar keributan di luar.
Agnes mengintip, matanya melebar melihat seorang wanita datang menghampiri Kenneth. Ada Sekertaris Kenneth di belakang wanita itu. Agnes memasang telinganya, mendengarkan baik-baik apa yang sedang terjadi.
Dahi Agnes berkerut, Agnes fokus melihat dan mendengar kejadian didalam ruangan.
"Oh, berani sekali wanita ini. Belum tau siapa Nyonya Alexander. Lihat saja nanti, aku akan berikan dia pelajaran."
Agnes tersenyum jahat, Agnes kesal melihat Clarya merangkul Kenenth.
Agnes masih menunggu Clarya bertindak jauh. Agnes mengawasi Clarya, dan mengawasi Kenneth.
Kenneth merasa risih saat Clarya merangkul lengannya. Saat menatap Clarya, Clarya pun menatapnya dengan tatapan mata menggoda.
"Wanita ini, menyebalkan sekali!" Guman Kenneth dalam hati.
Kenneth menarik tangannya dari Clarya, " maaf Nona Robie. Jangan sembarangan menyentuh orang asing."
"Maaf Tuan, saya hanya ingin Anda mempertimbangkan kerjasama kita lagi. Saya bisa melakukan sapa saja untuk menyenangkan Anda."
Clarya begitu berani menggoda Kenneth. Kenneth tertawa mendengar ucapan Clarya, membuat Clarya bingung.
"Tuan, kenapa Anda tertawa?" Tanya Clarya ingin tahu.
Kenneth berjalan kembali ke meja kerjanya. Kenneth duduk di kursinya, menyilangkan kaki juga menyilangkan dua tangan didadanya.
"Nona Robie sangat ingin bekerjasama rupanya. Sayang sekali, Anda bukan tipe wanita yang saya sukai. Anda tahu? Wanita yang berdiri samping saya adalah super model dan aktris papan atas. Kecantikan mereka begitu luar biasa. Sedangkan Anda, saya rasa masih belum ada apa-apanya."
Clarya merasa kesal, baru kali ini ada pria yang mengatakan jika dirinya bukan apa-apa.
"Benarkah? Bagimu aku kurang cantik?" Tanya Clarya lagi.
Kenneth mengangguk, "kurang, sangat kurang!" Jawab Kenneth.
Di kamar mandi Agnes menahan tawa, ingin rasanya dirinya tertawa terbahak-bahak. Agnes merasa ucapan Kenneth sangat menyakiti Clarya. Bagaimana tidak, Kenneth langsung berterus terang jika Clarya bukan tipe wanita yang di sukainya.
Kenneth mengacuhkan Clarya. Kenneth membuka sebuah berkas dokumen dan mempelajarinya. Kenneth benar-benar menganggap Clarya seperti tidak ada.
"Berani sekali merayuku, Istriku lebih segalanya darimu, wanita topeng!" Maki Kenneth dalam hatinya.
Clarya berjalan mendekati Kenneth, Clarya hendak duduk diatas meja. Sebelum keinginannya tercapai, Agnes meranik tangan Clarya.
"Siapa yang izinkan kau duduk ditemlatku?" Ucap Agnes dingin.
Clarya terkejut, menatap Agnes. Kenneth diam melihat pertunjukan.
Clarya dan Agnes saling menatap, mereka kaget saat saling menatap.
"Kau...," ucap Clarya.
"Kau...," ucap Agnes.
Clarya dan Agnes bicara secara bersamaan. Kenneth mengerutkan dahi, masih duduk tenang di tempat duduknya yang empuk.
"Kau wanita yang menyiramku dengan jus jeruk kan?" Tanya Clarya.
"Oh, kau! Wanita sombong," sahut Agnes.
"Kau, kenapa bisa disini? Ada urusan apa?" Tanya Clarya lagi.
"Bukan urusanmu aku ingin lakukan apa. Yang seharusnya bertanya aku, kau ada perlu apa datang kesini."
"Jangan katakan kau datang dengan suatu tujuan. Apa kau bermaksud merayu Direktur Alexander?" Celetuk Clarya tiba-tiba.
Agnes tersenyum, "wah..., kau sangat pandai. Tentu saja aku merayunya, dia pria tampan dan penuh dengan pesona. Wanita mana yang tidak tergoda olehnya."
Agnes tersenyum cantik menatap Kenneth. Kenneth senang Istrinya memujinya. Dia tahu jika saat itu Istrinya sedang bermain drama dengan Clarya. Kenneth masih menikmati pemandangan dihadapannya.
Clarya tersenyum masam, "jika merayunya kau harus bercermin. Secantik apa dirimu, kau bukan tipenya. Jadi menyerahlah," ucap Clarya kesal.
"Oh, kau meragukan kemampuanku?" Agnes sengaja memancing Clarya untuk kesal.
"Kau jangan hanya banyak bicara! Buktikan jika kau mampu."
"Apa yang akan kau berikan atau apa yang akan kau lakukan jika aku bisa merayunya? Apa kau bersedia mengakui kekalahan?" Tanya Agnes, kembali menggoda Clarya.
"Jika kau bisa merayunya, aku akan keluar dengan bertelanjang kaki dari gedung ini."
"Ah, itu kau sendiri yang mengatakannya. Aku hany Akan menyetujuinya saja. Baiklah, aku setuju. Kau lihat baik-baik, apakah aku bisa merayu Direktur Alexander atau tidak."
__ADS_1
Kenneth berguman dalam hati, "Istriku ini, bagaimana bisa mengerjai wanita topeng ssperti itu."
Agnes berdiri di samping Kenneth. Agens dan Kenneth saling menatap. Agnes mengedipkan satu mata sebagai isyarat. Kenneth hanya menorehkan senyuman tipis.
Agnes meraba dada Kenneth, memegang dan menarik dasi Kenneth, hingga Kenneth berdiri dari tempat duduknya.
Agnes perlahan meraba wajah Kenneth. Agnes mengalungkan tangannya keleher Kenneth. Mendorong tubuhbya mendekat pada Kenneth. Kenneth tidak menolak setiap setuhan Agnes.
Agnes mendekat dan mencium bibir Kenneth. Clarya kaget, melihat Agnes yang begitu berani. Diluar dugaan Clarya, Kenneth membalas ciuman Agnes. Didepan Clarya, Kenneth dan Agnes berciuman mesra.
Clarya yang tidak tahan langsung pergi begitu saja. Clarya keluar daru ruangan Kenneth, membanting pintu ruangan Kenneth.
Braaakkk....
Suara pintu yang dibanting.
Agnes dan Kenneth melepas ciuman. Mereka tersenyum lalu tertawa bersama.
"Kau sungguh memberiku kejutan sayang." Ucap Kenneth.
"Kau juga." Jawab Agnes.
"Apa dia wanita jahat yang kau temui saat kau membeli makan?" Tanya Kenneth.
Agnes mengangguk, "apa dia sungguh bukan tipemu? Dia sangat cantik dibandingkan aku."
"Dia bukan tipeku, dia hanya cantik karena riasannya. Berbeda denganmu, cantik alami." Kenneth memuji Agnes.
"Hm, benarkah itu? Kau semakin pandai bicara, Ken."
"Aku berkata jujur, sayang. Kau lah yang tercantik."
Agnes tersenyum, "baiklah-baiklah. Selesaikan pekerjaanmu dulu, oke?"
"Oke sayang," jawab Kenneth.
Agnes duduk di sofa menunggu Kenneth. Kenneth fokus menyelesaikan pekerjaannya, tak ingin membuat Istri kesayangannya menunggu.
--
Clarya kembali ke kantornya. Clarya mengobrak-abrik meja kerjanya. Clarya marah, hatinya kesal dan jengkel.
"Ahhhhhh...."
"Clarya...," sapanya pada Clarya.
"Joe, kemarilah!" Perintah Clarya.
Joe mematuhi perintah, datang mendekati Clarya yang berdiri memijat kepalanya.
"Ada apa, apa perintahmu?" Tanya Joe.
"Cari tau mengenai Direktur perusahaan Alexander. Cari tau semuanya, keluarganya, latar belakang, wanitanya juga. Cepat!" Kepala Clarya sakit mengingat kejadian saat dirinya berada di kantor Kenneth.
"Baiklah, aku akan mencari tahu semuanya dan segera kembali. Kau jangan marah-marah seperti itu."
Joe bergegas pergi dari ruangan Clarya. Sebelum melakukan apa yang diperintahkan Clarya, Joe pergi menghampiri ruangan Pamannya, Papa Clarya.
Tok....
Tok....
Tok....
Tok....
Joe mengetuk pintu, lalu membuka pintu. Joe masuk dan menutup pintu. Joe berjalan menghampiri seseorang yang duduk tidak jauh darinya. Seseorang itu tidak lain adalah Pamannya, Papa dari Clarya.
"Paman...," sapanya.
"Oh, Joe. Kau datang? Ada apa? Duduklah, sudah lama tidak bertemu kau."
"Bagaimana keadaan Paman?" Tanya Joe.
"Baik, kau baik? Kau datang menemui Clarya?"
Joe mengangguk, " aku dihubungi Clarya untuk datang. Saat ke ruangannya aku melihat emosinya tidak baik. Ruangannya berantakan, dan dia mengacak-acak meja kerjanya. Apa Clarya ada masalah?" Tanya Joe penasaran.
"Hmm, Clarya hidup jauh dariku begitu lama. Dia sangat manja dan egois. Jika dia sampai seperti itu kemungkinan besar dia tidak mencapai keinginannya. Apa yang dia inginkan dengan mencarimu? Apa perintahnya padamu?" Tanya Papa Clarya pada Joe.
__ADS_1
"Clarya memintaku mdncari informasi mengenai Direktur perusahaan Alexander. Paman tahu sesuatau?" Joe menjawab pertanya Pamannya dan kembali bertanya.
"Setahu Paman, sekarang perusahaan Alexander dikendalikan oleh Putra bungsu James Alexander. Tetapi, kenapa Clarya memintamu mencari informasi lebih detail? Apakah ada sesuatu? Clarya tidak menceritakan sesuatu, Joe?"
Joe menggeleng, "tidak ada Paman. Clarya hanya memintaku mencari informasi mengenai seseorang itu saja."
"Ada apa dengannya, semakin lama semakin banyak kemauan. Aku cemas," keluh Papa Clarya pada Putri tunggalnya itu.
"Baiklah paman, aku harus segera pergi mencari tahu. Jika tidak aku takut Clary akan semakin marah dan kesal. Jika ada kesempatan, paman bicaralah baik-baik pada Clarya."
"Ya. Berhati-hatilah,Joe."
"Ya,Paman."
Joe pergi meninggalkan ruangan Pamannya itu. Papa Clarya berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangannya. Dia ingin menemui Putri kesayangannya, Clarya.
---------- ---------- ----------
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Oh My Husband
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
__ADS_1
Salam hangat,
"Dea Anggie"