
Dinda cukup kaget dengan kehadiran pria yang kini tengah berada dihadapannya.
"Apa kabar, Din?" sapanya sambil menampilkan seulas senyum.
"Baik," jawab Dinda.
"Kesini sendirian aja?"tanya Dinda tidak melihat satu orang pun yang menemaninya.
Secara logis, tidak mungkin pria berkursi roda itu bisa datang ke mall ini sendirian.
"Aku kesini sama suster yang merawat ku," jawab Bayu ramah.
Ya, dia adalah Bayu. Pria yang dulu pernah mengisi hati Dinda. Namun itu hanyalah masa lalu.
Dinda cukup prihatin dengan kondisi Bayu yang hanya bisa terduduk di kursi roda. Kaki nya lumpuh usai kecelakaan tempo lalu di hari yang harusnya menjadi hari yang sakral itu.
"Kamu jangan sedih Din, aku sekarang udah biasa menjalani hari-hariku bersama kursi roda ini." Bayu berucap setelah melihat ekspresi kesedihan yang terpampang dengan jelas pada raut wajah wanita yang sampai detik ini masih dicintainya.
"Hahaha aneh, kelilipin ini" elak Dinda dengan tawa renyahnya.
Bayu pun juga ikut tertawa mencairkan suasana yang sedikit canggung antara mereka berdua.
Dinda bukannya menyesal, tapi ia iba mendapati kondisi Bayu yang sudah tidak seperti dulu lagi.
"Syukur kamu bisa selamat pada kecelakaan itu," ucap Dinda dibalas dengan anggukan oleh Bayu.
"Oh iya aku juga minta maaf atas semua kesalahan ku, aku gak jujur sama kamu dulu." Ucap Bayu menundukkan kepalanya ke bawah.
"Ah sudah lah, itu udah lama juga. Kita juga udah punya kehidupan masing-masing." Jelas Dinda sudah melupakan masalah yang telah terjadi.
Dinda juga sudah move on dengan percintaannya itu. Kini ia juga sudah memiliki cintanya, yaitu Daniel.
"Iya kita udah punya kehidupan masing-masing, cis untuk pertemanan?" Bayu menentengnya jus yang baru saja diantar padanya. Ia mengajak untuk bersulang.
"Cis kita harus menjadi besti!" seru Dinda merespon ajakan dari Bayu dengan menenteng minumannya.
Mereka kemudian meminum minuman masing-masing.
"Kamu sendiri kesini sendirian?"tanya Bayu.
Dinda menggelang, "Kesini bareng Kak Salma sama Yuli."
Bayu pun mengangguk mengerti.
"Ini," Bayu memberikan sebuah kertas undangan.
__ADS_1
Dinda langsung mengambilnya.
"Peresmian toko kue." Dinda membaca isi undangan yang diberikan oleh Bayu.
"Iya, dateng yah." Ucap Bayu.
"Wah kamu punya bisnis kue sekarang?" tanya Dinda antusias.
"Hehe iya, kecil-kecilan aja. Lagian aku tidak ada kerjaan juga di rumah." Bayu malu mengatakannya.
"Ya aku tidak bisa lagi berkarier sebagai dokter, jadi aku hanya ingin mencari kesibukan dengan membuat kue." Jelas Bayu diikuti dengan seulas senyum.
"Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang sedang kamu jalani. Proud of you! Semangat Bayu." Dinda memberikan semangat pada orang yang kini telah menjadi temannya.
Bayu tersenyum mendapat support dari Dinda.
Bayu mengangguk. "Jangan lupa dateng ya, ajak juga suami kamu."
"Pastinya, aku akan melahap semua kue yang kamu buat hahaha" tawa Dinda dan beranjak dari duduknya.
"Oke Bayu, aku mau menemui Kakakku di sana," pamit Dinda usai mengambil pesanan yang sudah lama ditunggunya.
Dinda pun berlalu pergi menemui Salma dan Yuli.
"Bahagia sekali aku kalau kamu juga bahagia," guman Bayu menatapi kepergian Dinda yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Turut berduka deh sama selera fashion kamu," celetuk Dinda melihat adik iparnya itu mengenakan dress berwarna kuning.
"Bahahah asli kamu kayak tai," lagi-lagi kata-kata toxic Salma keluar.
Yuli sontak mengerutkan dahinya, ia lantas memutar badannya memamerkan dress yang menurutnya sangat elegan itu.
"Sekata-kata kalau ngomong, jelas-jelas bagus kayak gini!" ucap Yuli tidak setuju dengan pendapat dua wanita yang tengah tertawa cekikikan.
"Iya bagus kok, cuman jangan warna kuning" Salma memberikan saran.
"Loh kenapa, aku suka kok" memang batu, Yuli tetap bersikeras.
Dinda mencoel bahu Salma. Ibu kembar itu langsung menoleh.
"Sudah Kak, biarkan Yuli dengan seleranya. Lagian bagaimana pun modelan pakaian yang dikenakan olehnya, Yuli akan nampak cantik dimata Reyhan" ucap Dinda berhasil membuat Yuli tersipu malu.
"Lah backstreet nih ceritanya?" goda Salma ikut senang.
"Liat aja tuh jari manisnya," singgung Dinda mengkode dengan lirikan mata.
__ADS_1
Salma pun langsung memperhatikan jari manis milik Yuli. Terlihat jelas melingkar dengan sempurna cincin yang baru saja diberikan oleh Reyhan.
"Wah udah dilamar, harus ngundang Bunda Corla sih nantinya" ucap Salma sambil tertawa.
Mereka melanjutkan memilih pakaian. Tidak begitu banyak yang dibeli oleh Dinda, karena tidak ada yang menarik untuknya. Berbeda dengan Salma dan Yuli yang kini tengah kalap.
"Buset banyak banget, ini mau jualan didepan rumah?" kaget Dinda melihat begitu banyak belanjaan yang ditenteng mereka.
"Iya nih mau jualan nanti kain perca," balas Salma asal.
Dinda memutar bola matanya malas.
"Bisa tekor nih Daniel sama belanjaan mu yang banyak ini Yul," ucap Dinda.
"Kagak lah, insyaallah. Paling Kak Daniel kaget doang gak sampai jantungan" balas Yuli.
Mereka pun membayarnya. Karena lapar,mereka bertiga memutuskan untuk makan.
"Kak, tadi aku ketemu Bayu" ucap Dinda menatap Salma disela-sela makannya.
"Apa?!" kaget Salma.
"Ngapain lagi dia berani nampakin muka sama kamu? dasar penipu!" Salma masih kesal atas peristiwa tempo lalu.
"Eh tidak Kak," Dinda berusaha menenangkan Salma yang mulai tersulut emosi.
"Sekarang dia lumpuh Kak, gak bisa jalan lagi." Jelas Dinda.
Salma memang tidak tahu menahu dengan kronologis kejadian tersebut. Yang ia tahu hanya, Bayu tidak datang pada acara akad nikah.
Dinda pun menceritakan kronologi dari A hingga Z. Salma pun mengangguk mengerti. Yuli pun hanya mengangguk, tidak berani ikut berkomentar.
"Pesan aku, kamu itu udah jadi punya orang. Jadi Bayu itu bukan siapa-siapa. Ya kalau kata kasarnya orang asing lah." Ucap Salma.
Dinda mengangguk mengerti atas apa yang disampaikan oleh kakak iparnya itu.
"Kamu gak ada perasaan lagi kan sama dia?" tanya Salma.
"Uhuk uhuk!"
Sontak Dinda tersedak mendengar lontaran pertanyaan dari Salma.
"Nih minum," Yuli memberikan minum.
Dinda pun meminumnya, "Kakak ada-ada aja deh, ya gak lah!" bantah Dinda.
__ADS_1
"Bagus!"