
Malam semakin larut, Kenneth dan Agnes pamit pulang lebih dulu. Otniel masih ada di rumah Jesika, Sarah tidak mau di tinggal. Sarah menangis saat Otniel ingin pergi. Terpaksa Otniel tinggal dulu sampai Sarah tertidur.
Otniel memeluk Sarah tidur. Butuh waktu yang lama agar Sarah mau tidur. Seakan Sarah mengerti jika dia tidur Otniel akan pergi. Sarah mulai memejamkan mata perlahan-lahan, dan akhirnya terlelap tidur.
Sesaat setelah Sarah tidur, Otniel pun bangun dan menyelimuti Sarah. Otniel mencium lembut kening Sarah.
"Selamat tidur Sarah, mimpi indah." Bisik Otniel lirih.
Otniel turun dari tempat tidur, menata bantal di sekeliling Sarah. Otniel keluar dari kamar untuk berpamitan pulang pada Jesika.
Jesika bertemu Otniel saat ingin ke kamar, "apa sarah sudah tidur?" Tanya Jesika.
"Hmm, sudah.. kau juga istirahat, aku akan pulang sekarang." Jawab Otniel.
"Terima kasih Otniel, maaf merepotkanmu. Aku sungguh minta maaf menyita banyak waktumu untuk Sarah." Jesika merasa tidak enak hati pada Otniel.
Otniel tersenyum, "tidak apa. Aku sudah terbiasa seperti ini saat mengasuh Kenzo. Aku pulang dulu, selamat malam." Otniel melangkah untuk keluar rumah, Jesika mengantar Otniel sampai ke depan rumahnya.
Otniel masuk kedalam mobil, membuka kaca mobilnya. "Masuklah, di luar dingin." Kata Otniel.
Jesika mengangguk, "hati-hati di jalan." Jesika tersenyum dan melambai.
Lambaikan Jesika di balas Otniel yang perlahan melaju pergi bersama mobilnya. Otniel dan mobilnya sudah meninggalkan rumah Jesika. Seseorang tersenyum jahat dari balik pohon, kedua tangannya mengepal.
"Bagus! Sudah punya pria lain rupanya. Kau wanita ja**ng Jesika. Aku akan merebut anakku darimu." Kata seseorang itu terlihat kesal.
-----
Kenneth baru saja membaringkan Kenzo di box nya. Agnes keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati Kenneth yang berdiri di samping box Kenzo.
"Hmm, kau benar-benar papa hebat. Terima kasih sudah membantuku menidurkan baby Ken." Kata Agnes tersenyum.
Kenneth menatap Agnes, menarik pelan Agnes dalam pelukannya. "Terima kasih tidak pantas untukku. Aku lah yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih kau mau melahirkan anak kita. Maafkan aku, aku tidak di sampingmu disaat kau membutuhkanku." Kenneth memeluk erat.
Agnes tersenyum, Agnes melepas pelukan dan meraba wajah Kenneth. "Lupakan itu, ayo kita mulai semuanya dari awal. Hmm.. di masa itu kau memang tidak bersama kami, di masa ini kau harus bersama kami. Kau bisa membayar waktu yang terlewatkan saat itu sekarang Ken. Tidak ada kata terlambat untuk mencapai kebahagiaan." Kata Agnes dengan suara lembut.
"Kau yang terbaik sayangku, aku akan membuatmu dan anak kita bahagia. Aku akan selalu ada untuk kalian, menjaga dan melindungi kalian. Aku akan membayar semua hutangku." Kenneth memegang tangan Agnes yang ada di wajahnya, mencium lembut kedua punggung tangan Agnes.
Kenneth tersenyum, mencium kening Agnes. "Ayo tidur, besok aku akan menemui seseorang dan membicarakan hal penting." Kata Kenneth.
"Besok akhir pekan sayang, kau lembur bekerja? Apa ada masalah?" Tanya Agnes.
"Hmm, bukan pekerjaan sayang. Besok kita harus menemui papa dan mamamu, aku ingin menikah denganmu kembali." Kata Kenneth memantapkan hati.
Agnes tersenyum, "Ken.." suara Agnes lirih. Agnes merasa tersanjung dengan perkataan Kenneth.
Kenneth tersenyum, mendekatkan wajqhnya dan mengecup bibir Agnes. Kenneth mengecup bibir Agnes berulang- ulang sampai akhirnya mencium intim bibir Agnes.
-----
Jesika bersiap untuk tidur. Jesika mendenagar bel rumahnya berbunyi. Jesika bangun dan turun dari ranjang, melangkah keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa yang datang?" Kata Jesika dalam hati.
Jesika sampai di depan pintu utama rumahnya, Jesika mengintip dari jendela rumah. Diluar tidak ada siapa-siapa, Jesika kembali melangkah untuk kembali ke kamar.
Ting tung..
Ting tung..
Bel rumah berbunyi lagi, Jesika kembali mengintip, melihat tidak ada orang. Jesika penasaran, perlahan membuka pintu.
Klekkk..
Pintu perlahan terbuka, Jesika berjalan keluar dan melihat sekeliling. Jesika melebarkan mata menyelisik sekitar rumahnya, tidak ada siapa-siapa. Jesika tidak menyadari jika ada seseorang yang bersembunyi di balik dinding rumahnya. Jesika berbalik dan kembali masuk, Jesika kaget, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya.
Seseorang itu membawa Jesika masuk dalam rumah, dia menutup pintu dan melempar Jesika ke sofa ruang tamu.
"Kau.. kau siapa?" Melihat seseorang yang memakai topi dan penutup wajah.
"Wanita ja**ng! Kau lupa pada suamimu huh?" Pria itu membuka topi dan penutup wajahnya.
__ADS_1
Jesika kaget, "Theo." Suara Jesika gemetar.
"Sayangku, kita kembali bertemu. Kau tidak merindukanku?" Theo mendekati Jesika, Jesika berdiri dan berjalan mundur menghindar. Jesika ketakutan, tubuhnya gemetar.
"Kau mau apa? Pergi! Jangan ganggu aku." Teriak Jesika.
Theo tertawa keras, "ha ha ha.. sudah dapat yang baru kau tidak membutuhkan aku lagi? Pria mana yang menjajalmu Jesi? Kembalilah padaku, aku akan perlakukanmu dengan baik. Dan ya.. dimana anak kita?" Tanya Theo.
"Anak? Anak apa? Tidak ada anak." Jesika mengelak, Jesika tau Theo pasti berniat jahat.
Theo berjalan pergi meninggalkan Jesika untuk mencari Sarah. Theo pergi ke kamar untuk melihat, Jesika berlari menghadang Theo. Mencegah Theo bertemu Sarah.
"Kau mau apa Theo?" Jesika menatap tajam pada Theo.
Theo tersenyum tipis, "mau apa? Bukan urusanmu ja**ng!" Theo mendorong Jesika ke samping, Jesika terjatuh dan kepalanya terbentur ujung meja.
Theo berhasil masuk ke dalam kamar. Jesika merasakan sakit di kepalanya, perlahan menyentuh kepalanya. Matanya terbelalak melihat darah ditangannya.
Didalam, Theo melihat seorang bayi tertidur pulas. Theo menggendong dan pergi dari kamar.
Jesika melihat Theo menggendong Sarah, Jesika bangkit berdiri dan kembali menghadang Theo.
"Berikan Sarah padaku! Kau akan bawa anakku kemana huh? Kau brengs*k Theo, aku membencimu." Jesika ingin merebut Sarah dari tangan Theo.
Theo menepis tangan Jesika, Theo menampar wajah Jesika keras.
Plakkkkkk..
Theo mencengkram dagu Jesika, "ini anakku, jangan berani melawan atau aku akan membunuhnya!" Ancam Theo.
"Jangan kau lakukan itu, dia putriku Theo. Dia sangat berharga untukku. Aku mohon jangan bawa dia, kembalikan putriku Theo!" Jesika berusaha merebut Sarah di gendongan Theo.
Theo mendorong Jesika sampai jatuh. Dan pergi, Jesika menangis berusaha berdiri dan mengejar. Jesika tidak ingin kehilangan Sarah. Jesika dan Theo pun berebut Sarah sampai Sarah terbangun dan menangis. Theo akhirnya berhasil membawa pergi Sarah dari Jesika, Theo membawa Sarah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah Jesika.
Jesika bersimpuh, menangisi kepergian Sarah. Jesika tidak bisa mengambil Sarah dari Theo, Jesika merasa pusing, pandangan matanya gelap. Sesaat kemudian Jesika tergeletak tidak sadarkan diri.
-----
Keesokan harinya, Jesika terjaga dari tidurnya, kepalanya masih terasa sakit dan nyeri. Jesika melihat Otniel di hadapannya.
"Otniel.." panggil Jesika.
"Jesi, kau sudah bangun? Apa yang kau rasakan? Masih sakit?" Otniel khawatir.
Jesika menggeleng, mencoba mengingat kejadian semalam. Jesika menangis, "Sarah.." Jesika memanggil putrinya.
"Jesi tenang, aku sudah meminta orangku mencari dan memeriksa seluruh rekaman kamera pengawas. Kau tau siapa yang membawa Sarah?" Tanya Otniel.
Jesika mengangguk, "Theo, dia yang membawanya." Jawabnya dengan suara parau.
Mata Otniel melebar, "Theo.. suaminya itu kah? Tidak, bagaimana bisa Sarah berada di tangan orang seperti itu, meski dia papa kandungnya. Oh sial!" Otniel berbicara dalam hati.
Otniel mengeluarkan ponsel dan menghubungi sedeorang. Otniel menjauh dari Jesika untuk berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Otniel meminta seseorang yang berbicara dengannya untuk menyelidiki siapa itu Theo, Otniel memberikan sedikit informasi jika Theo masih saudara sepupu dari Kenneth Alexander. Otniel meminta menyelidiki semuanya secara menyeluruh dan tidak boleh terlewat satu pun. Seseorang di ujung telepon menyanggupi permintaan Otniel, mengiyakan permintaan Otniel. Otniel merasa lebih baik, Otniel pun mengakhiri panggilannya. Setidaknya sebentar lagi dia akan tau siapa sebenarnya Theo itu.
-----
Kenneth dan Agnes pergi mansion orang tua Agnes. Kenneth dan Agnes bertemu Ben di ruang kerja Ben.
Suasana hening, Ben pun membuka suara dan memecah keheningan ruangan. "Sampaikan apa yang ingin kalian sampaikan padaku. Aku akan dengarkan." Kata Ben menatap Agnes dan Kenneth bergantian.
Kenneth dan Agnes saling manatap, mereka mengangguk bersama. "Hm, papa.. sebenarnya aku dan Ken, hm.. kami ingin kembali bersama." Kata Agnes sedikit gugup.
Ben mengangkat satu alisnya, "apa? Kalian ingin bersama?" Tanya Ben.
Agnes mengangguk, "iya pa.." jawab Agnes bersuara lirih.
"Papa, ini semua salah ku. Marah saja padaku, jangan pada Agnes. Akulah yang memulai semuanya, akulah yang seharusnya bertanggung jawab. Papa.. aku ingin kembali bersama dengan Agnes." Kenneth bicara tanpa ragu, membela Agnes agar tidak disalahkan Ben.
"Oh, sejak kapan jadi seperti ini? Luar biasa, rencanaku sungguh sukses." Ben memutar kursinya dan duduk membelakagi Agnes juga Kenneth. Ben melepas senyumnya merasa puas dengan apa yang dilihat dan di dengarnya.
"Papa.." panggil Agnes.
__ADS_1
"Hmm," sahut Ben.
"Papa dengar penjelasan kami. Kami menyesalinya pa.." kata Agnes.
"Jadi kalian ingin bagaimana? Kalian.. (Ben berdiri dan mendekati Agnes juga Kenneth) siapa yang meminta kalian bercerai sejak awal? Sekarang kalian datang mengadu, mengatakan ingin kembali bersama? Kalian anggap papa ini apa hah?" Ben berpura-pura kesal.
Ben melihat Agnes dan Kenneth menunduk. "Kau Kenneth, sebagai pria kau begitu lemah, bisa papa katakan kau adalah seorang pengecut. Jika kau menyukai Agnes sejak awal bicara, jangan hanya diam dan melakukan hal yang membuat Agnes kesal. Kau juga Agnes, jika ingin berbaikan jangan berhenti ditengah jalan. Kau belum menyelidiki dan tau siapa wanita yang bersama Kenneth dengan egois langsung menyerahkan dokumen permohonan cerai pada Alfred. Apa kalian masih pelajar sekolah yang berpikiran dangkal? Sudah lama aku menantikan hari ini, aku terus menahan diri untuk berbicara pada kalian, sekarang biar aku pertegas. Kalian.. kalian saling suka atau tidak? Papa butuh pengakuan kalian!" Ben berjalan dan duduk di sofa ruang kerjanya. Ben melihat Agnes dan Kenneth yang duduk membelakanginya.
Agnes menatap Kenneth, Kenneth menatap Agnes. Mereka saling menatap dalam, tiba-tiba Kenenth memegang tangan Agnes. Kenneth menggenggam erat tangan Agnes.
Kenneth berdiri diikuti Agnes, mereka berdua berjalan mendekati Ben yang duduk di sofa. Ben diam, Ben menunggu putri dan menantunya bicara.
@@@@@... @@@@@...
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia
•Pelukan Hangat Paman Tampan
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Oh My Husband
•Pangeran Vampir
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)
•Vampir "Sang Abadi"
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
•Cinta Lama Yang Datang Kembali
•Mommy And Daddy (CLYDK 2)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
__ADS_1
"Dea Anggie"