Suami Pengganti

Suami Pengganti
Bagian 119


__ADS_3

"Haduh Amang," Yuli geleng-geleng kepala dan hidung yang masih ditutup dengan telapak tangannya karena kabauan.


"Din, biar aku jelasin ya supaya kamu gak salah paham," Sonya memegang lembut tangan Dinda. Ia tersenyum meski wajahnya pucat pasi.


Dinda membalas pegangan lembut Sonya, "gak usah, aku ngerti kok. Kalau pun harus dijelaskan, biarkan Daniel saja nanti. Kamu juga belum sembuh total, aku gak mau ibu nya Gio ini kepikiran"


Daniel mengangguk tanda setuju dan langsung merangkul bahu Dinda sambil mengusap perlahan.


"Iya Nya, itu tidak perlu" jawab Daniel dengan salah satu tangannya memegang tangan Sonya lembut.


Aksi Daniel tersebut tidak luput dari pandangan Dinda. Dinda hanya meneguk salivanya dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Tok, tok, tok


Ketukan pintu ruangan.Mereka semua saling pandang penasaran dengan tamu itu.


"Siapa?" tanya Daniel dengan suara keras.


"Ini saya Tuan, Amang" jawab Amang dari luar. "Saya boleh masuk tidak, Tuan?" lanjut Amang bertanya sambil memegang gagang pintu.


"Sudah beres belum perut mu itu Mang?" tanya Dinda menyela.


"Alhamdulillah sudah" jawab Amang.


"Ya udah masuk!" perintah Daniel.


Pintu pun dibuka. Sesaat Amang masuk ke dalam ruangan, wangi semerbak memenuhi ruang kubus tersebut mengalahkan bau kentut tadi.


"Hhmmmm" Reyhan mendengus sambil memejamkan matanya.


"Gila, bau jabyal!" celetuk Yuli risih dengan wangi yang berlebihan itu.

__ADS_1


"Jablay? tidak Nona, ini wangi pria dewasa!" seru Amang sambil berkacak pinggang menunjukkan eksistensinya seolah menjadi mafia.


"Habis dugem dimana sih Mang? wangi bener" ucap Daniel ikut merasakan wewangian yang dipakai Amang.


"Di booking tante-tante ya Mang?" tanya Reyhan sambil menepuk lengan Amang.


"50 puluh! 50 puluh!" sahut Dinda sambil tertawa.


"Ais tuduhan macam apa ini astaghfirullah" Amang sontak mengelus dada seolah menjadi ustad yang terzolimi.


"Saya sebenarnya abis mandi" jelas Amang.


"Jadi kamu pulang ke rumah, Mang?" tanya Sonya dibalas Amang dengan anggukan kepala.


"Hah?" semuanya kaget secara bersamaan sambil membentuk huruf O.


"Hhmm agak laen emang nih orang" Dinda mencecar Amang dengan jari telunjuknya.


"Terus pakai parfum banyak gini buat apa Mang?" tanya Yuli.


"Buat melet Nona, siapa tau manjur" jawab Amang sambil melancarkan kedipan mautnya.


Mendengar itu, Reyhan langsung melangkah lebar berdiri disamping Yuli.


"Gak liat nih Mang," Reyhan memamerkan cincin yang melingkar pada jari Yuli.


Deg


Seperti bom atom disiang bolong. Amang tersentak kaget dibuatnya.


"Han! bisa-bisanya kalian"

__ADS_1


"Udah deh Mang, mundur. Mau kamu kayang sekalipun Yuli punya aku" makin gencar Reyhan menggoda Amang yang tengah kesal tersebut.


Dinda, Daniel,dan Sonya yang menyaksikan perseteruan itu pun cekikikan tertawa. Seperti drama-drama di televisi!


"Cinta segitiga"celetuk Sonya.


Sekitar pukul 2 siang, Daniel memutuskan untuk pulang. Kini ayah satu anak itu sudah berada di dalam mobil. Tidak sendiri, ia membawa Dinda, istrinya untuk pulang.


Tidak ada obrolan antara keduanya sepulang dari rumah sakit tadi. Mobil pun dijalankan oleh Daniel dan perlahan meninggalkan tempat tersebut.


Sepanjang perjalanan, tidak ada topik pembicaraan. Dinda juga enggan untuk meminta kejelasan masalah tadi, dia memilih menatap pada kaca mobil melihat pemandangan.


Sesekali Dinda tertawa kecil mendapati anak kecil yang tengah bermain perosotan. Daniel melirik istrinya itu.


"Mau makan siang dulu gak?" tanya Daniel memecahkan keheningan.


Dinda menggeleng, "Gak deh"


Tidak ingin memaksa, Daniel pun mengangguk. Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah.


Dinda membuka pintu mobil untuk segera keluar. Aksi Dinda terhenti saat tangannya ditahan oleh Daniel.Dinda lantas menoleh pada tangan kekar itu.


"Kamu gak mau aku jelasin masalah ini?" Daniel menawarkannya, untuk meluruskan permasalahan yang membuat dirinya dan Dinda terkesan berjarak.


"Gak usah, udah lewat juga" Dinda melepaskan tangan yang melekat pada pergelangan tangannya.


Dinda langsung keluar menghiraukan Daniel yang diam mematung.


Di kamar, Dinda mengunci pintu agar tidak ada siapapun yang masuk termasuk Daniel.


Perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. Dadanya sesak sedari tadi. Air matanya kian deras, hidungnya memerah. Sakit apalagi menangis dalam keadaan tak bersuara.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu Niel!" Daniel memukul-mukul kemudi saking frustasinya.


__ADS_2