
Byurrrr
Mama Ratih mengguyur tubuh Reyhan dengan satu ember air sampai-sampai pria yang masih terkapar di lantai itu langsung bergelidik kaget atas guyuran air di malam hari.
Brak
Mama Ratih melempar kesembarang arah ember yang tadi digunakannya untuk mengguyur sang putra. Matanya begitu tajam memperhatikan Reyhan yang menggigil kedinginan itu.
"Apa kamu tidak tahu balas budi,Han?!"ucap Mama Ratih marah.
Reyhan diam tak menjawab. Ia masih sibuk menetralkan kewarasannya kembali. Kepalanya terasa sangat pusing dan wajahnya begitu sakit usai mendapat hantaman beberapa saat yang lalu.
"Apa kamu ingat,dulu yang bantu kita saat disituasi susah itu siapa? Pak Hendra! kamu harus ingat itu!"geram Mama Ratih mengungkit-ungkit kebaikan dari keluarga Mawar.
"Dan sekarang kamu menghancurkan semuanya. Hubungan baik kita dengan mereka seketika lenyap!" Mama Ratih terus meluapkan kekesalannya.
"Perjodohan ini juga adalah wasiat dari almarhum papa..."ucap Mama Ratih menyeka air matanya. Entahlah jika mengingat suaminya, dia sangat emosional.
Reyhan hanya tertekun mendengar semua luapan emosi dari ibunya.
"Sudah cukup,Nyonya!"tegur Deniel langsung masuk ke dalam rumah melihat pintu yang sudah terbuka lebar. Tidak hanya Deniel, Dinda pun juga ikut datang kesana.
Mereka dikagetkan dengan Deniel dan Dinda yang datang tiba-tiba.
"Ayo Han berdirilah, ganti baju mu itu!"perintah Deniel menghampiri Reyhan.
Semenjak sore tadi, Deniel terus saja risau memikirkan Reyhan. Dan akhirnya ia dan Dinda pun memutuskan untuk datang menemui Reyhan malam ini juga.
Deniel menuntun Reyhan menuju kamar untuk mengganti pakaian.
"Reyhan! Mama belum selesai!"teriak Mama Ratih namun tidak dihiraukan oleh mereka. Deniel terus membawa Reyhan menuju kamar.
Di ruang tamu itu menyisakan Dinda dan Mama Ratih.
"Nyonya, ayo duduk dulu" Dinda menarik lembut tangan Mama Ratih untuk duduk pada kursi.
"Tapi...."
__ADS_1
"Duduk lah dulu,"potong Dinda dan dituruti oleh Mama Ratih.
Dinda menatap tulus pada Mama Ratih. Ia tahu orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi mungkin langkahnya yang salah.
"Nyonya, saya tahu anda pasti ingin melihat Reyhan bahagia."Ucap Dinda perlahan sambil mengusap lembut tangan wanita paruh baya itu.
"Tapi sepertinya langkah anda salah dalam mengambil keputusan ini,"lanjutnya membuat Mama Ratih mengerutkan dahinya.
"Salah bagaimana, Nona?"tanya Mama Ratih. Menurutnya pilihannya sudah sangat tepat.
"Sebelum menjodohkannya, apa salahnya untuk menanyakan pada Reyhan dari hati ke hati dulu. Siapa wanita yang dicintainya, apakah benar Mawar?"jelas Dinda.
"Aku belum pernah menanyakan hal ini sebelumnya,"Mama Ratih tertunduk.
"Semuanya kacau..."lirih Mama Ratih dan perlahan meneteskan air matanya.
Dinda langsung memeluk Mama Ratih dan mengusap punggungnya dengan lembut.
Tidak lama, Deniel dan Reyhan pun datang. Kali ini Reyhan sudah berada di bawah kesadaran. Reyhan langsung duduk di samping sang ibu. Masih terlihat wajahnya yang membiru usai mendapat hantaman tadi.
Reyhan tidak menjawab dan hanya menggenggam tangan ibundanya.
"Hiks...hiks .." Mama Ratih beralih memeluk erat sang putra. Sepertinya Mama Ratih sadar akan kesalahannya.
Reyhan membalas pelukan tersebut dengan erat. Ia juga ikut menangis disela-sela pelukan tersebut.
"Maafin Mama ya, Mama terlalu egois."Ucap Mama Ratih menyesalinya.
"Iya,Ma. Aku juga minta maaf sama Mama. Karena aku, pernikahan ini dibatalkan."Ucap Reyhan sambil terus menghapus air matanya.
"Tidak Nak, kamu tidak salah. Mama terlalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaan kamu...hiks ..."tutur Mama Ratih.
Deniel dan Dinda terbawa suasana melihatnya sampai-sampai mereka tanpa sadar ikut mengeluarkan bulir-bulir air mata.
"Ssttt jangan nangis kamu,"bisik Dinda.
Deniel pun menoleh,"situ juga nangis" singgungnya.
__ADS_1
Mama Ratih kemudian melepaskan pelukan yang cukup lama itu. Beliau menyadari akan tamu yang masih berada disana menyaksikan semuanya.
"Saya sangat senang melihat kalian yang kembali berbaikan."Ungkap Deniel tersenyum.
Mama Ratih tersenyum.
"Nyonya,"ucap Dinda serius. "Jangan pernah melibatkan perasaan dalam hal balas budi. Reyhan punya hati, dia bisa memilih pasangan hidupnya sendiri."lanjut Dinda mengingat.
"Iya saya sudah mengerti, saya menyesal akan paksaan saya terhadap Reyhan."Ucap Mama Ratih.
"Han,Mama minta maaf ya"ucap Mama Ratih.
"Iya Ma, sudahlah jangan terus minta maaf, aku jadi gak enakan."Jawab Reyhan sambil menggaruk leher bagian belakangnya.
Semuanya pun tertawa.
"Semuanya udah clear kan?"tanya Deniel memastikan.
"Tapi bagaimana dengan keluarga Mawar?"tanya Reyhan risau.
"Jangan dipikirkan, ini pasti juga berat untuk mereka. Perlahan kita akan menjalin kembali tali silaturahmi ini."Ucap Mama Ratih menenangkan.
Reyhan mengangguk mengerti.
"Nyonya, jika semua ini sudah selesai, bisa kah saya menyuruh Reyhan untuk kembali berjuang?" tanya Dinda cekikikan.
"Heh!" tegur Deniel sambil menyenggol pelan badan istrinya.
"Berjuang? melawan penjajah maksudnya?"tanya Mama Ratih polos.
Seusai banyak menangis tadi, Mama Ratih kurang konek dalam arah pembicaraan yang dituturkan oleh Dinda.
Dinda tersenyum, "Itu loh yang..."
"Sudah Nona, nanti kami bicarakan lagi."Tahan Reyhan agar Dinda tidak melanjutkan kalimatnya.
"Udah jangan kamu bahas hal itu,"tegur Deniel sambil berbisik.
__ADS_1