
Jesika mengoles obat di luka Otniel. Otniel meringis, karena memang terasa sakit.
"Sakit?" Tanya Jesika.
"Hmhh, sedikit.." Otniel meringis.
"Sudah tahu sakit kenapa kau memukul dinding huh, dasar aneh." Jesika sedikit menekan saat mengoles obat di luka Otniel.
"Ouch.. hhh.. ini sakit Jesi." Otniel mengibaskan tangannya seketika itu.
Jesika menghela napas, " aku kesal, kenapa kau harus melukai dirimu sendiri seperti ini. Maafkan aku yang menyusahkanmu." Suara Jesika mengecil, Jesika menunduk.
Otniel meraih tangan Jesika, memegang tangan Jesika. "Aku baik-baik saja, aku hanya kesal. Aku kesal karena Theo tidak menghargaimu sebagai seorang wanita. Maafkan aku.." kata Otniel.
Mendengar kata-kata Otniel, Jesika merasa terharu. Jesika mengangkat kepalanya menatap Otniel, air matanya jatuh menetes. Otniel menyeka air mata Jesika dengan lembut, Otniel memeluk Jesika. Jesika tidak bisa lagi manahan air matanya untuk keluar, Jesika menangis dipelukan Otniel.
-----
Malam hari..
Kenenth dan Agnes berduaan di dalam kamar. Sedangkan Kenzo bersama dengan Elmia dan Ben.
"Sayang, tidurlah ini sudah malam." Kata Kenneth yang sudah berbaring.
"Hmm, tunggu masih ada halaman terakhir yang belum terbaca." Jawab Agnes yang duduk membaca di sofa.
Kenneth bangun, turun dari tempat tidur dan menghampiri Agnes. Kenneth duduk, berbaring di pangkuan Agnes. Agnes kaget, menatap Kenneth.
"Ken.." panggil Agnes.
"Hmhh, aku bosan menunggumu. Aku ingin disini." Kata Kenneth.
"Tunggu, aku selesaikan membaca novelku. Ini lembar terakhir, setelah ini kita tidur." Jawab Agnes, membelai lembut wajah Kenneth.
Kenneth menatap Agnes fokus membaca, dari bawah Agnes terlihat cantik, Kenneth mengambil buku dari tangan Agnes. Agnes menatap Kenneth, dahinya berkerut.
"Ken.." panggil Agnes.
"Hmm," jawab Kenneth.
"Ken berikan, aku masih belum selesai." Rengek Agnes.
"Beri aku ciuman," kata Kenneth.
"Tidak, berikan bukuku." Kata Agnes.
"Cium dulu, baru aku berikan." Jawab Kenneth.
"Biarkan aku selesaikan membaca, akan aku berikan apapun yang kau mau setelahnya oke? Kau mau aku menciummu? Aku akan menciummu setelah membaca." Agnes bicara serius.
Kenneth tersenyum, ide gila muncul dikepalanya. "Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu? Tidak akan menipuku kan?" Kenneth menyakinkan lagi.
Agnes mengangguk, "aku berjanji, apapun yang kau inginkan akan aku berikan." Agnes mengangkat jari kelingking tangan kanannya.
Kenneth senang, menyatukan jari kelingnnya dengan jari kelingking Agnes. "Baiklah, aku kembalikan bukumu. Aku akan menunggu dan bersikap manis." Kata Kenneth dengan mengembangkan senyuman.
Agnes hanya diam dan mengangguk, Agnes mendapatkan kembali bukunya. Agnes membaca halaman terakhir bukunya.
Kenneth dengan sabar menunggu, kenneth duduk memandangi Agnes yang sibuk membaca. Kenneth tersenyum, sudah tidak sabar untuk menerkam Agnes.
Beberapa saat kemudian, Agnes selesai membaca. Baru saja selesai menutup buku ditangan, Kenneth langsung mengejutkan Agnes dengan kecupan-kecupan mautnya.
"Ken.." suara Agnes tertahan.
"Sssttt, jangan berisik. Kau sudah berjanji untuk memeberikan apa yang aku inginkan, bukan? Ayo berikan aku ciumanmu." Pinta Kenneth, dengan tatapan mata menggoda.
"Tunggu, jika hanya ciuman mengapa posisimu seperti ini huh? Kenapa kau menindihku seperti ini?" Agnes membalas tatapan mata Kenneth dengan tatapan mata yang menusuk.
"Oh, bagaimana ya. Aku suka seperti ini, dan aku ingin kita lebih dari sekedar berciuman." Kenneth menggoda Agnes, tangannya perlahan mengelus wajah Agnes yang halus.
Agnes tersipu malu, Kenneth perlahan mendekat dan mencium bibir Agnes. Perlahan Agnes membalas ciuman Kenneth, ciuman mereka semakin dalam.
-----
Keesokan harinya
__ADS_1
Kenneth dan Agnes kesiangan bangun, disaat semua sudah selesai sarapan, Agnes dan Kenneth baru keluar dari kamar untuk sarapan.
"Bi, mana susu ku?" Kata Agnes lemas.
"Baik nyonya segera saya siapkan. Tuan ingin minum susu?" Tanya bibi pelayan.
"Boleh bi, terima kasih." Jawab Kenneth.
Kenneth menarik kursi dan meminta Agnes duduk, Agnes memijat-mijat bahunya dan menggosok pinggangnya.
"Maaf, apa sungguh sangat sakit?" Tanya Kenneth, Kenneth duduk di samping Agnes.
Agnes mengangguk, "lebih sakit dari saat itu. Tenagaku sangat besar Ken, ohh sakit.." Agnes mengeluh, mengusap-usap punggungnya.
"Maaf sayang, aku harus apa?" Tanya Kenneth.
"Gosok pinggangku yang sakit." kata Agnes dengan manja.
Kenneth mengusap pinggang Agnes lembut. Agnes merebahkan kepalanya di atas meja, menikmati tiap sentuhan Kenneth.
"Terasa lebih baik?" Tanya Kenneth.
"Mmh, kau yang membuatku seperti ini. Kau juga yang harus bertanggung jawab." Jawab Agnes.
"Maaf, aku terlalu bersemangat semalam." Kenneth mengakui perbuatannya.
Agnes tersenyum, mengangkat kepalanya dari atas meja dan menatap Kenneth. "Kau mengakuinya? Kau sangat rakus, seolah tidak ada hari untuk esok." Agnes menggoda Kenneth.
"Jangan menggodaku. Wajar aku terlalu bersemangat, kau sangat menggoda semalam dan aku hanya meyalurkan hasratku saja. Jangan hanya meyalahkanku, kau juga suka kan? Dasar kau, jangan berpura-pura lagi." Kata Kenneth yang masih mengusap punggung Agnes.
Agnes tersenyum, wajahnya merona. "Sudah jangan bahas itu lagi, jangan buat aku malu." Ucap Agnes tersipu.
Kenneth mendekat dan berbisik di telinga Agnes. "Jangan lagi menggodaku, atau aku akan menerkammu seperti semalam." Kata Kenneth lalu tersenyum tipis.
"Ken.." panggil Agnes.
"Apa?" Jawab Kenneth.
Agnes dan Kenneth saling memandang, mereka saling mengembangkan senyuman. Kenneth membelai lembut wajah Agnes, mencium kening Agnes.
Klekkk....
Pintu kamar terbuka, Ben masuk dan menutup pintu perlahan. Alea bermain bersama baby Kenzo, menatap ke arah pintu.
"Kau kembali? Dimana gelas airmu?" Tanya Alea melihat kedua tangan Ben kosong.
"Bagaimana bisa ambil air, putri dan menantu kita sedang bermesraan di meja makan. Lebih baik kembali dan tidak mengganggu mereka." Jawab Ben.
Alea tersenyum, "ah, begitu rupanya. Kemarilah dan bermain bersama kami." Ajak Alea yang sedang memijat-mijat lembut telapak kaki baby Kenzo.
Ben sebenarnya ingin mengambil air minum saat itu. Namun melihat Kenneth dan Agnes di meja makan, Ben kembali ke kamar tak ingin mengganggu Kenneth dan Agnes.
Ben berjalan mendekati tempat tidur, Ben naik ke tempat tidur dan menatap baby Kenzo.
"Kau sangat mirip papamu Ken, namamu juga, Kenzo Kenneth, Ken-Ken haha.." Ben tertawa mencium tangan baby Kenzo.
Baby Kenzo tertawa, memegang wajah Ben. Dan menepuk pelan wajah Ben, baby Kenzo terlihat gemas, sesekali mencengkaram hidung Ben mengoceh.
"Hmmmhh, mmmmbbhh.. mmmmmm.." baby Kenzo mengerang.
"Apa? Ayo bicara, mmmhh mbbbh.. kakek tidak dengar Kenzo bicara apa. Cepatlah besar dan bicara dengan suara lantang agar kakek mendengarnya." Ben mengusap lembut kepala baby Kenzo.
"Kenzo pasti sangat tampan saat dewasa, mungkinkah setampan Kenneth?" Sahut Alea.
"Tidak, cucuku akan setampan aku." Jawab Ben menatap dan melepas senyuman.
Alea tersenyum, menepuk bahu Ben. "Ya, begitu juga bisa. Setampan kakek Ben." Ucap Alea.
Alea dan Ben bermain dengan baby Kenzo. Mereka senang ada Kenzo yang bisa membuat mereka tertawa.
-----
Otniel menghubungi Alfred, Otniel meminta Alfred mengurus surat perceraian Jesika dan Theo. Alfred mengiyakan, setelah dokumen yang dibutuhkan berada di tangannya. Alfred segera berpamitan pergi dari rumah Otniel.
Otniel membawa Jesika dan Sarah ke rumahnya. Otniel mengatakan pada Jesika untuk sementara waktu ini tinggal di rumahnya. Otniel merenovasi rumah Jesika, Jesika senang mendengar kabar baik itu.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Otniel, sungguh aku senang sekali mendengarnya." Jesika terlihat senang.
"Yah, aku juga senang melihatmu tersenyum cantik seperti ini. Jangan sedih lagi, lupakan apa yang sudah terjadi, tersenyumlah Jesi." Kata Otniel.
Jesika mengangguk, "hmm.. berkatmu sekarang aku bisa selalu tersenyum. Ahh, ini sudah waktunya Sarah untuk makan. Aku akan bawa Sarah keluar, kau bisa makan lebih dulu." Kata Jesika.
Jesika melangkah melewati Otniel, tidak lama Jesika menghentikan langkahnya dan berbalik memanggil Otniel.
"Otniel.." panggil Jesika.
Otniel menghentikan langkahnya, berbalik menatap Jesika. "Ya.." jawab Otniel.
Jesika terlihat malu-malu, "lupakan saja, bukan hal penting. Aku akan melihat Sarah." Jesika buru-buru ke kamarnya.
Otniel tersenyum melihat tinggah Jesika. Otniel berbalik dan berjalan mendekati meja makan. Otniel bersiap menikmati sarapannya, karena harus berbincang dengan Alfred sebelumnya, jam sarapannya terpaksa mundur.
@@@@@... @@@@@...
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia
•Pelukan Hangat Paman Tampan
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Oh My Husband
•Pangeran Vampir
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)
•Vampir "Sang Abadi"
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
•Cinta Lama Yang Datang Kembali
•Mommy And Daddy (CLYDK 2)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
__ADS_1
"Dea Anggie"