Suami Pengganti

Suami Pengganti
SUAMI PENGGANTI - 82


__ADS_3

Hari-hari terlewati begitu saja. Alea, Charlie dan Clarya banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka berfoto, makan malam bersama. Dan pergi berbelanja.


Hari itu, Clarya ingin belanja ditemani Charlie dan Alea. Alea yang ingin menyenangkan perasaan Clarya pun menuruti apa kemauan putrinya itu.


Selesai berbelanja, Charlie, Alea dan Clarya makan siang bersama. Clarya begitu senang, merasa hubungan Papa dan Mamanya semakin dekat.


Alea tidak menyadari, jika setiap Alea pergi bersama Charlie dan Clarya, Ben selalau mengawasi dengan diam-diam. Siang itu Ben juga ada di Restorant, Ben menggenakan kaos, jaket dan memakai topi. Tidak lupa dia mengenakan kacamatanya. Ben melakukan itu karena Ben tak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada Alea.


Clarya, Charlie dan Alea sudah memesan makanan. Clarya berpamitan pada Papa dan Mamanya untuk ke kamar mandi. Hanya ada Charlie dan Alea tertinggal, Alea mencoba membuka suara berbicara dengan Charlie.


"Terima kasih sudah merawat dan membesarkan Clarya, Charlie. Aku berhutang paddamu," ucap Alea.


"Tidak ada hutang jika itu demi Anak. Clarya adalah Putriku, Putri kita."


"Kau tau, apa yang Clarya katakan padaku setiap waktu?" Tanya Alea.


"Katakan, apa?" Jawab Charlie.


"Clarya memintaku meninggalkan Ben, dan menikah denganmu. Clarya mengatakan Jika Ben perusak hubunganku denganmu. Aku sudah jelaskan Jika semua kesalahan ada pada Kakeknya. Ben sendiripun juga korban. Tetapi dia tidak mau dengar."


Chaerlie kaget, "maafkan aku Alea. Mungkin karena aku terlalu memanjakanya sehingga dia menjadi wanita seperti itu. Dia terbiasa memiliki segalanya, tidak ada yang tidak bisa di dapatnya. Hanya 1 hal yang tidak bisa aku berikan padanya. Yaitu, Mama."


"Semenjak berpisah darimu dan merawat Clarya. Aku tidak pernah lagi ingin memiliki hubungan dengan wanita manapun."


"Kau jangan egois, Dia butuh Mama. Kau juga butuh pendamping hidup. Seharusnya kau tidak perlu menutup diri, Charlie. Kau tidak akan tahu, kapan cinta itu datang dan mengisi kekosongan hatimu. Manusia boleh berencana, takdir hidup siapa yang tahu?" Jelas Alea.


"Kata-katamu sangat menyenyuh. Kau semakin bijaksana, Alea. Bagaimana hubunganmu dengan Ben?" Tanya Charlie.


"Kami baik-baik saja. Aku dan Ben sudah mulai dekat. Yah, seperti pasangan pada umunya."


"Baguslah jika begitu. Aku senang jika kau merasa senang dan bahagia."


Alea tersenyum menatap Charlie, tidak lama Clarya datang dan duduk di antara Charlie dan Alea.


"Papa dan Mama bicara apa?" Tanya Clarya.


"Apa saja tentangmu. Itu rahasia Papa dan juga Mama. Kau tidak boleh tahu," jawab Charlie menggoda Clarya.


"Papa..., Papa bermain rahasia dengan Mama?"


"Tidak ada sayang, Papa dan Mama hanya bicarakan hal biasa saja. Tidak ada rahasia. Jangan berpikir macam-macam," ucap Alea.


Clarya mengangguk, tidak beberapa lama pelayan datang dengan membawa pesanan.


Di meja yang tidak jauh, Ben terus mengawasi. Ponsel Ben berdering, panggilan dari Agnes. Ben menerima panggilan dari Agnes.


(Percakapan di telepon)


"Hallo. Papa...," panggil Agnes.


"Iya sayang, ada apa?" Tanya Ben.


"Papa dimana?" Tanya Agnes.


"Hm, Papa tidak dimana-mana. Papa di rumah saja."


"Papa tidak tahu, Mama pergi bersama Clarya dan Paman Charlie?" Tanya Agnes.


"Memangnya kenapa jika Mamamu pergi. Clarya juga putrinya."


"Aku kesal Papa, setiap kali pergi bersama Clarya salalu mengirimi ku foto. Aku tahu Clarya ingin menunjukan, jika dia bisa dapatkan Mama. Dan sengaja membuatku kesal."


"Biarlah, Papa tidak akan melarang Mamamu. Dia punya kebebasan sayang. Kau jangan berpikir buruk tentang Mama, ya. Percaya saja pada Mama. Mama tidak akan meninggalkan kita. Oke," tegas Ben pada Agnes.


"Baiklah Pa, aku harap juga begitu. Aku ingin Papa dan Mama selalu bahagia. Semoga apa yang aku pikirkan salah," jawab Agnes.


"Apa yang kau pikirkan tidak salah sayang. Tetapi Papa akan percaya pada Mamamu. Papa akan percaya," batin Ben.


"Hallo, Papa?" Panggil Agnes mendengar tidak ada suara.


"Ah, iya sayang? Maaf...," jawab Ben.


"Papa sungguh baik-baik saja? Tidak ada masalah kan, Pa? Jika ada apa-apa Papa bicara pada Agnes. Jangan Papa pendam sendiri."


"Iya sayang, Papa ingin keluar. Papa tutup telepon mu ya."


"Hm, oke Pa. Dahh..., Agnes sayang Papa."

__ADS_1


"Papa juga sayang padamu, pada Kenneth dan Kenzo."


Ben mengakhiri panggilan. Ben kembali mengawasai Alea. Sepanjang hari itu Ben terus mengawasi Alea. Ben kembali pulang saat Alea juga kembali pulang.


--


Agnes menghela napas panjang. Agnes meletakan ponselnya di nakas. Kenneth yang baru saja menidurkan Kenzo, datang menghampiri Agnes.


"Ada apa sayang?" Tanya Kenneth memeluk Agnes dari belakang.


"Aku kesal Ken. Sepertinya ada yang Papa sembunyikan."


Kenneth memeluk erat, mencium bahu dan leher Agnes. Agnes memegang tangan Kenneth yang melingkar di perutnya.


"Aku menyayangimu," bisik Kenneth.


Kenneth mencium, menggigit lembut daun telinga Agnes. Agnes tersenyum, Kenneth paling bisa menggodanya, menggoyahkan pertahanannya.


"Sshhhh, Ken...," desis Agnes.


"Hm, teruslah mendesis. Itu sexy sayang."


Tangan Kenneth tak bisa diam lagi. Tangan kekarnya sudah menjalar kemana-mana menjelajah tubuh Agnes.


"Ken, hentikan...," mohon Agnes.


"Tidak," tolak Kenneth.


"Ssshhhhh, Kenneth. Cukup...," lirih Agnes.


Agnes menggeliat seperti cacaing. Kenneth tersenyum miring, Kenneth menyukai gaya Agnes yang seperti itu. Sungguh sexy dan menggoda. Erangan merdu Agnes mendidihkan darah beku Kenneth. Kenneth tidak bisa menahan lagi, ingin segera memenangkan permaianan.


Kenneth memulai aksi bringasnya. Membuat Agnes tak kuasa menahan pucak kenikmatan. Agnes terkulai lemas menerima perlakuan Kenneth. Kenneth begitu hebat sampai membuat Agnes terus meracau tidak jelas, Agnes terus mengerang. Mendengar racau dan erangan istrinya, Kenneth terus asik bermain. Kenneth senang, bisa memainkan permaianan yang seru itu. Membuat istrinya dan dirinya sendiri basah karena keringat.


1 jam kemudian....


"Hhhh. Kau terus membuatku kesakitan, Ken. Pinggangku...," keluh Agnes.


"pinggangmu sakit?" Tanya Kenneth, "biar aku lihat," ucap Kenneth. Mengusap dan memijat lembut pinggang Agnes.


"Ouch, kau makan dan minum apa sampai begitu buas, huh?" Keluh Agnes.


"Aku ingin mandi," kata Agnes turun dari tempat tidur.


Belum sampai telapak kakinya menyentuh ubin lantai, Kenneth sudah lebih dulu menggendong Agnes. Kenneth membopong Agnes masuk ke dalam kamar mandi. Kenneth membantu Agnes membersihkan diri.


"Ken, cukup. Aku bisa sendiri. Jangan sembarangan menyentuhku," ucap Agnes.


"Kenapa? Aku ingin sentuh apa salahnya? Jika kau ingin bermain lagi, aku siap. Kau ingin permainan seperti apa?" Canda Kenneth. Kenneth suka menggoda Agnes.


Agnes kesal, memukul bahu Kenneth pelan. Bukannya marah pada Agens karena di pukul, Kenneth justru semakin berani memancing kekesalan Agnes. Kenneth terus menggodai Agnes. Kenneth meninggalkan begitu banyak jejak ciuman di punggung dan pinggang Agnes.


"Ken...," desis Agnes lagi.


"Kau mulai memancing lagi, sayang?" Seru Kenneth.


"Siapa memancing siapa? Kau ini," sela Agnes.


"Kau memancingku, kau menggodaku. Aku pria normal, jangan salahkan aku menerkammu."


"Baiklah, baiklah, aku menyerah. Aku kita bermain dan makan. Aku lapar," jawab Agnes.


Kennerth tersenyum tampan penuh kemenangan. Tanpa banyak bicara Kenneth kembali memainkan perannya. Suara-suara kembali menggema di kamar mandi. Kenneth kembali membuat Agnes lemas.


Di meja makan, Kenneth menyuapi Agnes makan. Agnes begitu lahap makan. Kenneth selalu di buat gemas oleh Agnes.


"Pelan-palan makannya. Tidak akan ada yang berebut denganmu."


Kenenth mengusap tepi bibir Agnes dengan kain lap mulut. Agnes menatap Kenneth, Kenneth menatap Agnes. Pandangan mata mereka bertemu.


Deg....


Deg....


Deg....


Jantung Kenneth berdebar. Kenneth segera memalingkan wajahnya menatap arah lain. Kenneth menutup mata sekilas, menghela napas panjang.

__ADS_1


"Ah, istriku kenapa begitu cantik dan menggemaskan setiap waktu. Sudah sekian lama bersama, jantungku terus berdebar melihatnya. Aku akan gila jika seperti ini. Oh...," batin Kenneth.


Sesuatu menyentuh tangannya, ternyata tangan Agnes. Seketika Kenneth memalingkan wajah menatap Agnes. Agnes tersenyum cantik.


"Kau kenapa? Melamun?" Tanya Agnes.


"Iya. Aku memikirkanmu," jawab Kenneth tanpa sadar.


"Apa? Memikirkanku?" Ulang Agnes.


Kenneth melebarkan mata menyadari ucapannya. Kenneth menunduk kan kepala merasa malu. Kenneth menundukan kepala sampai kepalanya menyentuh meja makan.


"Bodohnya, kenapa mulutku tidak bisa diam. Membuatku malu saja," batin Kenneth.


----- ----- ----- ----- -----


Hallo semua..


Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..


Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..


Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..


Jangan lupa berikan vote juga ya..


Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,


•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)


•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)


•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir (End)


•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)


•Vampir "Sang Abadi" (End)


•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)


•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3


•The Hit Man In Love


•Jatuh Cinta Pada Tetangga


•Oh My Husband


•Menjadi Istri Simpanan


•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar


Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..


Terimakasih..


Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..


Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


Bye bye..

__ADS_1


Salam hangat,


"Dea Anggie"


__ADS_2