
"Apes-apes!" Amang berjalan menuju penjual seblak tempat dimana Daniel membeli makanan yang telah masuk ke dalam mulutnya.
"Inilah pengeluaran yang tidak terduga," guman Amang mengambil selembar uang dari saku celananya dan membayar.
"Amang" panggil seorang dari belakang.
Amang pun membalikkan badannya kearah panggilan suara tersebut terjadi.
"Nona-nona?" Amang tersentak kaget atas kehadiran Dinda dan Yuli. Setahunya tidak ada yang memberitahukan hal ini pada kedua wanita tersebut.
Tidak hanya Dinda dan Yuli yang datang, Reyhan juga berjalan beriringan bersama kedua wanita itu.
"Di ruangan mana Sonya dirawat?" tanya Dinda sambil melipat kedua tangannya. Ia menatap tajam pada Amang, seolah akan mengintrogasi asisten itu.
"N-nanti dulu Nona, saya harus bicara sama Reyhan" Amang langsung menarik tangan Reyhan untuk sedikit menjauh dari kedua wanita itu.
"Apa-apaan ini Han? kamu lupa Bos udah nyuruh kita untuk tidak memberitahukan masalah ini" Amang sudah menduga bahwa pembocoran terjadi pada Reyhan.
Reyhan menghembuskan nafasnya berat, "di kantor, tiba-tiba aja meraka dateng. Terlebih lagi Dinda menyidak tanpa ampun tadi, nanya Tuan Daniel mulu."
"Hufftt terus kita harus apa sekarang?" tanya Amang memijit pelipis dahinya.
"Kalau udah sampai sini, ya mau gak mau kita anter buat nemuin Tuan" jelas Reyhan memberikan solusi.
Amang pun mengangguk setuju atas usul tersebut. Mereka pun kembali menghampiri Dinda dan Yuli.
"Mau ngerahasiain apa lagi heh?" Dinda menatap tajam kedatangan kembali Reyhan dan Amang.
__ADS_1
"Kak" tegur Yuli mengusap lembut pundak Dinda.
"Udah lah Yul, kenapa aku jadi orang terakhir yang tahu?" Dinda meluapkan kekesalannya.
Niat awal Dinda tadi hanya pergi ke kantor untuk meminta maaf pada suaminya. Tetapi ia tidak mendapati sama sekali Daniel. Hal itu membuat Dinda kesal atas ketidakterbukaan Daniel terhadap dirinya.
"Nona, iya kami paham. Tuan Daniel melakukan demi kebaikan Nona" Amang mencoba menenangkan.
"Jika ingin bertemu, kami harap Nona tenang jangan marah-marah kayak gini" ucap Reyhan.
Ya, mereka bertiga bingung akan sikap yang ditunjukkan oleh Dinda. Ia mudah sekali untuk emosi dan sedih akhir-akhir ini.
"Marah gimana sih Han, nih senyum lebar kayak gini dibilang marah" Dinda senyum sambil merapatkan giginya.
"Nih aku juga bawa buah-buahan buat Sonya," ucap Dinda menenteng kantong kresek berisi buah-buahan.
Dinda membuka pintu tersebut dan mendapati sang suami yang tengah sibuk menyuapkan bubur pada Sonya.
"Niel" panggil Dinda.
Daniel menoleh, ia kaget atas kedatangan istrinya, Dinda di rumah sakit.
"Din?"
"Din, aku bisa jelasin" ucap Sonya juga tidak enakan.
"Santai aja kali,kayak orang takut gitu" tawa Dinda berjalan mendekati Daniel.
__ADS_1
Dinda menarik satu kursi yang tidak jauh disana dan duduk disamping Daniel.
"Gimana, udah enakan belum?" Dinda memegangi tangan Sonya lembut.Sonya menggeleng.
"Udah makan buah belum? nih aku sama Yuli bawain buah buat kamu" ucap Dinda menenteng kantung kresek.
Dinda pun mengupas dan memotongkan buah-buahan dibawanya tadi. Sonya pun tersenyum, ia sudah berpikir macam-macam terhadap Dinda yang tiba-tiba saja datang.
Daniel bingung harus bahagia atau apa. Karena dia seakan terpergok oleh Dinda.
"Syukurlah tidak terjadi malapetaka disini" ucap Amang bersyukur.
"Dih Amang gak jelas deh" jawab Yuli.
"Tau nih" sambung Reyhan tertawa.
Tuuuttttt
Terdengar bunyi yang begitu familiar berasal dari Amang.Semuanya sontak menutup hidung rapat-rapat.
"Aduh buset nih siapa yang kentut!" umpat Dinda kesal.
"Iya nih bau banget sumpah, aku mau pingsan" keluh Sonya.
"Amang!" kesal Yuli memukul lengan asisten itu.
"Ini nih Mang, yang namanya malapetaka!" geram Daniel langsung mengibaskan tangannya menyuruh Amang untuk keluar.
__ADS_1