
Ben dan Alea ada di dalam kamar. Sepanjang perjalanan pulang, Alea terus menangis dalam pelukan Ben. Alea menyeka air matanya, menatap Ben.
"Ben...," Alea memanggil Ben dengan suara gemertar.
Ben yang duduk di samping Alea memaling wajahnya menatap Alea. Ben melihat mata Alea sembab, Ben meyeka air mata Alea yang masih menetes.
"Jangan jelaskan apa-apa lagi. Aku sudah paham apa yang ingin kau sampaikan. Kau ingin meminta maaf padaku kan? Itu tidak perlu Alea, semua ini bukan salahmu. Kau juga korban disini, karena keegoisan Papamu lah ini terjadi. Jika saja kau jujur saat itu, Papa dan Mamaku pasti akan membatalkan pernikahan kita. Mereka tidak akan tega memisahkan kalian Mama dan Anak. Kau juga tidak perlu sampai harus menyimpan beban berat sampai selama ini."
Alea menangis, "meski kau melarangku bicara, aku akan tetap bicara. Maafkan aku Ben. Maaf...," Alea terisak.
Ben memeluk Alea, "maafkan aku juga yang tidak memahami keadaanmu lebih dalam Alea. Aku selalu bersikap dingin dan enggan padamu. Aku tidak peduli tentang perasaanmu yang begitu sakit. Kau berjuang menahan rindu pada Putrimu, kau juga berusaha menjalankan peran seorang istri di sisiku. Sungguh, maafkan aku. Aku bersalah padamu," jelas Ben. Tanpa sadar Ben menangis saat memeluk Alea. Ben merasa bersalah kepada Alea.
Alea melepas pelukan, menatap Ben. Disekanya air mata Ben dengan kedua tangannya.
"Kau tidak bersalah Ben. Tidak apa kau tidak peduli dan enggan padaku, setidaknya kau tidak seperti Papaku yang kasar dan ringan tangan. Denganku aku merasa aman. Meski jarak kita jauh tidak ada seorangpun yang bisa menyakitiku karena kau adalah suamiku. Tidak ada yang memandangku rendah, karena aku adalah Nyonya Carney. Sekalipun itu Papaku sendiri."
Ben memegang tangan Alea yang menyentuh wajahnya. Ben mencium kedua punggung tangan Alea bergantian. Ben memandangi tangan Alea yang dipegangnya. Dengan lembut Ben mengusap tangan Alea.
"Kau tidak membenciku, Alea?"
"Tidak, Ben. Aku mencintaimu."
Ben menatap Alea setelah mendengar jawaban Alea. Ben merasa terharu, merasa senang, dan juga sedih.
"Maafkan aku yang jahat ini, seharusnya kau tidak mencintaiku. Aku tidak layak kau cintai."
"Aku tidak tahu kapan cinta itu datang, Ben. Yang aku tahu, aku tidak membencimu. Aku tidak pernah menyesal sudah menikah denganmu."
Ben mengelus rambut Alea, Ben mengecup kening Alea lembut. Ben mendekap Alea.
"Dengar kan ini baik-baik. Kau tau, aku tidak suka mengulangi ucapanku. Aku tidak akan keberatan jika kau pergi menemui Clarya. Bagaimana pun juga Clarya adalah putrimu. Tumbuh tanpa sosok Mama pasti juga berat untuknya. Temui dia, katakan jika kau sangat merindukanya. Katakan juga kau sangat sayang padanya. Clarya tak seberuntung Agnes yang mendapatkan kasih sayang yang utuh."
"Aku ragu Ben, apakah Clarya akan menerima ku atau justru akan menolakku. Aku bukan Mama yang baik dan bertanggung jawab. Aku meninggalkannya, aku menelantarkannya. Aku adalah Mama yang gagal, Ben."
Ben mengusap punggung Alea, "tidak. Kau Mama hebat yang luar biasa. Itu terbukti dari caramu merawat dan mendidik Agnes kita. Percaya padaku, Clarya tidak akan menolakmu. Jangan bersedih," jelas Ben. Ben mencoba menenangkan Alea.
Ponsel Ben berdering, Ben meraba saku jasnya dan melihat Agnes menghubunginya. Ben menerima panggilan dari Agnes.
(Percakapan di telepon)
"Ya, sayang."
"Papa di kantor? Aku akan ke kantor siang ini untuk mengantar makan siang."
"Oh, papa masih di luar. Baru bertemu teman Papa. Papa baru akan kembali ke kantor."
"Papa, apa Mama baik-baik saja?" Tanya Agnes.
Ben terdiam sesaat, Ben mengaktifkan pengeras suara.
"Mamamu baik. Kau tidak perlu khawatir. Kau merindukannya?" Tanya Ben.
"Ya, aku sangat rindu. Aku tidak tahu kenapa, aku merasa gelisah dan cemas. Aku teringat pada Mama. Aku belum menghubungi Mama, aku berencana datang kerumah malam ini."
Alea melepas pelukan menatap Ben, Ben tersenyum mengelus rambut Alea.
"Kita bicara lagi di kantor siang ini, sekalian kita pembahas pekerjaan kita yang sempat tertunda. Papa akan kembali ke kantor."
"Baiklah Pa, sampai jumpa di kantor. Papa hati-hati di jalan."
"Kau juga," jawab Ben.
Agnes mengakhiri panggilannya. Ben memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
__ADS_1
"Kau dengar, putrimu saja tau kau sedang bersedih."
"Dia akan ke datang ke kantor?" Tanya Alea.
"Ya, dia akan mengirim makan siang."
"Pergilah bekerja. Bukankah seharusnya kau ada pertemuan pagi ini?" Tanya Alea lagi.
"Aku sudah memundurkan jadwal hari ini untuk di gabungkan esok. Karena aku ingin sedikit santai hari ini."
--
Clarya ada di dalam mobilnya. Clarya berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah.
"Apa ini rumahnya? Joe tidak salah mengirim lokasi bukan?" Lirih Clarya.
Clarya melihat sekeliling, ada beberapa penjaga. Clarya melihat kekiri dan kekanan. Keadaan di sekitar begitu sepi.
Clarya menghubungi Joe. Clarya ingin memastikan apakah tujuannya benar atau salah. Joe menerima panggilan dari Clarya.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Joe.
"Joe, kau tidak salah mengirimi aku lokasi kan?" Tanya Clarya.
"Tidak. Kau menintaku mengirimi lokasi rumah Ben Carney, bukan? Kau dimana? Kau sudah ada di lokasi?" Tanya Joe.
"Ya sudahlah. Aku akan mencari tahu langsung. Terima kasih Joe."
Clarya mengakhiri panggilanny. Clarya mengemudikan mobilnya masuk ke halaman mansion. Clarya memarkir mobilnya di halaman mansion. Clarya turun dari dalam mobil dan berjalan menunju pintu utama mansion.
Clarya hampir sampai, disaat yang sama Ben keluar dari dalam dan berjalan keluar. Ben dan Calrya bertemu. Calrya menundukkan kepala tidak berani menatap Ben.
"Kau, Clarya?" Tanya Ben bersuara lembut.
Clarya mengangguk, "iya...," lirih Clarya.
"Angkat lah kepalamu, Paman tidak bisa melihat wajah cantikmu."
Clarya mengangkat kepalanya menatap Ben. Mata Ben melebar, mata Clarya terlihat mirip seperti Alea.
"Kau ingin bertemu Mamamu?" Tanya Ben.
"Iya..., apa aku boleh bertemu?" Tanya Clarya balik.
"Tentu saja boleh. Mamamu tetap Mamamu, sampai akhir Alea akan tetap menjadi Mamamu. Ikatan antara Orang Tua dan Anak tidak akan bisa di pisahkan oleh apapun."
"Apakah tadi Paman bertengkar dengan Papaku? Maafkan Papaku, Paman."
Ben tersenyum, "Anak baik. Paman tidak marah, Paman hanya sedikit menggertak saja tadi. Maafkan Paman yang membuat kacau ya."
"Tidak apa Paman. Paman akan pergi?" Tanya Clarya.
"Ya, paman harus ke kantor. Kau masuklah ke dalam, jangan sungkan dan ragu. Anggap seperti rumahmu sendiri. Temui pelayan dan minta pelayan memanggil Mamamu dikamar. Paman pergi dulu."
Ben berjalan melewati Clarya dan naik kedalam mobil. Mobil yang di tumpangi Ben melaju pergi meninggalkan mansion.
Clarya menatap pintu utaman mansion. Clarya ragu, apakah harus masuk atau kembali pulang. Clarya memantapkan kakinya melangkah mendekati pintu utama mansion. Tangan Clarya gemetar memegang pegangan pintu. jantungnya berdebar kencang. Clarya menguatkan diri membuka pintu dan masuk ke dalam mansion.
----- ----- ----- ----- -----
Hallo semua..
__ADS_1
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia (Season 1&2 End)
•Pelukan Hangat Paman Tampan (End)
•Pangeran Es Jatuh Cinta (End)
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Pangeran Vampir (End)
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2) (End)
•Vampir "Sang Abadi" (End)
•Cinta Lama Yang Datang Kembali (End)
•Mommy And Daddy (CLYDK 2) (End)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
•The Hit Man In Love
•Jatuh Cinta Pada Tetangga
•Oh My Husband
•Menjadi Istri Simpanan
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
"Dea Anggie"
__ADS_1