
Mereka telah tiba di komplek perumahan elit, tempat dimana Mawar dan keluarganya tinggal.
Reyhan menghentikan mobilnya di depan rumah yang terlihat sangat asri. Ya, rumah Mawar tentunya.
Teng
Reyhan membunyikan bel rumah tersebut dan tidak menunggu lama akhirnya pintu dibuka.
"Ngapain kamu?!" Hendra langsung menodongkan pertanyaan pada tamunya tersebut dan menampakkan wajah tak sukanya.
"Maaf kan kami Tuan, kami hanya ingin menjalin silaturahmi kembali yang beberapa waktu lalu sempat terputus." Ucap Mama Ratih sesopan mungkin.
"Iya Tuan, saya memohon maaf atas kejadian malam itu." Ucap Reyhan mengakui kesalahannya.
"Basi maaf kalian itu, gak ada yang harus diperbaiki lagi!" jawab Hendra yang menolak mentah-mentah niat baik dari mereka.
"Ada apa Pa?" tanya Mawar yang baru saja datang karena terusik dengan kebisingan di teras rumahnya.
"Reyhan..."lirih Mawar kaget dengan kedatangan mantan tunangannya itu.
"Ayo masuk dulu," ajak Mawar.
"Apa-apaan kamu Mawar, dengan kejadian malam itu masih ada rasa kamu sama dia?!" bentak Hendra pada sang putri semata wayangnya.
"Tapi ...a..ku...."lirih Mawar yang sukar mengeluarkan kata-katanya karena menahan tangis agar tidak tumpah.
"Kalian sudah mempermalukan keluarga kami dan masih ada nyali untuk datang kesini. LUAR BIASA!"Hendra menatap sinis pada kedua tamunya tersebut.
Mama Ratih dan Reyhan tertunduk atas hinaan yang diberikan Hendra.
"Pa, kamu jangan egois. Kita bisa menyelesaikan ini semua dengan kekeluargaan." Ucap Mala memprotesi sikap suaminya itu.
__ADS_1
"Ayo Nyonya dan Reyhan silahkan masuk," Mala mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
"Jangan diperbolehkan mereka untuk masuk!" peringat Hendra.
"Aku tidak peduli, apa kamu tidak malu berdebat di depan rumah dan didengar oleh para tetangga?" timpal Mala kesal. Hendra diam dan menampakkan keangkuhannya.
"Sebaiknya tidak usah, kami akan pulang saja."Sanggah Reyhan enggan untuk masuk karena tidak enakan dengan Hendra.
"Tidak bisa, masuklah."Perintah Mala tegas.
Tidak bisa menolak akhirnya dengan langkah yang agak sedikit getir Reyhan memberanikan masuk sambil menggenggam tangan sang ibu.
Terlihat wajah yang tak suka ditampakkan oleh Hendra.
"Silahkan duduk," ucap Mala mempersilahkan.
Tidak lama sebuah teh hangat langsung diletakkan di atas meja.
Suasana cukup hening diantara mereka. Reyhan dan Mama Ratih bingung ingin memulainya dari mana.
"Sekali lagi saya dan Reyhan meminta maaf atas kejadian pada tempo lalu. Kalau mau marah, marah lah pada saya jangan pada Reyhan. Semuanya karena keegoisan saya, saya memaksa Reyhan untuk menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya. Ini semua salah saya, salah saya..." lirih Mama Ratih perlahan meneteskan air matanya.
Reyhan spontan memegangi bahu ibunya sambil sesekali mengusap dengan lembut punggungnya untuk meguatkan.
Dengan terisak-isak Mama Ratih kembali melanjutkannya, "Ini kesalahan terbesar saya, saya terlalu mementingkan ego ketimbang perasaan anak saya. Kita sebagai orang tau seharusnya membiarkan anak untuk berkembang dan memilih apa yang dia mau bukan apa yang kita mau."
Mama Ratih menjeda sejenak kalimatnya, "Sekiranya Tuan dan keluarga bisa memaafkan kami, jangan karena hal ini silaturahmi kita terputus."
Perlahan Mala mendekati Mama Ratih dan langsung memeluk dengan erat. Sama-sama seorang ibu, ia ikut merasakan kesedihan yang dialami Mama Ratih.
"Maafkan kami ya,"
__ADS_1
Entah sudah kali keberapa Mama Ratih meminta maaf pada mereka.
"Sudah Nyonya, kami juga salah dalam hal ini." Ucap Mala.
"Kami juga minta maaf, saya juga terlalu memaksa kan kehendak." Timpal Hendra yang menyeka air mata agar tak jatuh.
Semuanya terenyuh dan perlahan bulir air mata kebahagiaan mengalir dengan derasnya.
"Mawar," ucap Reyhan.
Mawar pun mengalihkan pandangannya ke arah Reyhan.
"Kayaknya aku banyak salah padamu," ucap Reyhan tersenyum getir.
"Haha tidak juga, aku yang banyak salah pada mu." Ucap Mawar tersenyum getir. Meskipun sampai sekarang rasa cintanya sama seperti dulu pada Reyhan.
Reyhan beranjak dari duduknya dan kemudian mendekati Mawar.
"Meskipun kita tidak bisa bersatu, kita bisa menjadi sahabat." Reyhan memang sedari dulu hanya menganggap Mawar adik ataupun sahabat tak lebih dari itu.
"Benarkah?" tanya Mawar dibalas Reyhan dengan anggukan.
"Bisakah aku memeluk mu?" tanya Mawar.
"Tentu saja, kita sahabat." Jawab Reyhan.
Awalnya ia ragu untuk mengiyakan permintaan Mawar, tapi dia tidak memiliki rasa apapun terhadap Mawar.
Mawar pun langsung memeluk Reyhan.
"Entah aku sayang banget sama kamu, aku akan ikhlas jika kita gak bisa sama-sama." Guman Mawar dalam pelukan Reyhan.
__ADS_1
"Aku yakin orang yang mendapatkan kamu pasti sangat beruntung sekali, walaupun bukan sama aku." Batin Reyhan.