
"Huufftttt..."
Untuk kesekian kalinya hembusan nafas berat yang dikeluarkan Reyhan sambil menikmati indahnya senja yang perlahan akan mulai menghilang.
"Tidak pulang Han?"pertanyaan tersebut membuat Reyhan tersentak kaget. Reyhan langsung membalikkan badannya menghadap sang pimpinan.
"Katanya di rumah kamu ada acara ya?"tanya Deniel memastikan jika kabar didapatnya dari mulut Amang benar adanya.
Reyhan mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan pertanyaan dari Deniel.
"Ya udah sana kamu pulang, jangan bengong mulu."Ucap Deniel sambil melentikkan jarinya di depan wajah Reyhan.
"Baik Bos,"jawab Reyhan dan langsung mengambil tas kerjanya. Ia bersegara untuk pulang.
"Saya pulang duluan ya,Bos."Pamit Reyhan dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu,"tahan Deniel membuat Reyhan menghentikan sejenak langkahnya.
"Ada apa,Bos?"
Deniel mendekati Reyhan dan menepuk pelan pundak asistennya itu.
"Aku sedih lihat kamu akhir-akhir ini sering ngelamun, Han."Ungkap Deniel yang sangat merasakan perbedaan dari dalam diri asistennya itu.
"Tidak apa-apa,Bos. Saya baik-baik saja."Ucap Reyhan meyakinkan.
Deniel meresponnya dengan seulas senyum,"ya sudah pulanglah,"lanjut Deniel dan dibalas Reyhan dengan anggukan mengerti.
Suasana di kediaman Reyhan.
__ADS_1
Senja yang tadi sempat di nikmati Reyhan, kini telah menghilang begitu saja.
Mama Ratih dibantu asisten rumah tangganya sedang sibuk mempersiapkan hidangan makanan untuk calon besannya.Masakan yang dibuatnya ditata rapi di meja makan.
"Reyhan kok belum pulang juga sih?" tanya Mama Ratih pada dirinya sendiri usai melihat waktu yang ada pada jam dinding rumahnya.
"Mungkin sebentar lagi, Nyonya."Balas asisten rumah tangganya
"Coba kamu telepon Mas Reyhan,"titah Mama Ratih pada ART tersebut.
ART itu pun langsung menekan menelpon Reyhan. Tidak begitu lama, ART itu menghampiri majikannya kembali.
"Gimana, ada kabar?"tanya Mama Ratih.
"Nomornya tidak aktif, Nyonya."Jawab ART itu.
"Coba kamu telepon ke kantornya,"pinta Mama Ratih lagi. Ia dibuat khawatir dengan Reyhan yang tak kunjung datang.
"Dimana anak itu?"tanya Mama Ratih mulai gelisah dibuatnya.
Tepat pukul 8 malam, sebentar lagi keluarga Mawar akan tiba tapi Reyhan sang tokoh utama dalam acara tersebut tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
Mama Ratih makin dibuat panik. Keringat dingin membasahi tubuh wanita paruh baya itu.
Ting
Bel rumah berbunyi mengagetkan Mama Ratih. Hanya dua kemungkinan yang datang ke rumah, Reyhan atau calon besannya.
Mama Ratih membuka pintu dan ternyata sang calon besan telah tiba.Sebisa mungkin Mama Ratih tidak memperlihatkan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk!"seru Mama Ratih tersenyum mempersilahkan tamu spesialnya untuk masuk.
"Iya Mbak,"jawab Mala, sang ibunda dari Mawar.
"Tanteee,"seru Mawar mencium punggung calon mertuanya.
"Wah spesial sekali yah kedatangan kami ini,hahaha"ucap Hendra melihat banyaknya menu makan yang ada di meja makan.
Hendra merupakan ayah dari Mawar. Dia adalah seorang CEO yang cukup terkenal dikalangan pebisnis.
"Repot banget sih, kan yang dateng juga kami doang"jawab Mala.
"Tidak juga,"jawab Mama Ratih membantah kerepotannya itu.
"Dimana Reyhan?"pertanyaan yang sangat dihindari Mama Ratih sedari tadi akhirnya dipertanyakan oleh Mawar.
Mata Mawar kesana kemari mencari-cari keberadaan Reyhan yang sedari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
"Reyhan b-belum datang,"ucap Mama Ratih hati-hati.
Sontak saja keluarga itu saling pandang.
"Dia lagi ada sedikit kerjaan di kantor, dan sebentar lagi pasti akan pulang."Ucap Mama Ratih agar calon besannya itu tidak berpikir negatif terhadap Reyhan.
"Loh bukannya tadi siang aku mengingatnya? kenapa dia masih..."
"Sudah lah Nak, mungkin kali ini pekerjaannya tidak bisa dibatalkan."Potong Mala.
"Iya,benar. Sebentar lagi dia pasti datang."Sambung Hendra.
__ADS_1
Mawar pun mengangguk kan kepalanya mengerti.