Suami Pengganti

Suami Pengganti
Bagian 122


__ADS_3

20 menit perjalanan ditemani suara cempreng Dinda saat bernyanyi, akhirnya mereka tiba juga.


Sebuah danau yang masih terjaga eksistensinya. Danau tersebut merupakan salah satu tempat wisata yang ada di kota ini.


Tidak banyak wisatawan yang datang, mengingat matahari yang sudah mulai redup akan tenggelam dan segera digantikan oleh sang bulan.


Dinda memandangi sekeliling danau tersebut. Ia masih asing dengan tempat itu, ya ini adalah pertama kalinya dia datang kesini.


"Tau kok bagus, gak usah kayak gitu juga kali ngeliatnya" ucap Daniel membuat Dinda membuang ke sembarang arah.


"Kalau gak kayak gini terus gimana? merem gitu?" Dinda langsung memejamkan matanya sejenak merespon ucapan Daniel tadi.


"Ya tapi gak kayak gitu juga kali" tawa Daniel melihat tingkah Dinda. Daniel kemudian menarik tangan Dinda menuju danau.


"Ayo cepetan, lama banget sih" gerutu Gio yang sudah berjalan cukup jauh meninggalkan kedua orangtuanya.


"Iya-iya, sabar" jawab Dinda melepaskan genggaman tangan Daniel.


Daniel sempat kaget, namun ia langsung berlari menemuinya.


"Hewan, hewan apa yang jalannya lambat?" tanya Daniel tiba-tiba saja memberikan tebakan pada Dinda.


"Siput" jawab Dinda cepat.


"Salah"


"Terus?"


"HeWanita hahah" balas Daniel langsung berlari meninggalkan Dinda dengan wajah betenya.


Daniel dan Gio tiba lebih dulu di danau. Mereka berdua langsung menaiki perahu kecil yang disediakan di danau tersebut.


"Ayo Pa, dayung perahunya!" seru Gio antusias.


"Bentar nungguin Mama dulu ya," jawab Daniel.


Dengan langkah santai, akhirnya Dinda tiba juga. Ia kemudian bersiap untuk naik pada perahu yang telah lebih dulu ditumpangi oleh ayah dan anak tersebut.


"Pegangin dong!" kesal Dinda pada ketidakpekaan suaminya itu.

__ADS_1


Daniel menoleh, "Mandiri dong, gak bakal jatuh kok."


Dinda mengeriyitkan dahinya tidak habis pikir. "Kamu gak liat aku pakai hells? jatuh bisa berabe!" protes Dinda.


Daniel tertawa, "lagian ngapain coba kamu pakai hells kesini? Ada-ada aja" Daniel kemudian mengulurkan tangannya sebagai pegangan sang istri untuk menaiki perahu itu.


"Ah sudah-sudah sebel aku sama kamu!" kesal Dinda menghempaskan uluran tangan Daniel.


Daniel sontak kaget, begitu juga dengan Gio.


"Pak, sini Pak!" panggil Dinda sambil melambaikan tangannya pada pria diseberang sana.


Pria itu langsung berlari menghampiri Dinda.


"Ada apa Nyonya?" tanya pria yang nampaknya adalah petugas kebersihan di danau itu.


"Kamu ngapain manggil dia?" tanya Daniel mengeriyitkan dahinya dengan tatapan seuzonnya.


"Mama kenal sama om ini?" tanya Gio.


Dinda menggeleng, "sengaja manggil buat bantuin naik nih perahu" terangnya.


"APA?!" jawaban Dinda tersebut berhasil menyulut kekagetan Daniel.


"Pelan-pelan pak sopir!" umpat Gio kaget dengan perahu yang bergoyang.


Daniel menatap tajam pada pria kebersihan itu. Pria yang mendapati tatapan itu berhasil membuatnya meneguk saliva karena ketakutan. Sedangkan Dinda? ia hanya santai menanggapinya.


"Punten, saya pergi saja. Jangan libatkan saya dalam permasalahan rumah tangga ini" pria itu bersiap untuk pergi.


"Eh eh, siapa yang nyuruh pergi? Ayo bantu saya naik perahu ini!" tahan Dinda.


"Kamu ngapain minta bantuan dia sih? Kan aku ada disini?" tanya Daniel memprotesnya.


"Kamu tanya aja sama rumput yang bergoyang" jawab Dinda ketus.


Daniel menghembuskan nafasnya kasar. Hanya perkara ini, membuatnya memijit pelipis dahi.


"Stop disitu kamu! Jangan sentuh istri saya" titah Daniel.

__ADS_1


"Gak usah dengerin dia Pak, ayo cepat bantu..


Belum tuntas menyelesaikan kalimatnya, Daniel spontan menarik lembut tangan Dinda menuntun naik perahu. Aksi itu lantas berhasil.


"Lihat kan, cukup dengan bantuan ku masalah ini selesai" sombong Daniel menaikkan salah satu alisnya.


"Curang!" dengus Dinda kesal dan langsung duduk.


Pria yang merupakan petugas kebersihan itu hanya tercengang sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Heh ngapain masih bengong!" tegur Daniel membuat kaget pria itu.


"Eh iya-iya maaf Tuan" pria itu terperanjat kaget dan langsung berlari-lari kecil meninggalkan keluarga kecil itu.


"Keluarga aneh" gumannya disela-sela jalannya.


Daniel menatap Dinda penuh dengan kemenangan. Ia kemudian mulai mendayung perahu tersebut.


Begitu sepi tempat tersebut. Tidak mengundang rasa takut, namun malah ketakjuban atas keindahannya.


Dinda merogoh suatu benda dalam tas kecil yang dibawanya. Tidak lama keluarlah benda pipih berteknologi. Apalagi kalau bukan ponsel.


Dinda mengabadikan keindahan alam di danau dengan kamera ponselnya.


"Kira-kira disini ada ikan gak ya Pa?" tanya Gio menatap takjub keindahan ciptaan Tuhan tersebut.


"Kayaknya ada deh" duga Daniel.


"Kira-kira ikan apa aja ya Pa disini?" tanya Gio lagi sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.


"Piranha mungkin,"


"Ngaco, mana ada piranha disini" balas Dinda sambil melirik sejenak Daniel.


"Ya udah si, gak usah sewot" jawab Daniel memutar balikkan bola matanya menghadapi istrinya.


Gio yang sedari tadi sudah lelah mendengar perdebatan mereka lantas menepuk jidat tidak habis pikir.


"Kapan Mama sama Papa baikan?" tanya Gio menyeletuk.

__ADS_1


Daniel dan Dinda saling pandang.


"Loh emang siapa yang berantem Gio sayang," Daniel merangkul mesra istrinya sambil merapatkan giginya. Begitu juga dengan Dinda.


__ADS_2