
Momentum wisuda adalah hal yang sangat di tunggu-tunggu oleh para mahasiswa,tak terkecuali pada Yuli.Layaknya mahasiswa pada umumnya, ia juga menyiapkan keperluan wisudanya.
Siang ini Yuli akan pergi ke toko butik untuk memesan kebaya yang nantinya akan dikenakan pada saat wisuda.
Tidak sendirian, Yuli pergi bersama kakak iparnya dan keponakannya,Gio.
"Mama, aku mau es krim." Baru tiba depan toko butik, rengekan Gio membuat Yuli memutar bola matanya malas.
"Iya sayang,kita beli es krim dulu ya." Dinda mengiyakan permintaan sang anak.
"Astaga Gio...baru juga sampe, kamu udah mau jajan aja? Padahal tadi sebelum berangkat kamu udah makan lho." Komentar Yuli.
"Masih kurang," jawab Gio santai.
"Tau nih, orang Gio yang makan kok kamu yang sewot," jawab Dinda menanggapi komentar Yuli.
"Au ah," kesal Yuli sambil melipat tangan di depan dada.
"Ya udah Gio kita beli es krim dulu yuk," seru Dinda sambil menggandeng tangan Gio.
Mereka pun pergi menuju pedagang es krim yang tak jauh dari toko butik tersebut.
"Emak sama anak sama aja," ucap Yuli sambil berjalan.
"Sama apa?" tanya seseorang pria menanggapi cibiran asal Yuli tersebut.
"Sama-sama manusia!"jawan Yuli ngasal.
Yuli pun menoleh pada pria yang berada di sisi kirinya itu. Matanya menatap tajam pada pria itu.
__ADS_1
"Heh upil batu, sejak kapan kamu disini?" tanya Yuli memanggil Reyhan dengan sebutan asal. Entahlah kata-kata random itu sepintas melewati benaknya.
Reyhan tersenyum menanggapinya.
"Gila ya kamu, di ajak ngomong malah senyum gak jelas gitu." Ketus Yuli.
"Kamu tadi ngajakin aku ngomong?" jawab Reyhan sambil menyeringai senyum.
"Dih kocak!" kesal Yuli memutar bola matanya malas.
"Om Reyhan!!" seru Gio memanggil Reyhan yang baru saja dilihatnya.
"Hai Gio!" Reyhan langsung menghampiri anak itu dengan cepat.
"Kamu ngajak Reyhan?"tanya Dinda pada Yuli. Ia baru saja mendapati keberadaan Reyhan bersama mereka. Entah sejak kapan pria itu ada.
"Enggak, ngapain juga aku ngajak dia kurang kerjaan amat." Jawab Yuli sambil menyilang tangan di depan dada.
"Ya kali kami di jaga, kami bukan anak kecil lagi."Ucap Dinda agak ganjal dengan alasan yang di berikan oleh Reyhan.
"Perempuan tangguh nih bos,senggol dong!" umpat Yuli.
"Iya deh, iya deh si paling tangguh" sahut Reyhan.
"Dasar... bisa-bisanya Reyhan membohongi ku." Batin Dinda tersenyum miring. Ia baru saja mendapat pesan dari Daniel.
Daniel sama sekali tidak pernah menitah asistennya itu untuk menjaga mereka.
Dinda menaikkan salah satu alisnya dan masih dengan senyum miring yang tergambar pada struktur wajahnya. Apa yang sekarang ini terlintas dibenak ibu sambung itu.
__ADS_1
"Bisa jadi Reyhan berbohong untuk kembali mencoba melakukan pendekatan pada Yuli. Hhmm baiklah." Dinda mengumpat dalam hati.
"Mama kenapa bengong?" tanya Gio memperhatikan sang mama dengan begitu intensnya.
Sontak saja Dinda dengan segumpal pikirannya tadi pun buyar.
"Eh enggak kok,"
"Kak Dinda, ayo sekarang kita ke butik." Ajak Yuli yang sudah jengah dengan obrolan prik tersebut.
"Kamu duluan aja, nih Gio lagi rewel," jawab Dinda sambil mengusap pundak sang putra.
Yuli dan Reyhan seketika menyeringitkan dahi secara bersamaan.
"Lah si Gio anteng kayak gitu di bilang rewel?"tanya Yuli kesal sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir dengan alasan kuno yang dilontarkan Dinda.
"Sepertiga IQ saya terlalu rendah untuk melihat segi kerewelan Gio."Ucap Reyhan.
Reyhan juga bingung dan terus menggaruk-garuk kepalanya. Alasan Dinda lebih sulit dipahami ketimbang soal turunan fungsi pada matematika.
"Dih ngatur, Gio beneran rewel, ya kan Gio?" Dinda menatap sang anak entah kode batin apakah yang dikirimkannya sehingga dengan polosnya Gio mengangguk begitu saja tanda pengiyaan dari pertanyaannya.
"Tuh kan Gio aja ngangguk," ucap Dinda sambil mengelus-elus kepala Gio.
"Iya Tante, aku lagi rewel." Ucap Gio mempertegasnya.
"Dengar sendiri kan? kamu sama Reyhan aja dulu entar sekitar 1 jam lagi aku nyusul" ucap Dinda dengan senyum licik tak kasat matanya.
Huuff dasar wanita!
__ADS_1
"1 jam mau ngapain? ngukur jalan?" jengah Yuli melotot.
"Ngamen!" jawab Dinda asal. "Udah sana deh!" lanjutnya memaksa.