
Flashback On part 2
Mereka telah tiba di kantor kepolisian. Memarkirkan kendaraan dan masuk dengan cepatnya ke dalam.
Semua kepolisian kaget dengan datangnya Daniel dan runtutan anak buahnya secara tiba-tiba.
"Kepolisian macam apa ini sampai-sampai lolos bajingan itu!" bentak Daniel menatap satu demi satu polisi yang tengah berdiri tersebut.
"Tenang dulu Pak, kami tidak tinggal diam atas kaburnya saudara Ikhsan. Kami akan mencari sampai dapat." Ucap salah seorang polisi berusaha menenangkan Daniel.
Daniel menghembuskan nafasnya kasar tersenyum begitu miring menatap polisi tersebut.
"Oh gitu ya, mending cari dulu orang dalam yang bisa meloloskan bajingan itu!" Daniel meninggikan kalimatnya.
"Serahkan semuanya pada kami, Bapak tenang saja" polisi tersebut memegangi lembut bahu Daniel.
*Daniel langsung menyingkirkan tangan polisi tersebut. *
"Yakin mampu?" Daniel menaikkan salah satu alisnya meremehkan. "Buka cctv sekarang!" pinta Daniel.
"Bos, lihat cctv dirusak" celetuk salah seorang anak buah.
*Nampaknya barang bukti telah dimusnahkan. Daniel mengacak-acak rambutnya frustasi. *
"Kurang ajar!" teriak Daniel.
Makin sulit bagi Daniel untuk menemukan mangsa sang predator tersebut.
Daniel membuka ponselnya menemukan pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Nampak foto Bayu dan Dinda yang telah dikirim oleh nomor tidak dikenal tersebut.
Daniel mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal sempurna. Ia langsung melempar ponselnya ke arah Reyhan. Untungnya, Reyhan reflek mengambil benda berteknologi itu.
__ADS_1
"Lacak nomor bangsat itu!" pinta Daniel.
Tanpa pikir panjang, Reyhan langsung membuka laptopnya dan menjalankan titah dari sang Tuan.
"Ikhsan?" ucap Reyhan usai melacak nomor tersebut.
*Daniel menoleh langsung menghampiri Reyhan. *
"Menyerahkan diri rupanya" tatapan murka Daniel.
"Han, lacak keberadaannya" pinta Amang.
Utak atik begitu cepat dilakukan oleh Reyhan. Hacker pun sepertinya akan kalah dengan kemampuan skill yang dimiliki oleh Reyhan.
"Arah pedesaan!" seru Reyhan.
"Ayo jalan, tunggu apalagi?" perintah Daniel.
"Bapak, kami akan ikut" ucap polisi sambil menahan lengan kekar Daniel. Ia mengangguk menyetujuinya.
*"Minum dulu, Bos" Amang memberikan sebotol air mineral pada Daniel. *
Ayah satu anak itu langsung mengambil dan meminum dengan kasar air mineral tersebut.
Tiba mereka di pedesaan. Mereka belum mendapati batang hidung bajingan itu.
"Jangan ngebut disini," pinta Daniel sambil memperhatikan sisi kanan dan kiri harap-harap akan mendapatkan petunjuk.
"Aneh rumah ditengah sawah" guman Amang pelan.
"Curiga dengan rumah itu, sebaiknya kita kesana" perintah Daniel.
__ADS_1
Mereka semua turun tepat didepan rumah tua ditengah sawah itu. Polisi belum tiba, karena saking cepatnya rombongan Daniel melaju.
"Hati-hati, takutnya ada jebakan" peringkat Reyhan.
Suara sorak sorai dari dalam begitu menggema dengan jelas.
"Kenapa khianati aku heh?"
"Milih pria yang gak selevel itu? gak sebanding!"
BRAK
"Cumbu dia, dia bukan lagi istriku!"
Begitulah ucapan yang terdengar jelas oleh Daniel dan yang lainnya. Reyhan dan Amang meneguk salivanya merasakan kengerian dari dalam sana.
"AAAAAAAAaaa" teriakan perempuan yang begitu familiar ditelinga.
Tangis dan tawa tercampur aduk dari dalam tempat itu.
"SONYA!" Daniel berlari masuk menyadari suara Sonya yang terdengar.
Daniel menendang dengan kasar pintu tua itu, dan tidak butuh effort yang banyak, pintu tersebut terbuka begitu lebarnya.
Dari dalam sana kaget dengan keberadaan Daniel. Terlihat Sonya dengan siksaan yang mereka berikan.
*"KURANG AJAR KAMU IKHSAN!" *
"Bahahhahaha" dari bilik sana pria yang dicari pun keluar. Ia berjalan sambil bertepuk tangan dengan kerasnya.
Diikuti anak buahnya yang begitu nyaring tertawa penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kamu gak menang, jadi gak usah ketawa!" kekeh Daniel.
"Uuuhh takut deh sama seorang Daniel Abraham" lagak Ikhsan ketakutan namun diselingi dengan tawa.