Suami Pengganti

Suami Pengganti
Bagian 92


__ADS_3

Matahari berangsur-angsur terbit dari ufuk timur. Cahayanya memasuki celah-celah kamar membangunkan sebagian insan yang sedang tertidur pulas.


"Bentar lagi aku bakalan lulus,"guman Yuli di depan cermin sambil merapikan ulang baju yang dikenakannya.


Yuli sudah rapi dengan jas almamater yang dikenakannya. Sekarang ia siap untuk pergi ke kampus.


"Duh yang bentar lagi mau wisuda,"goda Dinda melihat adik iparnya itu menuruni tangannya bak seorang ratu.


Yuli tersenyum dan langsung ikut bergabung dimeja makan.


"Wisudanya gampang, jalaninya setengah mati." Yuli bergeridik ngeri kala mengingat banyaknya tugas yang dikerjakannya pada tempo lalu.


"Nikmati aja prosesnya,"ucap Deniel tersenyum. Yuli mengangguk mengerti dengan ucapan sang kakak.


"Roman-romannya abis wisuna cus langsung halal ya kan," goda Dinda lagi.


Deniel dan Yuli seketika mengeriyitkan dahinya secara bersamaan.


"Belum ada jodohnya, Kak." Yuli menanggapi dengan santai candaan yang dilontarkan oleh Dinda.


Rupanya Yuli belum paham tentang arah topik pembicaraan yang disampaikan Dinda.


"Udah ada kok, noh Reyhan siap kami kawal sampai halal sama kamu. Ya gak?" Usai memicingkan alisnya pada Yuli, Dinda kemudian menyenggol pelan suaminya untuk mengiyakan ucapannya tersebut.


"Maksa banget sih aku sama Reyhan, buka mata Kakak lebar-lebar deh biar liat kenyataan. Jangan suka halu napa!"balas Yuli dan kemudian melahap sepotong roti yang ada dihadapannya.


"Kayak gini yah Tante matanya?" Gio melotot mempraktekkan ucapan dari Yuli tadi.


Bukannya mengerikan, bocah itu malah terlihat sangat gemas dengan bola mata hitam pekat membuat siapa saja ingin memcubitnya. Gemoyyyyy!


Semuanya tertawa melihat kegemasan Gio.


"Emang bibit unggul!"seru Dinda sambil tertawa.


"Iya dong, bibit limited edition." Ucap Deniel berbangga diri.


"Gemes banget sih keponakan Tante." Yuli kemudian mencubit Gio saking gemasnya melihat tingkah lucunya.


"Jadi kapan nih bibit limited editionnya di tanah di lahan Kak Dinda?" goda Yuli sambil memicingkan dahinya.


"Pengen tau aja kamu!" jawab Deniel enggan untuk menjawabnya


"Tau nih kepo!" sambung Dinda.


"Bodo amat, aku nunggu kabar baiknya aja yah." Yuli tertawa cekikikan dan kembali melanjutkan makannya.


"Oh iya aku lupa memberitahu mu," Dinda menepuk jidat. "Reyhan itu batal nikah!" Dinda mengalihkan topik pembicaraan.


Tidak ada raut wajah kaget ataupun senang pada Yuli. Ia hanya menampakkan muka datarnya seolah boda amat dengan pria itu.


"Muka kamu kok gitu aja?" ucap Dinda mempertanyakan. "Salah makan apa kamu?"tanyanya lagi.


"Ya terus kalau dia batal nikah aku harus ngapain? kayang gitu?"jawab Yuli cepat.


"Boleh juga,"jawab Deniel asal.


"Dengan begitu, kamu bisa balikan sama Reyhan."Jelas Dinda.


Yuli kemudian beranjak dari duduknya dan kemudian mengenakan tasnya, " udahlah Kak jangan bahas hal itu lagi, ya udah aku pamit mau ke kampus dulu."

__ADS_1


Yuli berpamitan dan kemudian pergi menuju kampus.


"Tuh anak dibilangin ngeyel banget sih!" oceh Dinda menatap kepergian Yuli.


"Kamu yang ngeyel. Udahlah sebaiknya kita jangan terlalu dalam masuk ke dalam masalah percintaan mereka." Ucap Deniel menegur.


"Kamu gimana sih harusnya dukung aku dong!"kesal Dinda.


"Iya nih aku dukung, semangatttt." Deniel menepuk tangan beberapa kali sebagai bentuk dukungannya pada sang istri.


Bukannya senang, Dinda langsung menepuk lengan Deniel.


"Gak gitu konsepnya!"ketus Dinda.


Deniel tertawa, " dah lah aku mau berangkat kerja dulu ya."


Deniel pun pergi menaiki mobilnya menuju kantor.


•••


"Pagi Pak!" sapa beberapa karyawan secara bersamaan pada CEO itu.


"Pagi." Sahut Deniel ramah sambil berjalan menuju ruangannya.


Deniel yang dulu adalah seorang yang agak dingin kini menjadi begitu ramah pada orang lain. Ini karena Dinda.


Semenjak kehadiran Dinda dalam hidupnya, banyak sekali momen seru yang didapatnya. Hari-harinya begitu berwana dengan kehadiran Dinda Atmajaya yang merupakan istri sekaligus ibu yang terbaik.


Deniel duduk pada kursi kebesarannya dan kembali berutak atik pada laptopnya.


"Permisi Tuan," panggil seseorang dari luar ruangan.


"Masuk," perintah sang pemilik ruangan.


"Ada apa Eka?"tanya Deniel.


"Hari ini 25 Febuari 2022, Tuan akan mengadakan pertemuan dengan perusahaan Arga Group." Eka selaku sekretaris membacakan jadwal yang akan dihadiri oleh Deniel.


"Tungu-tunggu," Deniel berusaha mengingat sesuatu.


"Ada apa,Tuan?"tanya Eka bingung.


"Hari tanggal berapa?" Deniel kembali bertanya.


"25,Tuan." Eka membuka layar ponsel melihat tanggal yang tetera pada layar ponselnya untuk memastikannya.


BRAK


Deniel mendobrak meja kera membuat Eka kaget.


"Ada apa Tuan?"tanya Eka kembali usai tersentak kaget.


"Bisa-bisanya aku melupakan ini,"guman Deniel.


"Eka, kamu batalkan semua pertemuanku. Aku tidak bisa hari ini."Perintah Deniel.


"Baiklah,Taun."Eka mengangguk mengerti dan pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan bingung.


Deniel masa bodo dengan Eka yang masih kebingungan itu. Ia kemudian membuka ponselnya dan menekan salah satu nomer dan menelponnya.

__ADS_1


"Cepat datang kesini."Titah Deniel pada sambungan telepon dengan singkat,padat, dan akurat. Panggilan itu pun langsung dimatikan oleh Deniel.


Terlihat sekali raut wajah bahagia yang terpancar pada pria itu.


"Sumpah aku lupa kalau hari ini satu tahun pernikahan kita," Deniel berbicara pada foto pernikahannya yang terpajang di meja kerja.


Tidak begitu lama, bunyi ketuakan pintu kembali terdengar.


Tok, tok, tok


"Masuk,"jawab Deniel santai. Ia sudah dapat memprediksi siapa yang akan datang ke ruangannya itu.


Pintu pun dibuka dan menampakkan dua orang asistennya.


"Ngapain kamu mengajak Amang?"tanya Deniel mengeriyitkan dahinya.


"Dia juga asisten Bos, kenapa tidak untuk diajak. Ya walaupun kalau diajak hanya bisa menjadi beban." Ucap Reyhan meledek.


"Beban beban gini, calon adik iparnya Bos, tau!"balas Amang.


"Sudah-sudah pusing aku dengernya!"tegur Deniel agar perdebatan tersebut tidak berbobot.


Reyhan dan Amang pun diam namun lirikkan mata satu sama lain terbilang begitu sinis.


Entahlah dengan kedua asisten tersebut kadang baik, kadang bertengkar layaknya kucing dan tikus.


"Duduk dulu,"pinta Deniel pada kedua asistennya itu.Mereka pun duduk tepat menghadap pada bosnya.


"Ada apa ya,Bos menyuruh saya datang kesini secara dadakan?"tanya Reyhan.


Orang yang ditelepon Deniel beberapa menit tadi adalah Reyhan. Reyhan yang mendapat perintah tadi langsung sesegera mungkin datang.


"Jadi..."


"Jadi monyet,Bos?" belum selesai satu kalimat diucapkan oleh Deniel, Amang telah mengacaukannya.


Deniel menatap tajam pada salah satu asistennya tersebut.


"Bisakah aku menyelesaikan kalimatku dulu,Amang?"ucap Deniel sambil merapatkan giginya menahan emosi.


"Oh iya, baik Bos." Amang pun mempersilahkan Deniel untuk melanjutkannya.


"Jadi pernikahan aku dan istriku sudah satu tahun." Jelas Deniel.


"Wow happy anniversary!"seru Amang ikut berbahagia.


"Happy anniversary, Bos."Ucap Reyhan tersenyum.


"Iya, makasih." Deniel tersenyum atas ucapan bahagia dari kedua asistennya itu.


"Jadi aku minta kalian bikin kejutan makan malam romantis untuk kami berdua."Pinta Deniel.


Reyhan dan Amang mengangguk mengerti atas perintah yang diberikan atasannya itu.


"Dekor sebagus mungkin tempatnya. Akhir-akhir ini aku melihat dia menyukai warna hijau, jadi perbanyak warna hijau untuk dekorasinya." Ucap Deniel.


"Baik,Bos."Kedua asisten itu kembali mengangguk mengerti.


"Oh iya satu lagi, dia menyukai bunga. Bunga Mawar kesukaannya."Ucap Deniel menambahkan.

__ADS_1


"Itu saja, jadi nanti malam semuanya harus sudah siap." Deniel menatap secara bergantian pada kedua asistennya.


"Iya,Bos."Balas keduanya serentak.


__ADS_2