
Paginya.
Suara sendok dan garpu yang bertarung pada piring. Tidak ada pembicaraan antara mereka. Diam dan hanya fokus menyantap sarapan pagi ini.
"Pagi Ma, Pa" sapa Gio yang baru saja turun dari lantai atas.
"Pagi Gio," jawab Daniel dan Dinda secara bersamaan. Sontak mereka berdua memalingkan muka.
"Ciee barengan," goda Yuli tertawa.
"Gak usah mulai deh Yul!" lagi-lagi Daniel dan Dinda berucap bersama-sama.
Dinda memalingkan wajah ke sembarang arah.
"Ma, Pa, besok ada acara pentas seni di sekolah." Gio memberikan meletakkan undangan di meja.
Daniel dan Dinda langsung mengambil undangan tersebut secara bersamaan. Sorot mata mereka begitu tajam.
"Aku duluan!" ucap Dinda menarik undangan yang kini berada diantara tangan mereka berdua.
Daniel menaikan salah satu alisnya, "Jelas-jelas yang duluan itu aku,"
Dinda terkekeh, "Jangan balikin fakta deh! aku yang megang duluan!" jawab Dinda tidak mau kalah beradu argument.
Perseteruan kucing dan tikus pagi ini pun dimulai. Yuli dan Gio bingung memperhatikan kelakuan petuah yang ada di rumah ini.
"Cuman undangan doang?" heran Yuli sambil memijit pelipis dahinya.
"Ma, Pa, udah kalian kenapa?" Gio bingung dan berusaha melerai adu mulut kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tidak dihiraukan, Daniel dan Dinda masih saja beradu mulut.
"Emang ya, cewek itu gak mau ngalah!" ucap Daniel.
"Oh iya dong, pasal 1 cewek gak pernah salah. Kalau pun salah, ya berarti cowok yang salah duluan!" balas Dinda.
Adu mulut itu nyatanya merembet kemana-mana.
"Kalian gak malu apa sama anak kecil disini?" ucap Yuli.
Sontak Daniel dan Dinda diam. Mereka berdua melepas kertas undangan yang sedari tadi menjadi rebutan.
"Gio duluan ke mobil, nanti Papa anter." Pinta Daniel.
Gio pun mengangguk dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
Daniel meminum meminum beberapa teguk air.
"Oh iya tentu saja, segera untuk diselesaikan!" jawab Dinda sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Yuli yang mendengarnya tertegun. Ia pikir masalah tadi sudah selesai tapi nyatanya?
"Anying kalian" toxic Yuli geleng-geleng kepala.
Dimobil, Daniel mendapati wajah anaknya yang cukup murung dibalik kaca.
"Gio kenapa Nak?" tanya Daniel tanpa mengetahui letak kesalahannya.
"Sedih aku Pa, masa Papa sama Mama berantem? kalian kenapa?" tanya bocah itu sedih.
__ADS_1
Daniel kaget, ternyata perdebatannya pagi ini membuat sedih anaknya.
"Eee sebenarnya Mama sama Papa gak berantem kok, tadi cuman akting" elak Daniel.
"Akting? artis?" tanya Gio penasaran.
"Oh iya dong, mau casting jadi artis." Jawab Daniel cepat.
"Wah keren banget Pa, mau main film ya Pa?" tanya Gio antusias.
"Oh jelas, mau main film azab nanti." Ucap Daniel.
"Asik Mama sama Papa artis yey!" seru Gio percaya dengan polosnya.
Daniel tersenyum meskipun yang dia ucapkan hanyalah kiasan semata.
Tidak lama akhirnya mereka pun telah tiba tepat depan sekolah Gio.
"Aku berangkat dulu ya Pa," Gio mencium punggung tangan sang ayah.
"Belajar yang rajin ya, Mama sama Papa pasti dateng ke acara pentas seninya" ucap Daniel makin membuat Gio bahagia.
"Oke Pa!" seru Gio.
"Hhhmm temen-temen aku pasti kaget kalau Papa sama Mama artis," ucap Gio sambil turun dari mobil.
Daniel yang mendengarnya tersenyum sambil melihat punggung belakang sang anak.
"Maafin Papa ya," gumannya.
__ADS_1
"Padahal jadi CEO lebih kayak dari artis," kekeh Daniel kemudian melanjutkan perjalannya untuk pergi menuju kantor.