
"Kami sudah lama nungguin Mama tadi," terang Gio. Dinda langsung melirik Daniel yang diam dengan wajah ketusnya.
"Kenapa gak masuk aja tadi?" tanya Dinda.
"Ya gimana, orang gak diundang" jawab Daniel cepat sambil memfokuskan tatapannya pada jalan.
Dinda diam sejenak, dia memang tidak memberitahukan ini pada suaminya itu. Dia juga masih kesal dengan Daniel.
"Siapa suruh gak nanya" balas Dinda ketus sambil membuang muka kesembarang arah.
Daniel mengeriyitkan dahinya, "Gimana mau nanya, kan gak tau"
"Ini kan udah tau!" ketus Dinda membuka kasar pintu mobil. Dinda duduk pada kursi belakang tepat disamping Gio.
Gio menghembuskan nafasnya kasar sambil geleng-geleng kepala melihat perdebatan ayah ibunya itu.
Krekkss
Bunyi suatu benda yang tidak sengaja terduduki oleh Dinda. Ia spontan menoleh dan menarik benda yang penyok akibatnya.
"Buket siapa ini?"tanya Dinda. "Rusak gara-gara aku nih" lanjutnya berusaha memperbaiki.
Daniel melirik dari kaca.
"Kok dirusakin sih, bunga buat Sonya itu" protes Daniel.
Dinda mengerutkan dahinya dan spontan melempar buket bunga dari tangannya. Melihat aksi Dinda, Daniel pun ikut kaget.
__ADS_1
"Ma, itu bunga buat mama" jelas Gio.
"Mama yang mana?" tanya Dinda menatap lekat putra sambungnya itu.
"Mama Dinda lah, orang tadi aku sama papa kok yang beli" jawab Gio.
Daniel terkekeh, "bentuk maaf"
"Apa tadi kamu bilang? maaf?"ledek Dinda tersenyum remeh.
"Gio, papa kamu kalau minta maaf cuman ngasi bunga modelan gini doang?" Dinda menanyakan pada Gio, bocah itu mengangguk.
"Kalau gitu belum aku maafin," balas Dinda cepat.
"Lah kenapa? bunga kesukaan kamu kan?"protes Daniel sedikit kesal dengannya penolakan.
"Aku belum luluh cuman modal bunga gini doang, coba kamu naik ke gunung everest"jawab Dinda datar.
Dinda langsung menendang kursi depan tempat Daniel duduk sebagai bentuk teguran.
Ya, ucapan tak terfilter itu berhasil membuat Gio mengeriyitkan dahinya bingung. "Mama emangnya punya gunung? kok aku belum tau ya"
Gio mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk karena bingung. Daniel tampak memukul pelan mulutnya sendiri usai keceplosan, sedangkan Dinda berpikir untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang kemungkinan pasti akan keluar dari bocah kematian itu.
"Coba liat gunung Mama, sebesar apa sampai papa belum gak selesai menjelajahinya?" pertanyaan Gio membuat Daniel dan Dinda meneguk saliva secara bersamaan.
"Aduh Gio sayang," Dinda merapatkan giginya sambil mengusap pundak bocah yang tampaknya masih menunggu jawaban dari pernyataannya.
__ADS_1
"Gunung apa Ma?" polos Gio bertanya saking penasarannya.
"Gio, kita jadi ke danau kan?" tanya Daniel mengalihkan topik sambil menggaruk leher yang tidak gatal.
"Oh iya, kita tadi mau ke danau yah Pa" seru Gio berantusias. "Ayo Pa, cepetan!"
"Gas lah kita pergi!" lega Daniel menyalakan mesin mobil. Dinda juga bernapas lega bisa terlepas dari jeratan tanya anak laki-laki itu.
Sang roda empat itu pun perlahan pasti berjalan dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan.
"Begadang, jangan begadang
Kalau tiada artinya
Begadang boleh saja
Kalau ada perlunya
Begadang, jangan begadang
Kalau tiada artinya
Begadang boleh saja
Kalau ada perlunya"
Disepanjang perjalanan, Dinda dan Gio asik bernyanyi dan berjoget tangan. Mobil tersebut seperti sebuah dugem saat dikuasai oleh Dinda.
__ADS_1
"Asik Gio, goyang Yo"umpat Dinda.
Daniel yang nampak tertekan hanya bisa memijit pelipis dahinya dan memfokuskan pandangan pada jalan.