
Deniel sudah mempercayakan semuanya pada kedua asistennya. Ia berharap kedua asistennya itu menjalankan perintahnya dengan baik dan sesuai dengan ekspektasinya.
Reyhan dan Amang berada di toko bunga. Mereka sedang memilih bunga untuk dekor acara spesial bosnya.
"Amang, kamu ngapain disini?"tanya Yuli yang baru saja datang. Ia juga melihat keberadaan Reyhan disana.
Amang dan Reyhan yang tadi disibukkan dengan pilih memilih bunga seketika menoleh pada asal sumber suara yang begitu familiar itu.
"Nona Yuli?"kaget Amang melihat keberadaan Yuli.
"Kalian beli bunga?"tanya Yuli datar.
"Bukan, lagi beli seblak."Jawab Amang asal."Ya iyalah beli bunga,Nona."Lanjut Amang memutar bola mata.
"Oh," balas Yuli dengan anggukan kepala.
"Nona sendiri, mau beli bunga untuk apa?"tanya Reyhan.
"Untuk anniversary kakakku." Yuli menjawab dengan cepat dan terkesan acuh.
Awalnya Yuli enggan sekali untuk mengobrol atau hanya sekedar menjawab pertanyaan dari Reyhan.
"Benarkah? kami juga sedang mencari bunga untuk mendekorasi tempat makan malam romantis Bos dan istrinya."Jelas Reyhan.
"Wah pas sekali, bagaimana kalau Nona membantu kami?" tanya Amang menawarkannya.
"Kenapa aku? bukankah kalian yang diperintahkan oleh kakak ku?" jawab Yuli sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Aku tidak mau!"sambungnya menolak dengan yakin tawaran dari Amang.
"Kami masih kurang mengerti untuk mendekorasi tempatnya nanti. Ya maklum kami adalah seorang laki-laki yang tidak memiliki jiwa sini sama sekali." Balas Reyhan memperjelas.
Reyhan masih bingung dengan titah yang diberikan oleh Deniel.Iya takut yang dibuatnya tidak sesuai dengan keinginan pasangan suami istri itu. Apalagi memiliki partner seperti Amang yang sulit untuk dipercayai.
Yuli diam sejenak dan sibuk mempertimbangkannya.
"Gimana, Nona?" tanya Amang memastikan.
"Hhmm,"jawab Yuli dengan anggukan.
Reyhan dan Amang pun tersenyum.
"Kita adalah panter!"seru Amang.
"Oke jadi kita mulai dari mana?"tanya Yuli.
"Kami masih bingung untuk memilih bunga yang bagus disini." Reyhan mengungkapkan keluhannya.
Yuli pun mengangguk mengerti dan berjalan mendekati Reyhan yang tengah berdiri pada kumpulan bunga Mawar.
"Kakak ipar ku sangat menyukai mawar," ungkap Yuli tersenyum getir sambil memegangi bunga tersebut.
Entahlah semenjak mengenal nama Mawar sang tunangan Reyhan, ia sedikit kesal dengan bunga itu.
Yuli dan Reyhan disibukkan dengan memilih Mawar yang sangat bagus untuk kakaknya. Sedangkan Amang hanya diam memperhatikan karena tak paham akan dunia perbungaan.
__ADS_1
"Nona, ini namanya bunga apa ya?"tanya Amang menunjukkan bunga yang dipegangnya.
"Akasia,"jawab Yuli singkat.
"Akasia, aku rindu dipeluk dia...hahaha" Amang tersenyum geli mendengar gombalannya sendiri.
Yuli dan Reyhan pun sontak menghentikan aktivitas mereka dan langsung menoleh pada Amang. Mereka bertiga pun cekikikan tertawa.
Tak mau kalah beradu gombal, Reyhan pun mengambil bunga yang tidak jauh berada didekatnya.
"Kembang sepatu, kembali sayang pada yang dulu." Mata Reyhan tertuju pada Yuli.
Yuli yang awalnya badmood kini menjadi good mood. Senyumnya mengembang usai mendapatkan kata-kata bucin dari kedua asisten kakaknya itu.
"Kamu yang gombal, kok aku yang baper ya?"ucap Amang membuat Reyhan seketika melotot.
"Bukan buat kamu!" ketus Reyhan.
"Matahari, masa lalu tak harus aku pikiri." Balas Yuli melirik sekilas Reyhan. Dari kata-kata tersebut, ia seakan sedang menyinggung pria yang tengah berdiri di dekatnya.
Reyhan seketika diam membeku mendapat sindiran keras dari Yuli.
"Dahlia, dahulu bersama ku sekarang dengan dia..." Yuli kembali melontarkan kata-kata sindiran yang tertuju pada mantan pacarnya itu.
Kali ini Reyhan tak bisa berkutik dan kembali diam membeku.
"Ahahaha yaudah sama saya aja,Nona."Celetuk Amang tertawa renyah.
"Idih, ogah!"jawan mentah-mentah Yuli.
Yuli tertawa mendapatkan candaan tersebut.
"Indahnya suara buaya," ucap Yuli tersenyum miring.
"Saya bukan buaya Nona, tapi kadal!"sahut Amang tertawa.
"Udah jadi indomie, seleramu. Tapi ternyata hanya bisa jadi kodomo, teman baik mu." Amang melirik Yuli. Sudah lama memang Amang menaruh hati pada adik majikannya itu.
"Makanya open BO aja kamu biar gak galau-galau amat,"ucap Yuli asal.
Amang dan Reyhan sontak mengeriyitkan dahinya secara bersama.Bisa-bisanya Yuli mengatakan hal tersebut.
Amang memejamkan matanya sejenak entah apalagi yang ada dalam pikiran pria itu.Apakah dia menganggap serius ucapan Yuli tadi?
Yuli dan Reyhan saling pandang melihat tingkah sohib mereka itu. Kali ini hal apalagi yang akan mengocok perut.
Amang menatap teduh pada Yuli. Kali ini kata-kata mutiara apalagi kah yang akan digunakannya untuk menarik perhatian Yuli.
"Ku buka pintu hatimu dengan Al-Fatihah, hingga terguncang Al-Zalzalah, karena aku tahu hati mu tak sekeras Al-lahid, melainkan selembut Ar-Rahman."
Nampak senyum merekah yang dipancarkan oleh Yuli membuat Amang yang melihatnya tersipu malu.
"Satu kosong untuk ku hari ini,"bisik Amang pada Reyhan.
Reyhan menaikkan alisnya. Kapan dia dan Amang bersaing? dan kapan persaingan ini dimulai. Ya Tuhan, dasar Amang!!
__ADS_1
Amang kemudian merapikan jambulnya yang setinggi harapan.
"Ya Allah, senyum Nona candu bagi saya."Ungkap Amang.
"Tidak sia-sia saya pesantren 3 tahun," guman Amang.
"Seratus deh buat Amang udah bikin aku seneng hari ini,"puji Yuli sambil tertawa mengingat serangkaian gombalan tadi.
"Wah berarti udah bisa masuk ke hatinya dong?"goda Amang.
"Belum bisa Mang, lagi close orderan."Jawab Yuli sambil tertawa.
"Nona, nilai untuk saya berapa?" pertanyaan dari Reyhan tersebut membuat Yuli tertawa.
"Kamu cuman 30!" jawab Yuli sambil tertawa.
Mendengar itu Amang pun ikut tertawa puas.
"Cepuin-cepuin,hahaha"seru Amang layaknya setan yang sedang memanas-manaskan suasana.
Reyhan mentap jengah pada Amang.Bisa-bisanya sohibnya itu menjadi pembatas antara dia dan Yuli.
Reyhan menatap penuh kekesalan. Sedari tadi tanduk tak kasat matanya sudah muncul kepermukaan seolah akan menerkam Amang hidup-hidup.
Candaan ringan tadi usai juga. Yuli kembali melanjutkan kesibukkannya memilih-milih bunga.
"Kalian kalau kerja kayak gini gak makan gitu?" tanya Yuli yang mulai merasakan teriakan cacing dari dalam perutnya.
Reyhan dan Amang menggeleng secara bersamaan.
"Gak asik kalian," cibir Yuli.
"Mang sana kamu beliin makanan, laper aku."Pinta Yuli.
"Baik Nona, mau dibeliin apa aja?"tanya Amang.
"Seblak deh," jawab Yuli.
Amang pun pergi untuk membelikan pesanan dari Yuli.
"Masih suka seblak?"tanya Reyhan.
"Iya, kayak dulu masih pencinta seblak."Ucap Yuli tanpa mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga yang sedang dipilahnya.
"Jadi perasaan kamu.."
"Awww.."ringis Yuli saat jarinya tertusuk duri pada batang mawar.
Spontan Reyhan langsung mengecup jari Yuli. Jarak mereka cukup dekat. Tatapan mereka saling bertemu.
Secepat mungkin Yuli membuyarkan tatapannya itu. Ia menarik jarinya yang tengah berada pada mulut Reyhan.
"Masih sakit gak?"tanya Reyhan memastikan.
"Enggak kok, ini cuman ketusuk doang. Darahnya juga gak banyak-banyak amat."Tutur Yuli.
__ADS_1