
Daniel kemudian masuk ke dalam kamar. Melihat sang istri yang tertidur di kasur. Ia kemudian mengelus pelan kepala dan sesekali memainkan rambut bergelombang istrinya.
Aksi Daniel nyatanya membuat Dinda terbangun.
"Niel, ternyata kamu." Ucap Dinda sambil meregangkan badannya.
"Kamu sakit?" tanya Daniel. "Aku panggilin dokter, gimana?" lanjutnya menawarkan.
Dinda menggelengkan kepala tanda tak setujunya pada masukkan yang diberikan oleh Daniel.
"Lebai tau gak, orang cuman pusing dikit."
"Masa?" ucap Daniel menoel hidung Dinda.
"Niel, jalan-jalan yuk." Ajak Dinda.
Daniel yang tadinya sibuk melepaskan dasi yang menerkam lehernya pun langsung menoleh istrinya.
"Buat apa?" balas Daniel dengan satu pertanyaan yang membuat Dinda memutar bola matanya malas.
"Mau kampanye jadi presiden di alun-alun kota! pakai nanya lagi!" decak Dinda sebal sambil melipat kedua tangan didepan dada.
"Kampanye malam-malam, mau cari rakyat goib kamu?" jawab Daniel sambil tertawa renyah.
"Daniel!" teriak Dinda.
"Huuffttt," peringat Daniel dengan jari telunjuk yang berada didepan bibir.
"Malam-malam teriak, mau manggil setan kamu." Ucap Daniel.
"Gini nih resiko punya suami tua, istrinya pengen jalan-jalan aja dianya gak peka!" kesal Dinda memasang wajah cemberutnya.
"Bukannya gak peka Din, kamu itu lagi sakit, mana tega aku bawa kamu kena angin malam, entar malah tambah parah lagi sakit kamu." Jelas Daniel perlahan agar istri bawelnya itu bisa mengerti.
"Aku tuh gak sakit kok Niel, aku cuman pusing doang tadi. Ini udah sembuh kok." Masuk telinga kiri, nampaknya penjelasan Daniel dibuang mentah-mentah oleh Dinda.
"Boleh ya," mohon Dinda dengan wajah memelasnya.Daniel diam sejenak mempertimbangkan.
"Gak perlu mewah kok, keliling komplek juga aku seneng." Ucap Dinda tersenyum manis.
"Kamu tuh ya kalau soal ngebujuk orang paling bisa," Daniel berjalan kearah lemari pakaian mengambil satu buah baju kaos putih polos dipadukan dengan celana panjang.
"Jadi gak nih kita?" tanya Dinda memastikan.
"Sabar bisa gak sih, kamu lihat aku baru makai celana sampai paha doang," balas Daniel dibalas dengan Dinda dengan nyengiran.
Daniel dan Dinda pun jadi untuk pergi jalan-jalan.
"Aku maunya kamu pakai motor kali ini," pinta Dinda sesaat sebelum Daniel mengeluarkan mobilnya.
"Dingin loh Din, angin malam ini." Tolak halus Daniel.
"Kamu kok alay banget sih, biasa aja kali baru juga jam 10 malam." Jawab Dinda sambil melihat kembali waktu yang tertera pada ponselnya.
"Iya deh iya," Daniel tidak bisa membantahnya.
"Perempuan ada ras terkuat dimuka bumi ini" guman Daniel pelan sambil membawa mengeluarkan motor dari garasi.
"Apa kata mu tadi?" tanya Dinda seakan samar-samar mendengar gumanan dari suaminya.
"Kucing tadi terbang," jawab Daniel cepat.
"Jokes bapak-bapak banget anjay." Tawa Dinda.
Motor metik berwarna hitam pun keluar dari garasi. Lumayan berdebu karena mungkin sudah lama tidak digunakan oleh Daniel.
"Ayo naik," ajak Daniel usai membersihkan jok untuk sang istri duduk.
"Asik!" seru Dinda bak seorang anak kecil.
Daniel tertawa pelan diiringi dengan gelengan kepala melihat tingkah istrinya.
Motor pun melaju pelan perlahan menjauh meninggalkan kediaman megah nan mewah mereka.
Diperjalanan Dinda begitu antusias. Jarang-jarang baginya menaiki motor. Terakhir kali ia naik motor pada saat di kampung halaman sang suami.
"Tebak deh, kenapa spion motor itu cuman ada 2 ?" tanya Daniel sesekali memperhatikan wajah istrinya pada spion motor.
"Karena kalau 3 ganjil." Jawab Dinda sontak mengundang tawa dari Daniel.
"Bahahah, diluar nayla tidak habis fikri." Komentar Daniel atas jawaban polos dari Dinda.
Dinda pun ikut tertawa, ia tahu bahwa jawaban asal darinya pasti salah.
Kemudian motor terus melaju tapi masih dengan kecepatan yang sama. Gurauan diperjalanan sesekali membuat dua pasangan suami istri itu tertawa.
"Ada bakso tuh Niel, makan yuk" pinta Dinda.
__ADS_1
Daniel mengangguk dan langsung memarkirkan kendaraannya disamping gerobak bakso.
"Baksonya dua porsi ya," ucap Daniel dan langsung duduk.
"Capek?" Daniel menyodorkan segelas air minum untuk Dinda.
Dinda pun langsung meminumnya.
"Kasian Gio gak ikut," ucap Dinda memikirkan bocah yang tertidur pulas dikamar.
"Gak usah dipikirin. Lagian ini jam tidurnya Gio." Jawab Daniel usai meminum habis secangkir air putih.
"Kapan-kapan kita ajak Gio naik motor ya, bertiga pokoknya." Ucap Dinda dibales oleh Daniel dengan anggukan kepala.
Tidak lama bakso yang mereka pesan pun datang.
Mereka berdua pun mulai menyantap bakso tersebut. Disela-sela makan itu, Dinda menuangkan sambal lumayan banyak pada mangkoknya.
"Jangan banyak-banyak, pedas." Tegur Daniel.
"Iya dikit kok," jawab Dinda mengiyakannya.
"Tuan, ternyata ada disini juga," sapa pria begitu familiar.
"Reyhan," Daniel menoleh pada Reyhan yang tiba-tiba duduk satu meja dengan mereka.
"Tumben healing malam-malam" singgung Reyhan sambil memasukkan bakso ke dalam mulut.
"Lagi bosen di rumah makanya jalan-jalan," jawab Dinda.
"Oh sosis sekali kalian." Ucap Reyhan dengan senyum.
"So sweet, Han!" Daniel mengoreksi kalimat Reyhan yang salah.
"Han, Han, pasti kebanyakan makan micin nih, makanya berabe." Ledek Dinda.
"Dari tadi senyum-senyum mulu kamu Han, perasaan saya gak naikin gaji kamu deh." Celetuk Daniel melihat ekspresi wajah bahagia yang terpancar dari Reyhan.
"Hahaha bisa aja, muka saya memang begini, murah senyum." Elak Reyhan.
"Cerita atau aku sentil ginjal kamu Han?!" ancam Dinda.
"Loh dia gak cerita?" tanya Reyhan bingung.
"Cerita apa? siapa yang cerita?" tanya Daniel juga bingung dengan arah pembicaraannya.
Yuli telah usai menyantap makanannya bersama Rika.
"Kamu mau pulang atau main ke rumah aku dulu?" tanya Yuli pada Rika.
"Maunya main ke rumah kamu, selain bawa seserahan nanti." Jawab Reyhan.
"Elah, bukan nanya elu!" celetuk Rika.
"Kamu dari tadi gak pergi-pergi ya, kamu ga capek apah?!" kesal Yuli.
"Enggak," jawab Reyhan tersenyum.
Yuli menghembuskan nafas kasar.
"Jadi gimana Rik?" tanya Yuli membuang muka pada Reyhan.
"Kayaknya enggak deh, aku kenyang pengen turu aja deh di rumah," jawab Rika menguap begitu lebarnya disertai sendawa membuat Yuli dan Reyhan mengeriyitkan dahinya.
"Tidur mulu perasaan, ya udah deh sana!" kesal Yuli.
"Ya udah aku pulang yah, bye." Pamit Rika.
"Kalau bisa tidurnya selamanya juga gak apa-apa," ucap Reyhan spontan.
Yuli yang mendengarnya langsung mencubit lengan Reyhan.
"Aawwww" pekik Reyhan memegangi lengan yang menjadi tumbal cubitan dari Yuli.
Rika langsung membalikkan badannya,"apaan tadi katanya?"
"Hehe gak ada Rik, udah sana kamu pulang, katanya mau tidur." Jawab Yuli merapatkan giginya.
Rika pun pulang dan menghiraukan mereka berdua.
"Ada-ada aja ngomongnya yah, kamu gak tau aja kalau dia marah kayak gunung meletus." Sebal Yuli.
"Sama kayak kamu," jawab Reyhan.
"Apa?" Yuli mengangkat kedua alis nya tak setuju dengan pendapat Reyhan.
Reyhan tersenyum, "ah sudah lupakan. Gimana kalau aku anter pulang?"
__ADS_1
"Gak!" tolak Yuli mentah-mentah.
"Kamu gak capek apa bohongi perasaan kamu kayak gini, aku hampir nyerah loh sebenarnya," Reyhan menghembuskan nafas kepasrahannya.
Yuli tertekun sejenak, " ya terus kenapa ga nyerah aja?" jawab Yuli dengan menampilkan wajah sinisnya.
"Tapi boong!" seru Reyhan tertawa.
"Ketauan banget muka kamu sedih pas aku bilang gitu. Gak mungkin lah aku nyerah gitu aja buat dapetin cintanya aku." Jelas Reyhan.
Reyhan mengambil sebuah benda kecil yang ada di saku jasnya.
"Ini pemberian ibu ku, katanya tolong kasihin sama Yuli, calon mantu" Reyhan memberikan cincin emas itu pada Yuli.
"Maksud ngasih ini untuk apa?" tanya Yuli.
"Ya kamu pikir aja sendiri," kekeh Reyhan.
"Sini aku pasangin," Reyhan memasangkannya pada jari manis Yuli.Tidak ada perlawanan pada wanita itu untuk kali ini.
"Ini dari ibuku, kalau dari aku pas kamu wisuda ya," ucap Reyhan disela-sela pemasang cincin.
"Ternyata pas ya," ucap Reyhan senang.
Pipi Yuli sontak memerah merona. Salting brutal mungkin didalam hatinya.
"Kalau udah kayak gini, jangan main-main lagi ya," ucap Reyhan layaknya seorang yang telah memilikinya.
"Hah anda sehat? aku belum jawab apa-apa loh?" kaget Yuli.
"Ini udah diseriusin loh, kamu mau nolak lagi?" tatapan Reyhan yang begitu intens pada Yuli.
"Kamu yakin gak kayak dulu lagi kan?" tanya Yuli memastikan.
Reyhan kemudian memegangi kedua bahu Yuli, "Kamu harus yakin sama aku, kalau kamu gak yakin, gimana hubungan ini bisa berjalan?"
Flashback Off
Saking menyimaknya dalam mendengar cerita Reyhan, Daniel dan Dinda tidak menyadari bahwa Reyhan telah menyelesaikan cerita yang begitu bermakna itu.
"Udah selesai?" tanya Dinda.
"Iya, sudah." Jawab Reyhan lega setelah bercerita.
"Sekarang aku bisa mengerti, bahwa perempuan itu hanya butuh kepastian." Ucap Reyhan.
"Nah bener Han, effort kamu gak main-main sih. Salut deh buat kamu." Dinda bangga dan langsung mengacungkan jempol sebagai bentuk apresiasinya pada Reyhan.
"Gila ya Yuli, setelah banyak effort akhirnya luluh juga dia." Kekeh Daniel.
"Cinta ku diterima di angkringan kampus kelazzz" seru Dinda memberikan sebuah judul pada cerita Reyhan.
Daniel dan Reyhan pun seketika tertawa secara bersamaan.
"Nih, tolong fotoin" pinta Dinda menyodorkan ponselnya pada Reyhan.
"Bergaya dong Niel!" pinta Dinda pada sang suami.
"Tumben tumbenannya kamu pengen foto,"ucap Daniel.
"Mengabadikan sebuah momen, sayangkan muka cantik aku gak diabadiin." Balas Dinda.
Cekrek
Cekrek
Beberapa foto telah terambil dengan gaya yang berbeda-beda dan pas sekali makanan mereka juga telah habis dimakan.
Mereka pun pulang ke rumah karena sudah merasa ngantuk.
Diperjalanan pulang, masih saja ada gurauan Daniel ataupun Dinda yang membuat tertawa.
"Eh bentar Niel, itu yang ngegantung apaan ya?" tanya Dinda heran.
Daniel pun memberhentikan motornya sebentar.
"Oh iya yah, kayak rambut ngentung, terus tuh putih-putih apaan?" tanya Daniel lagi memperhatikan dengan seksama pada sebuah pohon yang cukup besar di pinggir jalan.
"Hihihihihihi"
Daniel dan Dinda seketika meneguk salivanya seakan sudah tahu makhluk apa yang tengah bergelantung di pohon tersebut.
"Se......SETAN ANJAYYYY" Daniel langsung gas pol mengendarai motornya meninggalkan tempat sepi tersebut.
"Mbah Kunti itu!" pekik Dinda ketakutan.
Ig : sripuji568
__ADS_1