
Pagi yang gerimis diawal pekan. Meskipun suhu udara cukup dingin akibat hujan yang lebat tadi malam, tidak membuat Daniel bermalas-malasan.
CEO itu tetap semangat untuk pergi ke kantor. Apalagi hari ini ia harus menghadiri pertemuan pada beberapa perusahaan membuat awal pekan ini menjadi sangat sibuk.
Daniel mengenakan kemeja putih yang dipilihkan Dinda serta setelan jas hitam dengan celana yang senada.
"Itu itu mulu gaya rambut kamu, kayak pejabat negara aja" celetuk Dinda yang memperhatikan sang suami menyisir rambut didepan cermin.
Dinda sedikit jengkel dengan gaya rambut yang disisir ke samping.
"Bukannya jadi CEO itu lebih tinggi dari pejabat?"sombong Daniel dan kini disibukkan dengan merapikan kerah baju.
Dinda kemudian berjalan kearah Daniel. "Ya gak usah juga gaya rambutnya kayak gini, norak."
Dinda langsung mengacak-acak rambut Daniel yang sudah rapi disisir sedemikian rupa.
Aksi sang istri membuat Daniel melotot di depan cermin sambil memperhatikan rambutnya yang seperti semak belukar di atas kepala.
"Gak lucu yah!" kesal Daniel.
"Hahahaha lucu itu," jawab Dinda cekikikan tertawa.
Dinda kemudian mengambil ponsel Daniel yang letaknya tidak jauh dari jangkauannya. "Senyum dulu dong sayangggg"
Makin gencar Dinda menggoda sang suami yang kini menampilkan muka masam. Bahkan Dinda merekam wajah sang suami yang pasrah tersebut.
"Nyanyi dong Niel" pinta Dinda.
"Gak mau ah, ini aja udah malu-maluin," tolak Daniel menatap ke sembarang arah.
"Mau yah, buat aku" pinta Dinda lagi dengan wajah memelas.
"Emang gak bisa diajak bercanda nih orang," batin Dinda dan akan menutup rekaman tersebut.
"Tiba-tiba, aku melayang
Menembus lapisan lapisan awan
Ku hempasan semua sedihku
__ADS_1
Aku terbang ke atas bulan
Memeluk bintang-bintang
Bahagia rasa hatiku"
Daniel menuruti permintaan Dinda meskipun dengan suara pales namun pasih.
Sontak saja Dinda melanjutkan rekamannya dan tawanya kembali pecah melihat penampilan spektakuler dari sang suami.
"Kirain kamu gak mau nyanyi tadi," ucap Dinda memeluk sekilas sang suami.
"Apa sih yang gak buat kamu," jawab Daniel kemudian menarik Dinda untuk memeluk.
"Ya udah videonya aku simpen yah," ijin Dinda.
"Simpen aja, siapa juga yang larang" jawab Daniel santai dan kembali menyisir rambut yang acak-acakan tadi.
"Tapi jangan di hapus ya," peringkat Dinda dengan mata yang masih terpacu pada ponsel yang suami.
"Hhmmm" jawab Daniel mengiyakan. Dinda pun tersenyum.
Daniel seketika menaikan salah satu alisnya. Tidak biasanya mantan istrinya itu menelpon berulang kali.
"Coba telepon balik," pinta Dinda memberikan ponsel yang dipegang kepada Daniel.
Daniel pun menelpon Sonya. Ia juga khawatir dengan mantan istrinya itu.
"Gak aktif," terang Daniel.
"Coba tersebut panggil," pinta Dinda.
Sudah berulang kali Daniel menelpon Sonya, namun sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Terus gimana?" tanya Dinda.
"Kamu harus temui Sonya di apartemennya," pinta Dinda.
"Aku..."
__ADS_1
Drutttt
Belum sempat Daniel menyelesaikan kalimatnya, getaran ponsel pertanda panggilan telepon masuk membuat kedua kaget.
Daniel langsung merogoh ponselnya yang tadi sudah sempat di masukkan nya ke dalam saku celana.
"Ah sialan, ternyata si Amang!" gerutu Daniel yang sudah mengharapkan panggilan dari Sonya.
"Kurang ajar Amang!" kesal Dinda.
Aneh, dimana saja sepertinya Amang selalu salah :)
Daniel kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Daniel ketus.
"Bos ada dimana? apakah sudah berangkat?"cecar Amang dengan pertanyaan.
"Belum." Jawab Daniel.
"Allahuakbar," sontak saja Amang bertakbir. "Klien menginginkan meeting sekarang juga, setelah meeting baru kita akan mengadakan pertemuan ke beberapa perusahaan." Jelas Amang.
"Iyah aku akan ke sana," jawab Daniel sambil memijit pelipis dahinya.
"Secepatnya yah Bos, apa perlu saya kirimkan jet pribadi untuk menjemput?" ucap ngasal Amang dan tak digubris oleh Daniel.
Daniel tidak menjawabnya dan langsung menutup panggilan tersebut.
Ia kemudian menatap pada sang istri yang masih terlihat panik memikirkan Sonya. Bagaimana pun juga Daniel dan Dinda sudah menganggap Sonya adalah keluarga bukan mantan.
"Tenang," Daniel meyakinkan dan memegangi dengan lembut tangan sang istri.
"Aku harus pergi ke kantor sekarang juga," jelas Daniel. " Dan untuk Sonya, aku akan menyuruh orang untuk mencek kondisinya di apartemen." Lanjut Daniel membuat Dinda sedikit lega.
"Setelah itu kabari aku tentang keadaan Sonya," tambah Dinda.
"Pasti."
Daniel mencium pucuk kepala Dinda dan langsung pergi.
__ADS_1