
Ting
Usai menghidupkan ponselnya yang telah mati, notifikasi pesan begitu banyak masuk pada ponselnya, Daniel.
Daniel membuka satu pesan tersebut. Ia mengepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya. Kemudian ia memasukan dengan kasar ponselnya kedalam saku.
"Cepat kita selesaikan masalah ini!" kesal Daniel frustasi.
Dilain sisi, Dinda sudah diperjalanan pulang.
"Enak es krimnya, Gio?" tanya Dinda diperjalanan. Seusai di mall, Dinda langsung menjemput Gio pulang sekolah.
"Enak banget Ma" jawab Gio menjilati es krim yang hampir meleleh.
"Gio sayang, belepotan muka kamu" Salma langsung mengambilkan tisu untuk membersihkan wajah Gio.
Dinda dan Yuli tertawa melihat wajah Gio yang menggemaskan itu.
"Maafin Mama ya Gio, tapi pagi gak anter kamu ke sekolah" Dinda meminta maaf pada putranya itu, ia merasa bersalah.
Gio mengangguk dan masih fokus dengan es krim yang ada ditangan kanannya.
"Iya Ma gak apa-apa, aku udah dianter sama Papa kok tadi pagi"jawab Gio.
Dinda tersenyum sambil mengelus kepala bocah tersebut.
"Tau gak Ma? tadi pagi Papa nganter aku udah kayak Rossi loh" beber Gio menengadahkan kepalanya ke atas menatap Dinda.
Dinda pun kaget. "Ngebut dong Papa? gak biasanya Papa kamu kayak gitu" heran Dinda.
"Ada yang gak beres nih sama Daniel," pikir Dinda.
"Gak papa Ma, aku juga seneng kok dibawa kayak gitu sama Papa. Asik tau!" tak takut sama sekali, Gio malah senang akan hal itu.
__ADS_1
"Gak usah dipikirin Kak, lagian Gio nya juga slow-slow aja, palingan Kak Daniel tadi pagi lagi ngeprank malaikat Izrail" sahut Yuli santai.
"Iya Din, bener apa yang dibilang Yuli." Sahut Salma melahap coklat.
"Iya-iya," balas Dinda mengambil coklat yang ada ditangan Salma.
Didalam mobil, Dinda mengarahkan pandangannya pada kaca mobil. Ia kemudian membuka ponselnya.
"Segitu sibukkah Tuan ini hingga chat ku tidak dibalas juga?" umpat Dinda dalam hati kesal pada suaminya tersebut.
Malamnya hujan mengguyur kota. Hawa yang dingin seperti ini membuat orang nyaman untuk menempatkan tubuh pada kasur berbalut selimut.
Tapi tidak pada keluarga Abraham. Yuli sedang asik bermain dengan keponakan satu-satunya tersebut.
"Kecar Tante! kecar Tante girang wleeee" Yuli berlari sekuat tenaga menghindari kejaran dari Gio.
"Iihh awas yah Tante" senang Gio mengejar Yuli.
"Udah jangan main kejar-kejaran nanti jatuh," peringat Dinda namun dihiraukan oleh mereka.
"Nah kan kejadian" ucap Dinda langsung menghampiri Gio.
Yuli membalikkan badannya dan dengan cepat membangunkan Gio menuntun untuk berdiri.
"Sakit gak?" tanya Dinda.
Gio menggeleng, " gak sakit kok Ma"
Gio malah menyengir bukannya menangis.
"Iya dong, Gio kan jagoan" umpat Yuli. "Main lagi yuk?" ajak Yuli.
Ajakan tersebut sontak mendapat sorot mata tajam oleh Dinda.
__ADS_1
"Udah tau tadi Gio jatuh, malah diajak main lagi" tegur Dinda.
"Hehehe Gio kan Ironman" tawa Yuli sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya Ma, aku mau main lagi" pinta Gio tidak kapok.
Dinda kemudian berjongkok menyamakan tingginya dengan Gio.
"Kamu liat gak tidak jam berapa?" Dinda mengarahkan pandangan bocah itu pada jam dinding yang terpampang diruang tamu.
"Jam 9" jawab Gio.
"Nah tu tau, ini sudah waktunya Gio buat tidur" ucap Dinda memberi pengertian.
"Tapi aku masih pengen main"jawab Gio.
"Gio sayang, mainnya besok lagi ya, Tante juga pengen tidur nih" Yuli mulai bertanggung jawab untuk membujuk Gio.
Gio pun mengangguk perlahan. "Ya udah deh aku tidur, tapi janji ya besok main lagi"
"Iyaaa" balas Dinda dan Yuli secara bersamaan.
Gio pun menuju kamar, diantar oleh Mbok Ijah.
"Kakak kamu sampai sekarang gak pulang-pulang ya?" keluh Dinda.
Ia mengintip dibalik jendela berharap kedatangan Daniel. Namun yang ditunggu-tunggu tidak menampakkan batang hidungnya juga.
"Ya sabar Kak, Kak Daniel kan sibuk." jawab Yuli berusaha menenangkannya.
"Sesibuk itu sampai gak bales chat aku dari tadi pagi?" tuding Dinda tak percaya.
"Kamu gak ada nyembunyiin sesuatu kan sama aku?" Dinda menyipitkan matanya pada Yuli.
__ADS_1
"Ya e-enggak lah Kak" jawab Yuli.