
Mendengar sahutan dari dalam ruangan tersebut, pintu pun perlahan terbuka dan perlahan menampakkan sosok wanita yang begitu familiar.
"Yuli?!" pekik Daniel kaget dengan kehadiran sang adik.
"Kakak ku sayang!" Yuli dengan cepat langsung menghampiri sang kakak.
Cup
Satu kecupan mendarat sekilas pada wajah tampan Daniel. Seketika mata Daniel membulat sempurna dan sedikit menghindar dari sang adik.
"Aaaaaa!" spontan Daniel berteriak histeris dan langsung mengusap wajahnya yang baru disambar oleh bibir Yuli.
"Anak asem!" marah Daniel menatap tajam pada Yuli sambil mengusap wajah.
"Hehehe maaf Kak," nyengir Yuli.
"Nona tidak ada niatan untuk mencium saya saja? masih polos nih." Ucap Amang sambil melontarkan kedipan mautnya.
Yuli langsung bergelidik ngeri. " Gak deh Mang, makasih."
"Heh ngapa tuh mata kedip kedip kayak gitu, jangan caper kamu sama adik ku!" peringat Daniel baru menyadari kelakuan Amang.
"Eh tidak Bos, tadi cuman kemasukan debu tornado,"alibi Amang langsung mengosok matanya.
Semua orang di ruangan tersebut memutar bola mata mereka malas.
"Tumben kamu kesini?" tanya Daniel. Ya, tidak biasanya Yuli datang ke kantornya.
"Pasti ada maunya nih," tebak Daniel melihat tingkah Yuli yang sok baik di hadapannya.
"Lah enggak kok, Kakak mah suuzun aja sama aku," jawab Yuli sambil menggaruk leher belakangnya disertai nyengiran.
Sepertinya Daniel tidak salah seuzun namun memang ada maksud terselubung dari kedatangan sang adik.
"Tuan, saya permisi dulu. 1 jam lagi kita akan berangkat." Ucap Eva pamit untuk pergi.
"Iya, silahkan." Jawab Daniel.
__ADS_1
"Saya juga, Bos."Pamit Amang yang mengingat jika kerjaannya juga menumpuk. Daniel kemudian membalasnya dengan anggukan kepala tanda pengiyaan.
Kedua karyawan pun pergi meninggalkan ruangannya.
"Kak, minta duit dong." Ucap Yuli to the point.
Sontak mata Daniel memutar malas."Nah kan, emang ada maunya nih anak." gerutu Daniel mengambil dompet yang ada pada saku celananya.
"Nih, cukup kan" menyodorkan uang pada sang adik.
Yuli langsung mengambilnya, muka sedikit cemberut.
"Se kata kata, malah di kasi goceng." Yuli menggerutu.
"Cukup lah buat beli kinderjoy," balas Daniel sambil terkekeh.
"Cukup ini kalau buat Gio, kalau aku enggak. Tambahin napa sih Kak, uang bulanan yang Kakak kasih abis," Yuli memelas.
"Abis? digunain buat apa?" tanya Daniel.
"Bayar keperluan buat wisuda, ya kali aku bayarnya pakai daun." Jujur Yuli sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Yuli mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih ya Kak," ucap Yuli dibalas oleh Daniel dengan anggukan kepala.
"Sebenarnya aku malu minta sama Kakak," ucap Yuli sedikit menundukkan kepalanya dengan wajah teduh.
"Gak usah malu, kamu emang tanggungan aku. Kalau kamu sudah menikah, baru deh kamu aku lepas dan nanti bakalan jadi tanggungan suami kamu." Ucap Daniel sedikit pun tidak merasa terbebani untuk menanggung biaya hidup untuk sang adik.
"Nah kan aku jadi sedih," Yuli langsung menyeka air matanya yang hampir saja jatuh. Ia kemudian memeluk Daniel.
"Udah-udah, sana jajan." Suruh Daniel membalas pelukan Yuli.
Ting
Bunyi notif sejenak memecahkan suasana haru.
__ADS_1
Daniel melepaskan pelukannya dari Yuli.
Daniel membuka ponselnya dan membaca pesan dari orang suruhannya untuk mencari keberadaan Sonya, si mantan istri.
"Dia baik-baik saja, Tuan."
Itulah pesan singkat yang di kirimkan oleh orang suruhan Daniel.
"Bagus." Ucap Daniel lega.
Yuli yang mendengar gumaman pelan Daniel lantas menaikan salah satu alis heran, "bagus apanya Kak?"
"Tidak ada, anak kecil gak usah tahu." Jawab Daniel cepat dan langsung ponselnya kembali ke dalam saku celana.
"Main rahasian nih sekarang?"kesal Yuli.
"Udah sana pergi, udah aku transfer juga!"pinta Daniel sambil mengibaskan tangannya mengisyaratkan untuk Yuli segera pergi.
"Iya-iya!"kesal Yuli langsung pergi dari hadapan sang kakak sambil menghentakkan kakinya dengan keras.
Daniel hanya tertawa melihat tingkah sang adik.
"Kekhawatiran ku dan Dinda sudah terobati, ternyata Sonya baik-baik saja. Tapi aneh, ngapain juga tadi pagi dia menelepon ku sebanyak itu?" guman Daniel sambil mengusap kepalanya sendiri.
Tidak lama, ketukan pintu kembali terdengar. Lagi-lagi ada saja orang bertamu.
"Masuk," ucap Daniel menanggapi ketukan pintu tersebut.
Pintu pun di buka. "Bagaimana Tuan? apakah sudah siap?kita akan segera berangkat ke perusahaan Bima Group."
Eva mengingatkan kembali.
"Ais... hampir saja aku melupakannya," ucap Daniel sambil memijit pelipis dahinya.
"Apakah Tuan baik-baik saja?" tanya Eva.
"Iya, aku baik." Jawab Daniel beranjak dari duduknya dan memperbaiki bajunya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu tunggu aja di luar nanti aku menyusul."Titah Daniel di balas Eva dengan anggukan kepala.