
Sorenya, Dinda terbangun dari tidur siangnya setelah lelah menangis. Penglihatannya buram, matanya sembab sangat memperihatinkan.
Dinda mengucek-ucek matanya sambil menuruni tangga. Rumah begitu sepi, tidak terdengar celotehan Gio. Begitu sunyi rumah tersebut.
"Mbok, pada kemana ya kok sepi?" tanya Dinda mengagetkan Mbok Ijah yang sibuk mencuci piring.
"Ayam,ayam" latah Mbok Ijah karena kaget.
"Aduh Nya, ngagetin" ucap Mbok Ijah.
"Astaghfirullah, Nyonya habis nangis? kenapa Nya?" cecar Mbok Ijah mendapati wajah Dinda yang sembab.
Dinda hanya memberikan seulas senyum menanggapi pertanyaan asisten rumah tangga itu.
"Mbok belum jawab loh pertanyaan aku tadi" Dinda menagih pertanyaan yang belum dijawab Mbok Ijah.
"Tuan?" tanya Mbok Ijah memastikan. Dinda mengangguk.
"Tuan tadi pergi sama Gio, Mbok juga kurang tahu mau kemana" jelas Mbok Ijah sebatas sepengetahuannya.
"Paling di ke rumah sakit lagi ngejenguk Sonya," batin Dinda.
Dinda membersihkan badannya. Mengenakan dress selutut berwarna hijau sage dan make up tipis dioleskan pada wajahnya.
Dinda pergi meninggalkan rumah menaiki taksi yang sudah dipesannya lewat online.
"Berat banget ya Neng masalahnya?" tanya sang supir taksi mendapati Dinda yang melamun dengan wajah sedih.
Pertanyaan tersebut lantas membuyarkan lamunan Dinda.
"Sok tau banget sih Bang" kekeh Dinda menanggapinya.
"Hidup emang kayak gitu Neng, gak melulu kebahagiaan yang datang dalam kehidupan, kesedihan harus ada biar ada nano-nanonya" tawa si supir diakhir kalimatnya.
"Harus dewasa aja sih menyikapi masalah yang tengah dihadapi," sambung sang supir tidak berhenti berfokus pada jalan.
Dinda mengangguk mengerti dengan apa yang disampaikan oleh supir taksi online itu.
"Abang selama hidup masalah yang paling berat apa?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Berat banget malah"
"Apa?" kepo Dinda.
"Beristri 5" nyengir sang supir.
"Istri 5, hoki banget" kaget Dinda.
Supir itu tertawa, "masalahnya kelima istri saya tidak ada yang akur, saya sulit membagi waktu untuk masing-masing istri saya."
"Senin ke rumah istri pertama, Selasa di rumah istri kedua, Rabu di rumah istri ke tiga, Kamis, di rumah istri kedua kelima. Sisanya dua hari malah jadi rebutan" jelas supir mengatakan keluhannya.
Dinda menutup mulut agar tawanya tidak pecah. Tidak etis rasanya apabila tertawa diatas penderitaan orang lain.
"Dasar buaya kelas kakap" celetuk Dinda dalam hati.
"Emangnya lima hari itu ngapain aja sama istrinya?" tanya Dinda.
"Ya main lah, rungkad" jawab supir.
Dinda geleng-geleng mendengarnya. Diluar nalar tidak habis pikir.
"Rencana mau nambah 2 istri lagi, biar gak ada yang rebutan dihari kosong" ucap supir membuat Dinda kaget lagi.
Setelah obrolan tadi, tidak lama akhirnya taksi sudah tiba ditempat tujuan. Sesuai dengan permintaan Dinda. Ia keluar dan membayar.
Disana sudah banyak sekali orang yang berdatangan. Ramai namun nampaknya acara belum dimulai.
"Aku tidak terlambat," guman Dinda dalam hati.
"Dinda," panggil Bayu. Dinda pun menoleh.
"Aku kira kamu gak bakal dateng tadi" ucap Bayu berasumsi sesaat sebelum Dinda datang.
"Aku sudah berjanji untuk datang, mana mungkin mengingkari" jawab Dinda.
"Gak bawa suami?" tanya Bayu memainkan mata mencari-cari keberadaan Daniel, namun tidak ia temukan sama sekali.
Dinda menggeleng, "Dia lagi sibuk,"
__ADS_1
Bayu mengangguk mengerti, "Ya sudah kalau begitu, mari masuk"ucap Bayu mempersilahkan.
"Biar aku saja mendorong kursi rodanya" pinta Dinda pada suster yang siaga merawat Bayu.
Bayu menoleh pada suster itu dan mengibaskan tangan lembut menyuruh sang suster untuk pergi. Suster itu pun pergi.
Dinda mendorong kursi roda, menuntun Bayu menuju ke depan toko kue. Ya, hobi baru Bayu yang dikembangkannya saat ini.
Acara peresmian toko kue saatnya dimulai. Dinda duduk dan menyaksikan dengan seksama jalannya acara.
Sambutan-sambutan dari masyarakat hingga tiba saatnya pada acara intinya, pemotongan pita.
Bayu dituntun menuju teras toko, pintu tersebut sudah diberi pita merah nan panjang.
"Silahkan,Tuan" ucap salah seorang membawa nampan berisi gunting.
"Dengan pemotongan pita ini, toko kue resmi aku buka"
Tek
Bunyi gunting yang memotong pita tersebut.
Prok
Prok
Prok
Semuanya bertepuk tangan. Mereka mulai masuk ke dalam toko untuk menikmati hidangan berat yang tersedia sekaligus kue-kue yang telah disediakan.
"Din, ini" Bayu menyerahkan sepotong kue pada piring kecil.
Dinda langsung mengambilnya, "emm enak" puji Dinda.
Bayu tersenyum, "syukurlah"
Cukup lama Dinda berada disana, hingga ia lupa akan waktu. Sore menuju malam. Dinda pun segera untuk pulang usai melihat waktu pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Tidak lupa dia berpamitan terlebih dahulu.
Kini Dinda berada di pinggir jalan, menunggu taksi yang dipesannya tak kunjung datang juga.
__ADS_1
Ditengah kebosanannya menunggu, mobil hitam berhenti tepat dihadapannya. Kaca mobil itu membuka perlahan.
"Mama!" seru bocah kematian, Gio.