
"Lihatlah, berdering tadi gak diangkat juga?" Dinda geram bercampur khawatir dengan suaminya tidak kunjung memberi kabar.
Dinda memperlihatkan layar ponselnya pada Yuli, menunjukkan panggilan yang sama sekali tidak dijawab oleh Daniel.
"Tenang lah Kak," Yuli berusahalah menenangkan meskipun ia sendiri juga ikut khawatir.
"Gimana aku bisa tenang, sedangkan Daniel sampai jam segini gak pulang?!" kesal Dinda.
"Aku yakin Kak Daniel baik-baik aja, dia kan sedang...."
Yuli langsung menutup mulutnya. Kalimatnya tidak diselesaikannya.
"Dia sedang apa Yul?" tanya Dinda penasaran.
"Ya Kak Daniel sedang kerja" jawab Yuli cepat.
"Bohong!" Dinda sedikit meninggikan suaranya karena kesal.
"Bilang Yul, Daniel sedang apa? apa yang dia lakukan? apa yang kalian sembunyikan dari ku?" Dinda menyecar dengan pertanyaan bertubi-tubi diikuti dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kak tenanglah, nanti saja biarkan Kak Daniel yang bicara sama Kakak" Yuli memegangi lembu bahu Dinda.
Dinda langsung melepaskan kedua tangan Yuli yang tengah berada di bahunya.
"Untuk apa aku menunggu penjelasan Daniel? sedangkan aku saja gak tahu apa yang dia lakukan?" jawab Dinda. "Sepertinya dia juga gak ada di kantor," lanjut Dinda berasumsi sendiri karena tidak mendapatkan jawaban dari Yuli.
Yuli terdiam, ia bingung harus bagaimana.
"Mulut tidak bisa diajak kompromi, habis runyam nih semuanya" batin Yuli memaki mulutnya sendiri usai kelepasan berbicara.
"Yul, kamu tega sama aku? setidaknya aku bisa tenang kalau kamu cerita sama aku" pinta Dinda berusaha membujuk.
Yuli menghembuskan nafasnya kasar, mulutnya sudah akan melontarkan satu kata.
"Jadi..."
__ADS_1
Cekrek
Belum terselesaikan kalimat Yuli, pintu yang tidak dikunci tiba-tiba saja terbuka hingga mengagetkan kedua wanita tersebut.
Yuli dan Dinda sontak mengalihkan pandangan pada pintu yang terbuka itu.
"Daniel?" kaget Dinda.
Akhirnya orang yang menjadi bahan perdebatan mereka pun datang juga.
Dinda dan Yuli dibuat kaget dengan penampilan lusuh Daniel. Wajahnya tampak lebam, luka-luka yang ada ditangan. Badannya begitu basah akibat diguyur hujan malam ini.
Dinda langsung berlari menghampiri suaminya yang cukup memprihatinkan.
"Kamu kenapa Niel? apa yang terjadi sama kamu?" Dinda memegangi wajah Daniel yang penuh lebam.
Tidak kepikiran lagi Dinda untuk menanyakan kemana gerangan perginya Daniel. Ia hanya khawatir atas kondisi Daniel yang membuatnya kaget.
"Kakak," lirih Yuli memberikan handuk.
"Dengan kondisi kayak gini, masih sempet-sempetnya kamu bohong?" marah Dinda.
"Aku capek, mau keatas dulu pengen bersih-bersih dan mandi." Daniel menghiraukannya dan langsung menuju kamar.
Dinda saling bertatapan dengan Yuli. Nampaknya pikiran mereka sama.
Dinda langsung menyusul Daniel ke atas. Di kamar terlihat hening, nampaknya Daniel masih di kamar mandi.
Dinda telah membawakan kotak P3K. Ia menunggu Daniel keluar dari kamar mandi.
Tidak lama, Daniel pun keluar. Dinda tersenyum pada Daniel.
"Ini baju nya udah aku siapin, Niel" Dinda menunjukkan pakaian yang sudah dipilihkannya untuk Daniel.
"Iya, aku pakai baju yang ini saja" jawab Daniel malah mengambil pakaian kembali ke dalam lemari.
__ADS_1
Dinda dibuat kaget dengan sikap dingin Daniel. Apa yang terjadi? mungkin itulah yang terlintas dalam bedak Dinda.
Daniel pun mengenakan pakaian yang diambilnya di dalam lemari.
"Sini Niel, aku obatin lukanya" Dinda menarik tangan Daniel untuk duduk diatas kasur. Daniel pun duduk.
"Biar aku saja," Daniel mengambil alih kapas yang dipegang oleh Dinda.
Dinda lagi-lagi dibuat kaget.
"Udah biar aku aja Niel," ucap Dinda memaksa.
"Sudah biar aku saja, kamu kan capek abis jalan-jalan tadi siang" jawab Daniel bersikeras.
Dinda pun mengalah dan membiarkan suaminya itu untuk mengobati lukanya sendiri.
"Dari mana kamu tau aku tadi siang jalan-jalan?" tanya Dinda.
"Ya dari mana aja, seneng ya abis ketemu mantan di mall?" sindir Daniel dengan senyum miringnya.
"Maksud kamu apa Niel? kamu nuduh aku yang enggak-enggak" Dinda menggeleng dan sedikit menahan tangis.
"Aku gak sengaja ketemu Bayu tadi siang," jelas Dinda melakukan pembelaan.
Daniel mengambil ponselnya, "Ini apa? satu meja ketawa-tawa kayak gitu? sampai bersulang lagi? apa kalian merayakan aku yang hampir mati ini?" Daniel memperlihatkan layar ponselnya pada Dinda.
Nampak sebuah foto yang tertangkap dari kejauhan. Menampilkan foto Dinda dan Bayu tadi siang.
"Aku gak nyangka kamu sampai berpikiran kayak gitu" Dinda getir dalam berbicara menahan tangis.
"Kamu masih ngelak aja" kekeh Daniel.
"Kamu dateng-dateng gak tahu dari mana, tiba-tiba aja nuduh aku kayak gitu!" geram Dinda. "Aku sakit hati loh sama ucapan kamu!" Tidak dapat dibendung, bulir air matanya pun jatuh juga.
Dinda merebahkan badannya sendiri dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Daniel memilih untuk tidur pada sofa.
__ADS_1
Rumit!