
Theo membawa Sarah datang ke rumah Jesika. Jesika kaget melihat Sarah menangis, Jesika mendesak Theo agar dirinya bisa menggendong Sarah.
"Berikan Sarah, dia haus!" Jesika menatap tajam pada Theo.
"Oke, akan aku berikan. Jangan menatapku seperti itu, sebelum aku berikan aku ingin kau bersiap dan ikut denganku menemui seseorang." Kata Theo.
"Kau menjualku lagi? Huh, kau sungguh pria ba**ngan Theo." Jesika memaki.
"Terserah kau anggap aku apa, perusahaanku lebih penting dibandingkan kau dan anakmu ini. Bekerja samalah denganku, aku tidak akan menyakitimu." Theo menggunakan nada suara rendah.
"Aku punya satu permintaan, aku harap kau tidak keberatan. Aku akan membantumu setelahnya." Kata Jesika.
"Apa? Bukankah aku akan berikan bayimu, padamu? Apa lagi?" Tanya Theo tidak sabar.
"Aku minta kau tanda tangani surat permohonan perceraian, aku sudah muak. Aku muak menjadi mainanmu, aku ingin hidup bahagia dengan putriku." Ucap Jesika.
Theo menghela napas, "dimana suratnya? Cepat berikan padaku." Theo semakin tidam sabar, dalam pikirannya hanya ingin perusahaannya selamat. Apapun jalannya akan ditempuh oleh Theo.
Jesika masuk dalam kamar dan tidak beberapa lama keluar dari kamar dengan membawa sebuah dokumen. Theo menyerahkan Sarah pada Jesika. Tanpa melihat isi dokumen di hadapannya, Theo langsung menandatangani surat tersebut.
"Kau tidak baca isi surat itu?" Tanya Jesika memancing.
"Untuk apa, tidak penting! Sebentar lagi kau akan menjadi simpanan bos besar. Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini. Demi perusahaanku Jesi." Ucap Theo.
"Pria jahat, pria tidak punya perasaan. Otniel benar, jika seseorang sudah terobsesi oleh uang dan kekayaan pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya." Dalam hati Jesika.
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, ayo cepat ikut aku! Waktuku tidak banyak." Theo meminta Jesika bergegas.
Jesika menggendong Sarah dan membawa berkas yang sudah si tanda tangani Theo bersamanya. Jesika mengikuti Theo, keluar dari rumah menuju mobil Theo.
Jesika membuka pintu mobil bagian belakang, Jesika dan Sarah masuk dan menutup pintu mobil. Theo juga masuk ke dalam mobil, Theo langsung pergi ke perusahaan Otniel.
-----
Di kantornya, Otniel gelisah. Otniel berharap rencananya tidak akan sia-sia. Otniel ingin Jesika dan Sarah bahagia, Otniel duduk menunggu dengan sabar di kursi kerjanya. Otniel bermain penanya, mengetuk meja kerja dengan penanya pelan.
Otniel meletakan pena dan berdiri menatap jendela ruang kerjanya. Melihat gedung-gedung tinggi dan langit yang begitu cerah. Lama Otniel berdiri, pikirannya melayang entah kemana.
Tok..
Tok..
Tok..
Pintu ruangannya di ketuk,
Klekk..
Pintu ruangan terbuka, sekertaris masuk untuk menemui Otniel.
Sekertaris berdiri jauh dari Otniel. "Direktur, seseorang datang ingin bertemu anda." Sekertaris berbicara dengan nada suara sopan.
"Siapa?" Tanya Otniel yang langsung memalingkan wajah dan menatap sekertaris itu.
Tap..
Tap..
Tap..
Terdengar suara langkah kaki yang tiba-tiba masuk.
"Aku," jawab seseorang itu, yang tidak lain adalah Theo.
Theo datang bersama Jesika dan Sarah. Otniel menatap sekertarisnya dan mengangguk, seakan tahu isyarat dari boss nya sekertaris itu langsung pergi.
Otniel menatap Theo dari jauh, "kau?" Tanya Otniel berpura-pura tidak mengenali.
"Aku Theo, kesepakatan kita? Dimana kontrak kerjasama kita?" Lagi, lagi, Theo tidak sabaran.
Otniel mendekati kursinya dan duduk. Otniel menyilangkan dua tangannya di dada, menatap tajam ke arah Theo.
"Kau membawa apa yang aku minta tuan Alexander?" Tanya Otniel dingin.
"Ya, ini yang kau minta. Wanita ja**ng dan bayinya." Kata Theo, mendorong Jesika yang menggendong Sarah kearah Otniel.
Otniel kesal, tidak menyangka jika Theo sungguh pria kejam yang menganggap istrinya seperti barang, Otniel menahan kesabarannya. Rencananya tidak boleh gagal.
"Kau, wanita cantik.. kemarilah." Panggil Otniel.
Jesika menatap Theo, Theo melebarkan mata kearah Jesika seakan memerintah Jesika untuk segera mendekati Otniel.
"Wanita sialan, jangan kau pikir kau bisa menghambat jalanku. Huh!" Gerutu Theo dalam hati, Theo geram Jesika tak kujung mendekat pada Otniel.
"Pria sampah! Ba**ngan! Brengs*k! Aku sungguh menyesal mengenalmu Theo. Cukup sudah, ayo kita akhiri ini semua. Sampah sepertimu akan berakhir buruk nantinya." Jesika mengumpati Theo di dalam hatinya, matanya penuh amarah dan kebencian.
Jesika perlahan-lahan berjalan mendekati Otniel, Otniel dan Jesika saling menatap, Jesika terlihat tidak baik. Menahan rasa, sedih, kecewa, murka semua melebur menjadi satu.
Jesika menghentikan langkahnya tepat di samping Otniel. Otniel berdiri, mengambil gagang telepon di atas mejanya, Otniel menghubungi sekertarisnya. Meminta untuk dipanggilkan asistennya. Sekertaris mengerti maksud Otniel, mengiyakan permintaan Otniel. Otniel meletakan kembali gagang telepon di tempatnya, menandakan jika panggilannya berakhir.
Tidak beberapa lama asistennya datang, asistennya berdiri jauh dari Otniel. Asisten itu berdiri di samping Theo.
__ADS_1
"Tuan, berkas yang anda minta sudah saya siapkan." Kata asisten.
"Berikan padanya, biarkan dia baca dan tanda tangan kontraknya." Jawab Otniel.
"Baik," jawab asisten yang langsung menyerahkan sebuah berkas dokumen pada Theo.
Theo langsung menandatangani berkas itu. Dalam pikirannya hanya memikirkan perusahaannya yang terancam gulung tikar.
Theo sudah menandatangani, "mana uang yang kau janjikan?" Theo menagih janji Otniel.
"Tidak perlu khawatir, aku Otniel Jasson selalu menapati janji. Kau mau cek atau uang tunai?" Tawar Otniel.
"Terserah kau, hmm.. berapa banyak yang kau berikan?" Tanya Theo penasaran.
Otniel membuka laci lemari dan mengeluarkan amplop coklat, Otniel memanggil asistennya dan menyerahkan amplop itu padanya.
"Berikan ini pada tuan Alexander." Perintahnya pada asisten itu.
Asisten mengangguk, berjalan mendekati Theo dan menyerahkan amplop coklat berisi uang tunai. Theo tersenyum, membuka dan mengintip isi amplop itu. Matanya terbelalak, uang yang di berikan Otniel sangat banyak. Lebih banyak dari dugaannya.
"Wow, kau orang yang baik tuan Jasson. Aku terima pemberianmu, ini lebih dari cukup. Jika sudah selesai, boleh aku pergi?" Tanya Theo, wajah Theo begitu bahagia.
"Silahkan," jawab Otniel tersenyum palsu.
"Silahkan menikmati hidupmu dari balik jeruji besi, Theo!" Dalam hati Otniel.
Theo pergi, dia benar-benar tidak peduli pada Jesika dan Sarah anaknya. Setelah mendapat apa yang diinginkannya, dengan mudahnya pergi. Asisten menatap Otniel, Otniel mengangguk di ikuti si asisten. Asisten mengikuti Theo dari berlakang.
"Apa ini, lapaskan aku! Lepas!" Theo berteriak di luar ruangan.
Jesika menatap Otniel, "apa itu?" Tanya Jesika.
"Demi kebaikanmu dan Sarah, aku mengirim Theo ke penjara. Aku melaporkan kejahatannya, juga penganiayaan yang dia lakukan padamu." Jawab Otniel.
Otniel pergi melihat keadaan diluar ruangannya. Jesika meletakan berkas yang dibawanya di meja kerja Otniel. Jesika mengikuti Otniel, berjalan dibelakang Otniel, ingin tahu juga apa yang terjadi.
Diluar ruangan, Theo meronta-ronta dan terus mengatakan ingin dilepaskan.
"Lepas,"
"Lepas,"
"Lepas, lepaskan aku bodoh!" Teriaknya yang terus meronta-ronta.
"Aku adalah orang terhormat, jangan mempermalukan aku." Kata Theo.
"Orang terhormat?" Sahut Otniel yang sudah berdiri di belakang Theo.
"Aku tidak ada waktu mengurusimu, aku hanya melempar umpan dan kau yang datang sendiri padaku. Apa salahku?" Otniel bertanya balik.
"Kau? Brengs*k, kau berani menipuku huh?" Theo mengumpati Otniel.
"Kaulah yang brengs*k disini. Kau sendiri yang membuat dirimu dalam masalah, kau pantas menerima ini." Kata Otniel.
Asisten menyerahkan kembali uang yang tadi dipagang oleh Theo pada Otniel. Otniel menerima dan tersenyum, "mendapatkan uang dariku tanpa bekerja? Jangan harap!" Otniel menatap dingin kearah Theo.
Theo melebarkan mata, "kau? Licik sekali, kau Pembohong!" Maki Theo pada Otniel.
"Pembohong? Aku berbohong untuk meringkus seorang yang jahat sepertimu. Seorang yang keji dan tidak berperasaan, nikmati waktumu di dalam penjara." Bisik Otniel di telinga Theo.
Theo mengertakan gigi menahan amarahnya. Theo melihat Jesika, Theo memanggil Jesika.
"Jesika, sayang, tolong aku. Maafkan aku, aku mohon tolong aku." Theo memohon.
Jesika hanya diam, Theo terus merengek. "Hubungi Kenneth, katakan padanya aku butuh bantuannya untuk melawan orang brengs*k ini." Imbuh Theo mantap Otniel.
Otniel diam menatap Jesika, Jesika mengambil napas dan menghembuskan perlahan. Jesika menatap tajam ke arah Theo.
"Jesika, jawab aku. Kau mencintaiku kan? Lakukan sesuatu untukku Jesi. Aku juga mencintaimu." Theo terus mendesak Jesika.
Jesika mendekati Otniel, meminta Otniel menggendong Sarah. Otniel menggendong Sarah dan mundur beberapa langkah, Otniel memeluk Sarah.
Jesika mendekati Theo, menatap Theo. Theo tersenyum, "Jesika sayang, tolong bantu aku, aku sangat mencintaimu." Theo seakan percaya jika Jesika akan menolongnya.
Plakkkkk..
Tamparan keras mendarat diwajah Theo.
"Cinta? Aku sudah tidak mnecintaimu lagi saat aku pergi meninggalkanmu. Kau pria paling menjijikan yang aku kenal. Kau memperlakukanku sebagai mainanmu, melayanimu seperti budakmu! Dimana rasa cintamu saat itu huh?" Bentak Jesika.
Otniel menatap seketarisnya, Otniel meminta sekertarisnya menjaga Sarah di dalam ruangan. Sekertaris mengangguk, menggendong Sarah dan masuk dalam ruangan kerja Otniel. Otniel tidak ingin Sarah mendengar hal-hal buruk, Otniel juga ingin membantu Jesika.
Otniel mendekati Jesika, "sudah cukup! Jangan buang tenagamu lagi, biarkan pengadilan yang menghukumnya dengan setimpal." Kata Otniel menarik Jesika menjauh dari Theo.
"Jesika, apa ini? Kalian?" Theo akhirnya menyadari sesuatu.
"Tuan Richold, anda bisa membawanya sekarang. Asisten saya akan ikut dengan anda untuk menyerahkan bukti kejahatan Theo Alexander. Dan terima kasih, anda sudah berkenan membantu saya." Ucap Otniel, menatap kepala polisi.
"Tidak perlu sungkan pada saya. Hubungi saya jika diperlukan, kami permisi." jawabnya.
Theo akhirnya di bawa ke kantor polisi untuk selanjutnya di proses. Asisten Otniel ikut serta, membawa barang bukti yang di perlukan untuk menjerat Theo dalam jeruji besi.
__ADS_1
Otniel mengajak Jesika masuk dalam ruangan. Melihat Otniel dan Jesika datang, sekertaris berdiri dan memindahkan Sarah dari gendongannya kepada Jesika.
"Terima kasih," kata Jesika.
"Sama-sama nyonya, saya permisi." Sekertaris pergi meninggalkan ruangan.
Jesika duduk, memangku Sarah. Jesika memeluk sarah. Otniel menuang air minum untuk Jesika, memberikan pada Jesika.
"Minumlah," kata Otniel.
Jesika menerima dan meminum air dalam gelas dengan sekali tegukan. "Thanks, Otniel. Aku lega, akhirnya aku bebas sekarang." Jesika tersenyum cantik, meletakan gelas di atas meja.
"Theo sudah tanda tangan suratnya?" Tanya Otniel.
Jesika mengangguk, " ya.. sudah, aku memintanya tanda tangan. Mendengar uang dia tidak bisa tahan dan langsung mencoret surat itu." Jawab Jesika.
"Bagus, kita urus perceraianmu secepatnya. Aku akan minta temanku mengurusnya nanti." Kata Otniel.
"Terima kasih Otniel, kau sudah membantu ku banyak hal, aku dan Sarah berhutang padamu." Kata Jesika.
"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya ingin kalian bahagia dan hidup layak. Itu saja, Theo sudah berakhir. Kini kau bisa melanjutkan kehidupanmu, menyusun rencana masa depanmu bersama Sarah." Otniel tersenyum.
Sarah terus menatap Otniel, "mmmmmmhh.. mmmmm.. mmmm.." Sarah seakan memanggil-manggil Otniel.
Otniel tersenyum, menggendong dan menciumi Sarah. "Ada apa sayang? Kau rindu padaku? Pada paman yang tampan ini, huh?" Kata Otniel yang langsung memeluk Sarah.
Sarah merasa senang saat bersama Otniel, Jesika tersenyum melihat Otniel dan Sarah.
"Pemandangan yang indah." Ucap Jesika dalam hatinya.
Hari itu akhir pekan, hanya sedikit karyawan yang mengambil lembur. Maka dari itu Otniel meminta Theo datang ke kantor dan merencanakan semuanya bersama sekertaris dan asistennya. Rencananya berhasil, Jesika dan Sarah kini sudah aman sepenuhnya.
@@@@@... @@@@@...
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau berkunjung dan membaca novel saya..
Jangan pernah bosan menunggu update selanjutanya ya..
Jangan lupa like,☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar..
Jangan lupa berikan vote juga ya..
Kunjungi juga di novel saya yang lain. Dengan judul,
•Lelaki Bayaran Amelia
•Pelukan Hangat Paman Tampan
•Pangeran Es Jatuh Cinta
(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)
•Oh My Husband
•Pangeran Vampir
•Pangeran Vampir 2 (SEASON 2)
•Vampir "Sang Abadi"
•Dendam Permaisuri Kepada Kaisar
•Cinta Lama Yang Datang Kembali
•Mommy And Daddy (CLYDK 2)
•Darren & Karren (Perjalanan Cinta) CLYDK SEASON KE 3
Jangan lupa like, ☆☆☆☆☆ dan isi kolom komentar.. vote juga dong..
Terimakasih..
Untuk pembaca yang ingin join grup FB/WA silahkan..
Untuk yang ingin follow ig saya juga silahkan..
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
Bye bye..
Salam hangat,
__ADS_1
"Dea Anggie"