
Mereka masih sabar menunggu akan kehadiran Reyhan. Sampai detik ini, orang yang terus dinanti tak kunjung menampakkan dirinya.Mereka juga sudah berusaha untuk menghubungi Reyhan, namun hasilnya nihil. Dimana dia sebenarnya?
Mama Ratih tertekun sambil meramas rok panjang yang dikenakannya. Hatinya sekarang campur aduk, antara khawatir dan malu.
Mawar berjalan bolak-balik dan sesekali memperhatikan waktu pada jam tangan yang dikenakan.
"Gimana ini Nyonya Ratih? apakah kami harus terus menunggu? dimana sebenarnya Reyhan?" ucapan dengan intonasi yang terbilang tinggi. Sepertinya kesabaran Hendra mulai menipis.
"S-saya juga tidak tahu d-dimana keberadaan Reyhan."Ucap Mama Ratih terbata-bata karena takut membuat Hendra dan Mala menatap tajam.
BRAK
"Apa maksudnya ini,Nyonya?"tanya Mala mengerutkan dahinya.
"Apa kalian semua mempermainkan kami?!"suara Hendra kian membesar. Sorot matanya menatap murka pada calon besannya itu.
"Pa, turun kan nada bicara Papa sama Mamanya Reyhan..."lirih Mawar.
"Tidak,Tuan. Kami tidak pernah berniat untuk mempermainkan hubungan ini." Tidak dapat dipungkiri, bulir air mata pun mengalir deras membasahi pipi Mama Ratih.
"Halah,alasan!!"tidak menggubris teguran dari Mawar, Hendra malah makin membesarkan suaranya.
BRAKK
Pintu dibuka dengan kasarnya. Terlihat Reyhan yang uring-uringan berjalan sempoyongan. Penampilannya sangat berantakan, jauh berbeda sebelum pergi bekerja.
"Kamu dari mana aja,Nak?"tanya Mama Ratih sambil menggoyang-goyangkan tubuh sang putra berdiri sempoyongan seakan tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
"Tidak penting!"jawab Reyhan membentak. Ya, Reyhan saat ini dalam keadaan mabuk, oleh karena itu apapun yang keluar dari mulutnya masa bodo.
__ADS_1
Reyhan kemudian beralih menatap wanita yang digadang-gadang akan segera menjadi istrinya.
"Gimana Mawar, ayo cepat kita bahas pernikahan kita...ayo...." ucap Reyhan sambil tertawa melingking.
Kedua orang tua Mawar geleng-geleng kepala melihat perilaku Reyhan yang jauh dari kata waras.
PLAK
Tamparan kini mendarat sempurna pada salah satu pipi Reyhan. Mama Ratih menatap murka pada putranya itu.
"Ahahaha tampar lagi dong, masih kurang nih!!"pekik Reyhan meranyau.
Reyhan saat ini masih berada di bawah kesadaran, sampai-sampai nyalinya sangat besar.
"Ayo Mawar, kapan kita akan menikah? sekarang juga bisa!" ucap Reyhan diikuti dengan tawa yang mengelegar.
"Setelah menikah, akan ku talak dirimu ahahaha"ranyau Reyhan.
"KURANG AJAR!!" teriak Hendra sudah muak melihatnya.
BRUKKK
"TIDAK!"teriak Mama Ratih dan Mawar secara bersamaan.
"Uuhhh"lirih Reyhan usai mendapat tinjuan dari Hendra.
Badannya terpental sekitar satu meter dari tempatnya berdiri meninggalkan lebam pada wajah usai mendapat hantaman yang cukup keras tersebut.
"Reyhan..."lirih Mawar langsung menghampiri Reyhan.
__ADS_1
Mawar mengulurkan tangannya untuk membantu pria yang dicintainya itu berdiri.
Belum sempat dibalas Reyhan uluran tangan yang diberikan oleh Mawar, Hendra langsung menarik tangan sang putri.
"Ayo pulang,Mawar! tidak usah kita berhubungan lagi dengan keluarga ini!"ucap Hendra sambil menarik tangan Mawar diikuti dengan langkah kaki menuju keluar.
"Lepaskan!"Mawar menepis tangan sang ayah.
"Apalagi yang kamu mau Mawar? pria itu tidak pantas untuk mu!"jelas Mala penuh penekanan.
"Aku mencintainya,"ungkap Mawar. Sepertinya ia sudah terlalu dalam jatuh ke dalam nirwana cinta.
"Kamu udah dibutakan dengan cinta, sadarlah Mawar!"ucap Hendra.
"Papa tidak akan mengizinkan kamu untuk menikah dengan pria seperti ini. Papa kecewa sekali dengan Reyhan!"Jelas Hendra.
"Tidak Pa,tidak!"tangis Mawar pun pecah.
"Kenapa rumah ini sangat bising sekali? pergilah kalian semua!"celetuk Reyhan yang masih berada dibawah pengaruh obat terlarang.
"Ayo kita pulang Mawar,"Hendra menarik paksa tangan sang anak.
Mama Ratih langsung berlari menghampiri calon besannya itu.
"Jangan putuskan hubungan ini,Tuan. Anak saya dalam pengaruh obat, oleh karena itu dia berbicara sesuka hatinya.."bujuk Mama Ratih memohon.
"Susah cukup semua ini, Nyonya!"jawab Hendra langsung masuk ke dalam mobil tak ingin berlama-lama lagi berada disana.
Mobil pun melaju begitu cepat meninggalkan kediaman Reyhan. Pupus sudah angan-angannya menikahkan Reyhan dengan wanita pilihannya.
__ADS_1