
Sudah cukup banyak bunga-bunga yang beraneka ragam pilihan terbaik Yuli untuk kakaknya.
"Udah cukup," ucap Yuli menuntaskan pilih memilih bunga.
Reyhan hanya menganggukkan kepala mengerti dan tinggal membayar belanjaan mereka.
Mereka pun bersiap untuk pergi menuju lokasi tempat dimana acara anniversary itu akan berlangsung.
Mereka melangkah kan kaki keluar dari toko bunga sambil menenteng belanjaan yang tadi dibeli.
"Eh bentar dulu deh, kamu ngerasa gak sih,kalau ada yang kurang?" Yuli menghentikan langkahnya sejenak dan berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Benarkah?" Reyhan kemudian membongkar barang belanjaan yang dipegangnya.
"Apa yang kurang, Nona?"tanya Reyhan menampilkan hasil belanjaan mereka.
"Bukan itu yang ku maksud."Ucap Yuli membuat Reyhan mengeriyitkan dahinya.
"Terus apaan dong?"tanya Reyhan menggaruk-garuk kepala bingung.
"Ya gak tau, coba kamu bantu mikir deh."Sahut Yuli. Reyhan pun ikut berpikir.
Tidak lama berselang mereka saling pandang.
"Amang!" seru keduanya bersamaan.
Sudah cukup lama Amang pergi membeli seblak, namun pria itu tidak kunjung datang juga.
Reyhan dan Yuli pun kini harus menunggunya.
"Dia itu beli seblak atau tukang seblaknya sih? lama banget!"gerutu Yuli frustasi menunggu Amang.
"Bagaimana kalau kita duluan saja? saya bisa memesankan taksi online."Reyhan menawarkan cara lain. Ia juga cukup lelah menungu kehadiran Amang yang sedari tadi tidak memunculkan tanda-tanda kehidupan.
"Ya sudah pesan saja,"ketus Yuli merasakan teriknya matahari yang menyengat kulit putih mulusnya.
Reyhan kemudian merogoh ponselnya untuk memesan taksi online. Baru saja membuka ponsel, tiba-tiba mobil berhenti tepat di hadapan mereka.
"Nona ngapai panas-panasan disini? entar item loh." Ucap Amang membuka kaca mobil.
Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Untung saja Reyhan belum sempat memesan taksi.
"Berisik!"ketus Yuli membuka pintu mobil dan langsung masuk.
Reyhan pun juga langsung masuk.
"Dari mana aja sih kamu Mang?" tanya Reyhan mengintrogasinya.
"Tau nih lama banget, kayak pejabat aja kamu ditungguin sama kita!"celetuk Yuli memutar bola mata malas.
Amang meresponnya dengan nyengiran kuda, "ya maaf antriannya panjang banget," jujur Amang lalu memberikan bungkusan makanan berisi seblak.
Yuli yang awalnya kesal kembali menampilkan senyum usai disodorkan sebungkus seblak. Ia langsung melahap makanan favoritnya itu.
Kedua pria itu tersenyum melihat tingkah Yuli yang bikin greget tersebut.
"Ngapain kalian liatin aku?"Yuli menangkap basah lirikan mata kedua pria itu.
"Jalan dong!"perintah Yuli.
Amang pun menjalankan mobilnya menuju lokasi tempat dimana nantinya akan diadakan acara.
Tidak berselang lama, akhirnya mereka tiba juga.
"Pantai?" tanya Yuli menatap heran dengan lokasi yang dipilih kakaknya.
"Iya, pantai.Bos yang menginginkannya." Ucap Reyhan memperjelas.
"Emangnya kenapa Nona?"tanya Amang.
"Kurang setuju aja sih sama tempatnya, takutnya pas lagi romantis-romantisanya, eh malah terbawa ombak hahaha"jawab Yuli asal sambil tertawa.
__ADS_1
"Astaghfirullah," ucap Reyhan mengelus dada.
"Ya udah ayo kita dekor nih tempat,"ajak Yuli mengeluarkan isi belanjaannya.
Dekorasi tersebut didominasi oleh tangan-tangan kreatif Yuli. Ia menghiasinya dengan semaksimal mungkin.
"Han, siniin lagi bunganya."Titah Yuli yang masih sibuk menata-nata letak bunga agar terlihat estetika.
Reyhan mengambil beberapa bunga,"ini,Nona."
Yuli mengambilnya.
"Jangan panggil Nona, aku tidak nyaman dengan panggilan itu." Pinta Yuli tidak nyaman dengan nama Nona yang disematkan mereka untuknya.
"Terus mau dipanggil apa?"tanya Reyhan.
"Terserah kamu," jawab Yuli.
"Sayang?"ucap Reyhan asal.
Yuli mengerutkan dahinya, "Enggak gitu juga kali!" Tolak Yuli mentah-mentah panggilan tersebut.
"Iya, becanda kok.Saya tahu batasan kita. Kamu pasti masih merasakan luka karena aku kan?" Reyhan menatap intens pada lawan bicaranya itu.
"Enggak kok, biasa aja."Elak Yuli menatap kesembarang arah untuk menghindari tatapan dari Reyhan.
Reyhan tersenyum getir, "Kamu bisa bilang kayak gitu, tapi aku melihat kebenaran dari mata mu." Reyhan menjeda sejenak perkataannya.
"Aku hanyalah lelaki pecundang yang tidak pantas untuk dicintai. Tidak bisa memperjuangkan seorang wanita yang dicintai. Aku sadar diri kok, aku harap kamu dapet seorang laki-laki yang bertanggung jawab." Reyhan mencurahkan isi hatinya yang paling dalam.
"Sudahlah Han, kamu jangan bahas itu lagi." Ucap Yuli. Ia tidak ingin kembali menangis lagi.
Pada lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Reyhan. Tapi butuh waktu untuk kembali menerimanya kembali.
"Ayo kita selesaikan pekerjaan ini," ajak Yuli mengalihkan topik pembicaraan.
Sekitar 2 jam mereka bertiga mendekorasi tempat tersebut.
"Akhirnya sudah selesai juga," Yuli nampak puas dengan hasilnya.
"Oke, aku pergi duluan ya, ada janji sama temen-temen." Ucap Yuli usai melihat waktu pada jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Mau diantar?" Amang menawarkan.
"Gak usah, aku udah dijemput kok sama temen-temen."Tolak Yuli dan langsung berlari-lari kecil keluar dari area pantai.
"Nona, jangan lupa jaga hati ya!"teriak Amang.
"Bado amat!" sahut Yuli dari kejauhan.
Reyhan menepuk pelan pundak Amang, "Udah jangan suka ngarep pada cinta yang tidak pasti."
"Elah sok-sokan nasehatin, kamu juga naksir kan sama Nona?"tuding Amang membuat bungkam mulut Reyhan.
Reyhan dan Amang membereskan sisa-sisa dekorasinya. Usai beres dan tertata rapi, mereka bersiap untuk pulang.
"Bos bilang, Nyonya akhir-akhir ini menyukai warna hijau,bukan?"tanya Amang memastikan.
"Iya, benar." Angguk Reyhan.
"Tapi disini sama sekali tidak ada satu pun dekorasi berwarna hijau."Janggal Reyhan yang baru menyadarinya.
"Ya sudah aku akan menelpon Nona lagi," Amang merogoh ponselnya untuk menelpon Yuli.
"Eh tidak usah, Nona pasti sangat lelah." Reyhan tidak menyetujui usulan dari Amang.
"Ini permasalahan yang sepele, kita pasti bisa menyelesaikannya." Ucap Reyhan meyakinkannya.
Tidak terasa malam yang ditunggu-tunggu pun datang.
Dinda mengenakan dress merah marun yang baru dibeli oleh suaminya. Tidak membutuhkan banyak polesan pada muka, wajah Dinda memang sudah cantik dari sananya.
__ADS_1
Awalnya Dinda juga melupakan hari ini. Dia baru sadar pada saat Deniel mengabarinya. Pasangan koplak bisa-bisanya mereka melupakan hari spesial ini!
"Gak nyangka satu tahun pernikahan," batin Dinda masih tidak percaya.
Dinda ingat betul dengan Deniel yang dulu sering dijulukinya dengan "Pak Duda" kini telah menjadi suaminya.
Sepanjang jalan, senyum Dinda terus saja merekah karena bahagia. Begitu pun dengan Deniel.
Mereka telah tiba di lokasi yang sudah ditentukan.
Baru saja turun dari mobil, mereka disambut dengan hamparan kelopak bunga mawar.
"Waw," hanya itulah kata yang keluar dari mulut Dinda. Ia tidak bisa berkata-kata lagi melihat kejutan dari sang suami.
"Ini hanya permulaan, ayo kita kesana." Ucap Deniel menarik lembut tangan Dinda untuk menggandeng tangannya.
Perlahan mereka berdua berjalan diatas hamparan kelopak bunga mawar bak sepasang model diatas catwalk.
Langkah Dinda terhenti.
"Ada apa?"tanya Deniel melihat sang istri yang terdiam.
"Apa-apaan ini?"tanya Dinda menunjukkan banyaknya rumput-rumputan liar yang kini menghiasi sekitar area mereka berjalan.
Yang awalnya bertabur bunga, kini digantikan dengan rumput liar yang sama sekali tak enak untuk dipandang.
Deniel pun ikut mengeriyitkan dahinya.
"Kamu anggap aku sapi?"tanya Dinda menatap tajam.
"E-engak," takut Deniel saat melihat tanduk tak kasat mata sang istri mulai naik.
"Bukankah kamu akhir-akhir ini menyukai tanaman berwarna hijau?" tanya Deniel memastikan.
Plak
Dinda menepuk lengan Deniel. Mukanya merah padam karena marah.
"Iya aku suka tanaman hijau, tapi bukan rumput liar ini! harusnya tanamannya itu seperti janda bolong, lidah buaya, atau apalah itu!" jelas Dinda.
"Iya-iya maaf deh," ucap Deniel takut.
"Sial sekali aku mempercayakan hal ini pada kedua asisten itu!"batin Deniel menggerutu.
Tidak jauh dari tempat, Yuli, Reyhan,dan Amang sedang memperhatikan momen itu dari kejauhan.
"Kenapa jadi berantem ya?" tanya Yuli penasaran.
"Entahlah, saya rasa pasangan itu tidak pernah ada romantis-romantisnya." Duga Reyhan.
"Hhmm seperti sih gitu," sambung Amang.
"Enak aja, mereka itu sebenarnya pasangan yang romantis.Tapi...ya gitu deh." Ucap Yuli tak habis pikir dengan pasutri tersebut.
Reyhan dan Amang cekikikan tertawa melihat tingakah Deniel dan Dinda tersebut.
"Bisa diem gak sih! entar kita ketahuan nih!"tegur Yuli sebal.
Reyhan dan Amang sontak menutup mulut untuk tidak mengeluarkan tawa lagi.
"Itu juga, kenapa Kak Dinda nenteng-nenteng rumput liat? bukankah kita tadi tidak menaruh rumput liar di sana?" Yuli menatap pada kedua pria yang bungkam seribu bahasa itu.
"Kalian yang melakukannya ya?!" duga Yuli.
"Iya, Nona."Jawab Reyhan.
Yuli sontak saja menghembuskan nafasnya kasar.
"Kacau-kacau! apa yang kalian lakukan!"kesal Yuli menjitak kepala kedua pria itu.
"Aduh,"ringis Reyhan dan Amanh secara bersamaan.
__ADS_1
"Ini juga perintah dari Bos, Bos mengatakan kalau Nyonya akhir-akhir ini menyukai tanaman hijau."Tutur Amang memperjelas.
"Iya, tapi bukan modelan rumput kayak gitu!" kesal Yuli menyilang kan kedua tangan didepan dada.