Suami Pengganti

Suami Pengganti
Bagian 99


__ADS_3

Di dalam butik, Yuli terus saja menggerutu kesal. Mulutnya terus saja mendumel pelan. Reyhan yang sedari tadi melihatnya geleng-geleng kepala disertai senyum.


"Yul, model kebaya yang mau kamu pesan kayak gimana?" tanya Reyhan mengajak wanita itu untuk mengobrol.


"Nih," Yuli menunjukkan foto kebaya yang dipilihnya pada Reyhan.


Mata Reyhan seketika membulat sempurna. Ia kaget dengan model kebaya yang dipilih Yuli.


"Kamu yakin dengan model ini?" tanya Reyhan masih tak percaya dengan selera Yuli.


Kebaya berwarna ungu-ungu janda tersebut dengan paduan batik membuat Yuli pasti nampak cantik jika digunakan pada tubuhnya yang putih itu.


Namun bukan itu masalahnya. Reyhan memprotesi model kebaya yang sangat menampakan buah dada Yuli tersebut.


"Ya yakin lah, cantik kan aku kalau pakai kebaya model ini?" ucap Yuli tidak merasa aneh dengan model kebaya yang dipilihnya.


Reyhan menghela nafas, "Aku tidak terlalu setuju dengan model ini, terlalu menampakan buah dada."


Reyhan menolaknya disertai alasan. Ia tidak ingin lekuk tubuh wanita yang dicintainya menjadi tontonan banyak orang.


"Dih ngatur!" celetuk Yuli.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, kamu mau emangnya jadi tontonan banyak orang? ya namanya juga laki-laki nafsunya pasti akan muncul jika melihat yang aneh-aneh," ucap Reyhan meyakinkan.


Reyhan layaknya ustad dadakan yang sedang menceramahi jemaahnya.


Yuli sejenak termenung sambil mencerna ucapan pria yang ada di hadapannya itu.


"Benar juga sih apa yang dibilang Reyhan," guman Yuli.


"Ya kalau buah hati gak papa dipamerin, tapi kalau buah dada pas udah halal aja yah sama aku," Reyhan melanjutkan kalimatnya sambil melirik Yuli yang sempat termenung diikuti senyum genitnya.


Yuli yang tadinya sempat terenyuh dibuatnya langsung menoyor dengan keras kepala Reyhan.


"Pokoknya aku mau pakai kebaya ini!" tegas Yuli penuh penekanan dengan sorok mata tajam pada lawan bicaranya itu.


"Aku kan udah bil....."


"Kamu bukan siapa-siapa aku! stop ngatur! anggap aku adik bos kamu!" intonasi Yuli meninggi untuk mempertegas batasan antara dirinya dan Reyhan.


Reyhan diam sejenak,"masih layakkah Yuli aku perjuangkan?"


Reyhan membatin meragukan keputusannya usai mendapat penolakan halus dari Yuli. Yuli seperti sudah menutup rapat-rapat hatinya untuk Reyhan. Aahhh sudahlah cinta yang sangat membangongkan.

__ADS_1


Tepat pukul 3 sore, mereka sudah keluar dari butik dan kini masih menunggu kehadiran Dinda dan Gio yang tidak menunjukkan batang hidungnya.


"Benar-benar ngamen nih mereka!" gerutu Yuli asal. Yuli masih mencoba menelpon kakak iparnya itu namun selalu tidak aktif.


"Coba telpon," ucap Reyhan memberikan solusi.


"Kamu gak liat dari tadi aku nelpon Kak Dinda?!" kesal Yuli.


"Oh iya maaf," jawab Reyhan cengengesan sambil menggaruk leher belakang.


Sedari siang tadi Reyhan sepertinya menjadi pusat emosi bagi Yuli. Apa pun ucapan ataupun tindakan Reyhan selalu salah dimatanya. Hhmm dasar wanita!


Tidak lama, sebuah notif menggetar tas kecil milik Yuli. Ia kemudian membuka notif tersebut.


"Udah pulang duluan aku, susah nih Gio rewel mulu."


Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Dinda. Usai membacanya, Yuli memasukan ponsel dengan kasarnya.Ia mendengus masih dengan kekesalan.


"Ada apa?" tanya Reyhan melihat ekspresi kesal Yuli yang makin menjadi-jadi bak gunung berapi yang hampir meletus.


"Yok anter aku pulang!" tak menjawab, Yuli langsung menuju parkiran.

__ADS_1


__ADS_2