
Anwar menatap adik sepupunya itu dengan heran, sudah beberapa menit ia hanya diam tak mengoceh seperti biasa jika bertemu.
"Vi," panggil Anwar.
"Hmm"
"Kamu ngapain ngajak kakak ketemuan, ujung ujungnya cuman di suruh liatin kamu bengong." Vivi merasa tersindir.
"Huufft," Vivi menghembuskan nafas dengan kasar. "Aku tu lagi kesel sih sebenernya kak" ucapnya kemudian.
"Kesal sama siapa, coba cerita.."
"Aku tu kesel sama.." terhenti sejenak saat pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka.
Anwar mengerutkan keningnya, "sama siapa Vi" Anwar mulai penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan orang yang selama ini menjadi incaranku kak" ucap Vivi dengan nada kesal.
"Memangnya kamu ada hubungan apa sama dia,"
"Ya aku suka sama dia lah kakak!!" Vivi mulai geram melihat tanggapan kakak sepupunya itu.
"Kamu itu kan tahu, kalau dia sudah berisitri. Kamu mau jadi pelakor?"
Vivi yang mendengar dirinya di sebut pelakor langsung menatap tajam ke arah Anwar, sementara Anwar malah menikmati makannya dengan nikmat.
"Kok kakak ngomongnya gitu sih ke Aku, bukannya kakak itu juga calon pebinor?"
Begitu mendengar dirinya disebut pebinor, Anwar langsung tersedak tulang ikan bakar yang ia makan.
Dengan segera Anwar meraih gelas jusnya, sementara Vivi malah terkekeh melihat reaksi kakak sepupunya tersebut.
"Benerkan yang Aku katakan?" Sambungnya kemudian.
"Kamu ini, sembarangan kalau ngomong." Anwar berusaha mengelak ucapan Vivi.
"Alah, ngaku aja lah kak!" Vivi mencibir. "Oh ya, bagaimana dengan Mona kak, apakah dia bekerja dengan baik" tanya Vivi yang langsung teringat dengan orang suruhannya.
"Dia baru bekerja di hari pertama aja sudah bikin masalah" ucap Anwar.
"Hahaha, bagus dong!" sanggah Vivi.
"Bagus? maksud kamu?" Anwar malah memicingkan matanya menatap reaksi Vivi yang mencurigakan.
"Eh, bukan maksud apa apa kok kak. Nanti Aku tegur dia deh." Vivi tak ingin rencananya ketahuan oleh kakak sepupunya. Walaupun ia tahu betul bahwa Anwar menyukai Istri dari laki laki yang dia sukai, ia tak ingin Anwar mengetahui tindakan yang akan Vivi lakakukan nantinya.
"Rencana kakak apa selanjutnya," tanya Vivi setelah ia meneguk habis minumannya.
"Rencana untuk apa?"Anwar malah bingung dengan Vivi.
__ADS_1
"Nggak usah pura pura nggak tahu lah kak. Wanita idaman kakak itu kan akan pergi berbulan madu." Vivi menjelaskan apa yang menjadi kebingungan kakaknya.
"Kamu mau ikut?" tanya Anwar kemudian.
Vivi mengerutkan alisnya, "ikut ngapain?"
"Bulan madu dong." Jawab Anwar.
"Hahaha, ya jelas dong kakakku sayang. Mana rela Aku melihat mereka bermesraan berdua."
Anwar menyunggingkan senyumnya. Ternyata ia dan Vivi Satu tujuan, dan sejalan. Cocok.
"Kalau begitu, apa kamu sudah mengatur rencana untuk disana?" Anwar terlihat senang bahwa rencananya akan terbantu oleh Vivi.
"Sudah dong kak," ucap Vivi dengan bangga.
"Bagus deh kalau begitu, kakak tinggal melengkapinya saja."
"Tepat sekali!" Vivi menjentikkan jarinya dengan senyum yang mengembang.
"Kakak sudah menghubungi teman kakak yang berada disana," lanjut Anwar.
"Itu bagus kak, Akupun melakukan hal yang sama."
"Kalau begitu, kakak akan segera pulang. Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan Vi?" Anwar mulai menegakkan tubuhnya.
Setelah selesai membayar makanan, mereka berpisah di halaman parkir.
Setelah dalam perjanan, Vivi tak henti hentinya menyunggingkan senyumnya. Karena ia sudah sangat yakin dengan rencananya kali ini.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 Wib, orang tua Mika baru saja masuk ke dalam kamar setelah puas mengobrol dengannya dan juga suaminya.
Mika dan Aji pun memasuki kamar mereka, "bagaimana menurut kamu Mi," tanya Aji ketika mengingat pembahasan saat sedang makan malam.
"Kamu tahu sendirikan Pa, Aku belum menginginkannya." Mika menaiki tempat tidurnya dan disusul oleh Aji.
"Tapi, kasihan mereka Mi. Mereka sudah waktunya menggendong cucu,"
"Kamu gimana sih Pa, kemarin kamu setuju aja untuk menunda, sekarang kok malah jadi ikut ikutan" Mika mulai kesal dengan omongan suaminya.
"Setelah Aku pikir pikir, ada baiknya sih Mi." Ucap Aji sambil menoleh kearah Mika yang berbaring menghadap dirinya.
"Pokoknya Aku belum mau Pa, umur juga belum tua tua amat!" sanggah Mika.
"Hah, capek Aku debat sama kamu Mi. Nggak pernah mau dengerin omongan suami!"
Aji membalikkan badan menjadi memunggungi Mika, sedangkan Mika malah memunggungi balik. Ia memang sulit untuk mengalah.
__ADS_1
Setelah perdebatan itu ditutup, merek mulai melelapkan diri berbaur dengan alam mimpi.
Keesokkan harinya, Mika sudah selesai menyiapkan sarapan bersama ibunya. Mereka langsung duduk di kursi masing masing.
"Jam berapa kalian berangkat kerja Mi," tanya bu Dina.
"Biasa jam 07:15 bu, nggak apa apakan kalau ibu sama ayah berdua tinggal di rumah." Ucap Mika.
"Nggak apa apa, nanti ibu sama ayah biar jalan jalan aja supaya tidak bosan dirumah menunggu kalian pulang." Terang bu Dina.
"Kalau ada apa apa, ayah sama ibu langsung telepon Aji atau Mika ya," Aji menatap kedua mertuanya tersebut.
"Iya Ji, pasti ayah akan telepon." Sambung oak Rizal.
Setelah selesai sarapan, Mika dan Aji berpamitan.
"Yah, bu, kami berangkat dulu ya" Mika menyalami kedua orang tuanya, setelah itu baru kemudian Aji yang menyalami.
"Iya, hati hati dijalan, kalau kerja hati hati dan teliti." Pesan ibu kepada keduanya. Dan mereka menganggukan kepala bersamaan.
Usai berpamitan, mereka kemudian berangkat seperti biasa. Hingga sampai ditempat kerja masing masing.
Aji sedang fokus dengan dokumen dokumen yang ia kerjakan agar bisa cepat selesai dan tidak menumpuk ketika ia tinggalkan nanti.
Sementara di ruangan Vivi, ia sedang duduk menatap layar komputernya tanpa mengerjakan apa apa. Bos mah bebas!
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruangannya, dan Vivi langsung mempersilahkan masuk.
Bagas datang membawa beberapa berkas yang perlu ditanda tangani oleh Vivi. Setelah selesai membubuhkan tanda tangan, ia menyuruh Bagas kembali keruangannya.
Setelah Bagas kembali keruangannya, ia segera melanjutkan pekerjaannya. Hingga selesai semua dengan rapi.
……
"Mau kemana kita bu," setelah melajukan mobilnya kejalan raya pak Rizal bertanya kepada istrinya.
"Ke... tempat Mika saja yuk yah, belanja baju disana" usul bu Dina setelah berfikir sejenak.
"Boleh juga, ya udah kita langsung kesana."
Pak Rizal melajukan kendaraannya menuju tempat Mika bekerja, bu Dina mengamati jalanan yang mereka lewati tersebut.
"Pak berhenti sebentar," ucap bu Dina tiba tiba.
"Ada apa sih bu, mana bisa kita berhenti langsung begini." Pak Rizal memelankan mobilnya dan mulai menepi.
Setelah mobil berhenti, bu Dina segera turun dan meninggalkan suaminya yang belum keluar dari mobil.
"Bu, tungguin" teriak pak Rizal dari dalam mobil.
__ADS_1