
Ting nung ting nung ting nung.
Suara bel terdengar begitu nyaring di telinga Vivi. Ia sedang tertidur nyenyak menjadi terganggu karena suara itu. Vivi menyipitkan mata dan kemudian meregangkan otot-ototnya. Baru setelahnya ia keluar kamar untuk melihat siapa gerangan yang menganggi tidur siangnya.
''Bibik kemana sih, ada tamu nggk di bukain pintu!'' gerutunya sambil terus melangkah ke depan. Sesekali Vivi menggaruk rambutnya yang semrawut.
Begitu pintu terbuka, nampak lah seseorang yang asing menurut Vivi. Pria bertubuh tinggi tegap dan mengenakan jas serta celana dasar. Tak lupa, kedua tangannya tersimpan di dalam kantong celananya, lalu ia tersenyum saat melihat Vivi.
''Siapa kamu?'' Vivi menatap tajam ke arah tamunya.
''Maaf mengganggu waktu istirahat anda, apakah benar ini kediaman ibu Vivi'' tanya Pria tersebut dengan ramah.
''Pergi! pergi!'' teriak Vivi sambil mengatupkan tangannya ke kepalanya.
''Maaf, jika saya mengganggu. Saya adalah teman dari sepupu ibu, pak Anwar'' terang pria tersebut.
''Anwar? kak Anwar?'' Vivi mulai tenang saat mendengar nama Anwar. Karena itu adalah kakak sepupunya yang baik padanya.
Setelah berhasil menenangkan Vivi, pria tersebut memperkenalkan diri dan mengajak Vivi untuk ikut dengannya ke suatu tempat.
''Perkenalkan, nama saya Reynaldi'' pria tersebut mengulurkan tangannya. Tetapi, Vivi takut untuk menyambutnya.
''Tenanglah, saya ingin mengajak anda untuk ke suatu tempat. Ini permintaan dari kakak sepupu anda'' jelasnya lagi.
Vivi masih berdiam diri menatap tamunya, sampai lah bik Rumi yang baru pulang dari urusannya di luar melihat ada tamu di rumah majikannya langsung menghampiri mereka.
''Ada apa ini, non?'' tanya bik Rumi setelah ia sampai di depan pintu, ''silahkan masuk tuan'' pinta bik Rumi pada sang tamu, rasa-rasanya ia pernah melihat tamunya ini sebelumnya. Tapi, ia lupa dimana melihatnya.
Bik Rumi menuntun Vivi dan meminta sang tamu untuk duduk, lalu ia kebelakang untuk menyajikan minum.
''Maaf tuan, saya tinggal dulu sebentar''
Setelah itu, pak Reynaldi mulai kembali mengajak Vivi untuk mengobrol santai. Walaupun Vivi tidak banyak bereaksi, dan lebih banyak bengongnya. Pria tersebut tetap sabar. Hingga bik Rumi kembali dengan membawa nampan.
''Maaf, tuan. Saya tidak bermaksud lancang untuk ikut campur. Tetapi, kondisi nona Vivi sedang kurang sehat'' tutur bik Rumi dengan hati-hati.
''Saya mengerti bik, saya di utus oleh pak Anwar untuk membawa bu Vivi ke Psikiater. Bisa tolong bibik bantu?'' pinta pak Rey.
''Oh, baik tuan. Saya akan membantu nona untuk bersiap sebentar''
__ADS_1
Setelah itu, bik Rum dan Vivi ke kamar untuk berganti pakaian dan juga merapikan rambut nonanya. Bik rumi dengan telaten menyisir rambut Vivi, lalu di ikat rapi ke belakang.
Sebelum kembali ke ruang tamu, bik Rumi berinisiatif untuk menelpon pak Anwar. Ia ingin memastikan kebenarannya.
''Halo tuan, maaf mengganggu waktunya'' sapa bik Rum ketika teleponnya di terima.
''Iya bik, Rum. Apakah teman saya sudah datang, tolong temani Vivi untuk pergi berobat ya, bik'' pinta Anwar yang mengerti maksud bik Rumi menghubunginya.
''Baik tuan, saya akan temani nona''
Setelah itu, mereka pergi bersama untuk ke lokasi.
**
Sementara itu, Anwar yang baru saja selesai menjawab telepon dari rumah Vivi langsung berpamitan pada Mika. Bertepatan dengan kedatangan Bagas yang menghampiri Mika.
"Mi, aku pamit dulu ya, terima kasih sudah memberikan waktumu untuk makan bersama denganku" ucap Anwar.
"Biasa aja lah, mas. Jangan sungkan begitu"
"Selamat siang, maaf..." sapa Bagas yang baru tiba menghampiri Mika di mejanya.
''Iya mas,''
''Sampai nanti...''
Mika pun mengiyakan pertanyaan Anwar. Setelah berpamitan, Bagas dan Mika mulai membahas masalah kerjasama yang akan mereka lakukan sebelum klien mereka datang.
Di waktu yang sama
Sementara di kantor Aji sedang sibuk berperang batin. Karena ia baru saja melihat Bagas keluar dengan membawa berkas penting untuk menyusul Mika. Fikiran aneh mulai mengusai dirinya.
Bagas pasti mencari kesempatan untuk mendekatinya, mencari kesempatan untuk berduaan sama Mika. Gue nggak akan biarkan itu terjadi. Jangan mentang-mentang dia sudah tidak bersamaku, lu bisa bebas Bagas. Aku akan susulin mereka.
Aji pun bergegas untuk menyusul ke kafe moon dimana disana tempat pertemuan klien Mika bersama Bagas. Namun, di tengah perjalanan Aji mendapat telepon dari bik Rumi. Dan hal itu membuat Aji menjadi kesal dan harus menunda untuk mengawasi mantan istrinya.
''Halo, ada apa, bik?'' jawab Aji setelah menempelkan ponselnya di telinga.
''Maaf tuan, nona Vivi sedang berada di R.S xx, dan baru selesai berkonsultasi. Tuan di minta untuk datang kemari'' sahut bik Rum dengan hati-hati.
__ADS_1
''Rumah sakit??'' Aji mengulangi perkataan bik Rum.
''Iya tuan,''
''Oh, ya baiklah. Tunggu di sana, saya akan segera ke sana sekarang!'' jawab Aji kemudian, ia mengarahkan kemudinya ke tempat Vivi berada dan membatalkan rencana awalnya.
Siapa yang membawa Vivi ke rumah sakit itu, haih. Bikin repot saja. Keluh Aji.
Setelah beberapa menit kemudian, Aji sampai di lokasi. Ia pun segera menyusuri tempat di mana Vivi berada.
''Mana Vivi nya bik?'' tanya Aji saat bertemu bik Rumi.
''Ada di dalam tuan''
Aji pun menghampiri Vivi yang sedang bersama seorang dokter yang nampak sangat cantik sedang berkomunikasi dengan Vivi.
Dokter tersebut menyarankan agar Vivi di rawat di sana agar kondisinya menjadi lebih baik. Aji pun menyetujuinya. Demi kebaikan kandungan Vivi.
Momen tersebut akan di manfaatkan Aji untuk bisa menemui Mika kembali.
Sore harinya, Mika dan Bagas baru saja kembali ke kantor. Mereka langsung menuju ruangan. Aji yang melihat Keduanya masuk ke ruang kerja, ia segera menyusul Bagas dan Mika.
''Selamat sore, Mika. Ini ada yang harus kamu tanda tangani'' Aji menaruh selembar map di hadapan Mika.
''Letakkan saja di situ, nanti aku tanda tangani" jawab Mika tanpa mengalihkan tatapannya pada layar komputernya. Karena ia sedang fokus memeriksa dokumen.
"Mi, sebaiknya, kamu jangan terlalu lelah. Itu kan masih bisa di kerjakan besok lagi" Aji mencoba memberi perhatian pada Mika. Tetapi, Mika tak menanggapinya. Ia mengabaikan perkataan Aji dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Di meja yang berbeda, Bagas pun sesekali melirik ke arah Aji yang masih setia duduk mengamati Mika. Ingin rasanya ia angkat bicara agar tak mengganggu bosnya. Tetapi, ia tak punya hak.
"Mi, aku ingin kita bicara..."
"Silahkan keluar pak Aji, berkasnya nanti saya tanda tangani. Setelah selesai nanti akan Bagas antarkan ke ruangan anda!" usir Mika karena ia merasa ringam.
-
-
-
__ADS_1