
Bab 103
Hamil?
Mika baru saja selesai menanti sebuah alat yang tadi dia rendam di dalam gelas bersama urinnya. Matanya membola saat melihat ada dua garis biru di alat tes kehamilan tersebut. Ini adalah untuk pertama kalinya bagi Mika yang melihat dengan mata kepala sendiri tentang tanda positif itu di depan matanya.
Tubuh Mika tiba-tiba luruh ke lantai karena kakinya terasa lemah seperti tidak di topang oleh tulang.
Karna merasa Mika terlalu lama di kamar mandi, akhirnya Anwar menyusul sang istri ke dalam kamar mandi dan dia sangat terkejut saat melihat Mika terduduk lemah di lantai dengan muka sembabnya. Di tangannya terdapat sebuah alat tespack dan tanpa pikir panjang, Anwar langsung menggendongnya membawa ke kamar.
''Kenapa?'' tanya dokter itu saat Anwar membaringkan Mika di ranjang.
''Sepertinya dia lemas, tolong kamu periksa kondisinya,'' titah Anwar yang sangat khawatir terhadap keadaan Mika.
Setelah selesai memeriksa, dokter itu memberikan resep agar Anwar membelinya di luar. Beberapa vitamin juga di sertakan di sana.
__ADS_1
''Terimakasih,'' ucap Anwar saat mengantar temannya ke depan teras. Setelah itu dia kembali ke kamar untuk menemui Mika yang nampak masih sangat shock dengan keadaannya saat ini. Bukan dia tidak menerima pemberian sang maha kuasa yang telah di titipkan di rahimnya, tapi benih itu bukan dari orang yang dia cintai.
Air mata wanita itu terus menganak sungai seolah-olah sulit di bendung. Hati Anwar merasa pilu menatap Mika.
''Maafkan saya, Mi. Ini semua salah saya, kamu pasti tidak menginginkan hal ini terjadi kan?'' tanya Anwar sembari mengusap lembut bahu Mika. Meski posisinya menbelakangi Anwar, pria itu bisa merasakan tangis Mika yang tertahan.
''Meski pun kamu tidak mau menerima kehadirannya dalam hidupmu, paling tidak beri dia kesempatan untuk bisa melihat dunia, biarkan saya yang akan menjaganya,'' ujar Anwar lagi. Sepertinya pria itu sangat pasrah sekali.
Anwar pun keluar kamar dan meninggalkan Mika agar bisa beristirahat, pria itu memilih untuk tidur di kamar yang lain.
''Duh, laper banget." Mika mengusap perutnya.
Wanita itu pergi berjalan keluar kamar menuju ke dapur. Dia ingin makan saat ini, namun saat tiba di dapur dia tidak berselera makan makanan yang ada di sana.
''Pengen makan sayap goreng, tapi nggak mau masak sendiri,'' gumamnya. Dia pun mencari seseorang yang bisa dia suruh masak. Akhirnya Mika pergi ke kamar pembantu untuk membangunkan salah satu di antara mereka untuk masak sayap goreng.
__ADS_1
''Ada apa, Non?'' salah satu bibik bangun dan menghampiri Mika.
''Aku laper, masakin sayap goreng ya, Bik,'' rengek Mika dengan wajah memelas.
Tak biasanya Mika bersikap seperti itu membuat pelayan sedikit heran. Namun tetap di jalankan perintah sang nyonya.
Mika menunggu dengan tak sabar saat pelayan itu sedang memasak sayap ayam permintaannya. Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya makanan pesanannya pun siap di nikmati.
''Makasi ya, Bik. Sekarang tidurlah. Aku akan makan sendiri,'' ucap Mika.
Pelayan tersebut pun kembali melanjutkan tidurnya. Mika mulai menikmati makanan itu dengan lahap. Sepiring sayap ayam Mika lahap sendiri dengan di cocol sambal terasi botolan.
''Hmmm, enak!'' Mika men ji lat jari tangannya tanpa sisa. Ayam pun sudah habis dan dia kekenyangan.
Mika pun tidur kembali saat sudah kenyang, kini dia bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1